
Rania baru usai membersihkan diri, menuju ranjang yang sudah terisi suaminya tengah menanti.
"Tidur Mas, libur!" ujar gadis itu tersenyum.
Rayyan mendekat, menarik istrinya hingga terduduk di ranjang.
"Sayang ...." ucap pria itu menatap lekat matanya. Kedua tangannya merangkum pundaknya, lalu menangkup pipi kiri dan kanannya. Ia tersenyum dalam keheningan.
"Kenapa Mas, ada yang aneh?" tanya Rania salting sendiri.
"Cantik banget istriku, makasih ya udah mau nikah sama aku. Aku bahagia banget, semoga Allah melindungi cinta kita. Samawa till jannah. Aamiin."
"Aamiin ....!"
"Mas, tadi yang datang itu mantan kamu ya? Cie ... disamperin mantan terindahnya, katanya," goda Rania akhirnya mengatakan juga.
"Ya Allah ... apaan sih, tadi tuh sahabat-sahabat aku masa SMA yang paling solid, tapi juga kisah yang mengharu biru. Nggak enak banget diceritakan tetapi dari situ aku belajar, ternyata bertahun-tahun lamanya aku cuma jagain jodoh sahabatku sendiri. Walaupun pernah melewati masa tidak mengenakan, tapi aku bersyukur karena sekarang aku punya kamu."
Rayyan meraih kedua tangannya, menggenggam erat lalu membawa dalam kecupan.
"I love you Rania Isyana istriku, calon dokter yang cantik. Berhasil banget bikin aku move on, bahkan seluruh hatiku dan jiwaku terlampaui penuh namamu, semoga cinta kita terjaga selalu."
"Aku juga sayang sama kamu, Mas, terima kasih sudah memilihku dan mencintaiku, tapi sabar dulu ya, biarkan aku malam ini tidur dengan tenang, jangan mesum beneran aku nggak nyaman!"
Gadis itu berkata serius, memohon perhatian suaminya yang terlihat sudah tidak sabar memangsa dirinya.
"Iya deh, cium aja boleh?"
"Boleh, tapi di sini aja," tunjuk Rania pada keningnya.
Rayyan tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Oke, baiklah, malam ini aku meloloskan kamu sayang, tunggu aku setelah kamu sembuh, mungkin sebagai gantinya aku tidak bisa berhenti semalaman."
"Serem amad sih Mas, bikin aku ngeri." Rania jelas takut duluan.
Pria itu terkekeh, "Enggak kok, cuma becanda. Ayo sayang, tidur sini, deketan Dek." Rania lekas menempel pada dada bidangnya lalu memeluk posesif. Rayyan mengurungnya seraya mencium puncak kepalanya dengan sayang.
Sepuluh menit, keduanya masih dalam posisi yang sama. Lima belas menit, Rania mulai tak nyaman, mengendurkan tangannya lalu merubah posisi. Gadis itu refleks memunggungi suaminya yang masih setia dengan posisi yang sama.
"Deketan sayang, lebih rapat," kata pria itu memeluknya kembali. Merapatkan perutnya dengan punggung istrinya. Keduanya terlelap damai.
Pagi hari sebelum subuh, alarm di ponsel Rania berbunyi. Gadis itu belum juga terjaga, namun tangan suaminya yang menyambar di atas nakas lalu mematikannya. Pria itu terjaga sepenuhnya, melihat istrinya masih terlelap damai, mungkin kecapean. Ia membiarkan perempuan itu tetap tidur.
Puas hati rasanya menatap wajah ayunya yang sama sekali tidak berisik. Rasanya berbeda, setelah halal terasa begitu tenang lagi damai. Seakan lebih menjaga, sudah bisa mengakui tanpa takut salah sangka lagi, bahwa Rania adalah miliknya yang begitu ia sayangi.
Netra lentik itu pelan membukanya, tanpa dikomando pria itu langsung mengikis jarak. Menyambar bibir ranum istrinya yang masih fresh alias pagi hari belum tersentuh apa pun.
"Morning kiss ... sayang!" kata pria itu semangat.
"Mas, ini jam berapa, udah subuh?"
"Udah barusan, alarmnya aku sengaja matiin. Udah nggak pa-pa tidur lagi aja, lagi nggak sholat, 'kan?"
"Iya, kamu kenapa tidak bangun, sholat sana!" usir gadis itu seraya bangkit dari pembaringan.
"Iya, ini mau bangun. Sepertinya sudah ditunggu eyang di luar."
"Aku jamaah dulu ya, harus tertib aturan eyang," katanya sembari mlipir ke luar. Sebelum benar-benar beranjak, mencuri satu kecupan singkat di pipinya. Gadis itu tersenyum dengan menggeleng kecil. Bergegas ke kamar mandi, lalu membersihkan diri.
Saat Rayyan kembali, pria itu menemukan istrinya sudah rapi, wangi, dengan style masuk kerja.
"Sayang, kamu mau masuk?" tanya Rayyan tak percaya.
"Iya Mas, nanti pulangnya cepet kok, aku nggak mungkin cuti banyak-banyak. Teman-teman aku pasti nanya-nanya, itu sangat membuat aku tidak nyaman. Lagian kalau nggak masuk mau ngapain, ya kali kita bisa main-main, enggak kan? Jadi masuk aja ya, besok juga libur, 'kan?"
Rayyan sebenarnya mengambil cuti untuk tiga hari ini, tapi karena memang istrinya sibuk sendiri dan sepertinya benar tidak ada kegiatan yang bisa saling menyenangkan diri, mereka akhirnya pagi itu sama-sama berangkat kerja. Tentu saja membuat keluarga kedua orang tua Rania bertanya-tanya, namun bisa dijawab dengan begitu cantik oleh seorang Rania.
"Mah, berangkat ya, nanti aku pulang sini lagi deh, sekalian puasin dulu sebelum Mama balik."
"Iya sayang, Mama paham kok dengan kesibukan kamu. Hati-hati di jalan."
Usai sarapan bersama keluarga dengan suka cita, pagi ini berangkat bersama ke rumah sakit untuk pertama kalinya setelah menjadi pasangan halal.
"Nanti, setelah selesai ke ruang aku ya, aktif sendiri Dek kalau nggak mau berasa diteror, aku pasti nyariin kamu dan aku nggak peduli tentang pandangan orang-orang. Aku nggak mau nutupin lagi hubungan kita," kata pria itu jujur.
"Kayaknya udah banyak yang tahu deh, terkecuali teman-teman koas aku sih, aku masih kurang nyaman aja kalau jujur sama mereka, takut nanti ada embel-embel lainnya pantesan gini-gini karena dekat eh malah istrinya, bisa heboh kali. Aku nggak nyaman!"
Rayyan maklum, mengikuti saran istrinya. Mereka berangkat bareng pulang pun bareng. Selama dua hari ini masih pulang pergi ke rumah eyang. Baru dihari ke tiganya, Mama Wira meminta menantu kesayangannya untuk tinggal di rumahnya. Rania dan Rayyan tidak keberatan, namun bagi Rania mungkin agak merasa canggung.
"Dek, kamu dipanggil mama tuh suruh ke kamarnya," kata pria itu menginterupsi.
"Iya Mas, bentar, aku mau ganti pakaian dulu."
Rania yang malam itu sudah berganti dengan baju tidur dengan style panjang dan rapi, menghadap mertuanya.
"Sayang, Mama punya sesuatu, sini masuk!" titah perempuan itu mempersilahkan menantu kesayangannya memasuki kamarnya yang begitu mewah.
Perempuan itu mengambil sesuatu dari lemarinya, sebuah kotak perhiasan yang memang Bu Wira simpan, itu adalah kotak perhiasan yang sudah disiapkan sebagai warisan yang akan diberikan untuk menantunya.
"Apa ini Ma? Ini buat Rania?" tanyanya sedikit bingung, terharu dan bersyukur mendapatkan mertua sebaik itu.
"Iya sayang, Mama sengaja siapkan ini buat istrinya Rayyan, kamu orang spesial itu. Sama satu lagi, ini buat kamu, pastikan malam nanti kamu pakai ini ya?"
Rania menerima kembali barang pemberian mertuanya dengan kikuk. Mertuanya menitipkan lingerie yang begitu transparan dan terlihat begitu seksi. Belum pakai saja, Rania sudah geli duluan.
"Iya Mah," jawab gadis itu mengiyakan. Kembali ke kamar lalu menyimpan barang-barang yang mertuanya berikan.
Malam ini Rania masih belum bersih, jadi pria itu belum bisa menyentuh seutuhnya. Tiga hari ini cukup kalem, walaupun kadang merasa geli sendiri karena pegang sana sini. Balada halal baginya membuat Rania pasrah saja asalkan suaminya itu senang hati.
"Dek, tadi ngapain aja sama Mama? Kok lama?" tanya pria itu kepo sendiri.
"Ada deh, kamu belum tidur?"
"Belum ngantuk, ya kali tiga hari aku suruh bobok awal waktu berasa bocil ditenangin ibunya. Belum sembuh ya? Kok lama?" rengek pria itu sepertinya sabarnya telah menipis.
"Masih dikit, mungkin besok bersih! Kamu sabar dong, sini aku peluk saja."
Pria itu tertidur dengan menempelkan wajahnya menghadap aset kenyal istrinya. Dua hari ini memang begitu manja, pria itu semakin meresahkan saja.
"Dek, tangan kamu mana?" ujarnya membimbing istrinya untuk menyentuh sesuatu di balik boksernya.