
"Hai ... bangun sayang!" ucap Ray mencium lembut pipinya.
"Hmm ... masih ngantuk," ucap Rania malas sembari menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Sarapan di luar aja ya sekalian berangkat, nanti Mas anter."
Ray masih membelai istrinya dengan sayang, yang agaknya pagi ini masih ingin bermanja. Perempuan itu terlihat lemes tak bersemangat.
"Ayo bangun! Mandi dulu!" ujar Ray perhatian.
Rania bangkit dari kasur, tubuhnya masih terasa pegel di sana sini. Ia berjalan pelan sedikit kaku berjalan ke kamar mandi, Ray hanya tersenyum menyaksikan itu. Serasa lucu, istrinya selalu tepar di bawah kendalinya. Serasa kasihan tapi selalu bikin ketagihan.
"Masih berasa banget ya? Kok jalannya gitu?" tanya Ray memperhatikan Rania yang baru selesai mandi. Perempuan itu sudah ditunggu suaminya untuk jamaah pagi bersama.
Rania hanya mengangguk lalu bersiap menempati sajadah yang sudah digelar tepat di belakangnya. Dua rakaat mereka tunaikan dengan khusuk diakhiri salam dan doa kebaikan.
Selalu merasa damai dan lebih tenang saat ibadah itu dijalani berdua. Hal yang senantiasa membuatnya rindu dan selalu ingin pulang.
"Kok mukanya sedih gitu, kenapa?"
"Pengen ikut pulang, masih kangen kemarin datang marah-marah mulu sekarang mau ditinggal lagi," rengek perempuan itu bermanja.
Pria itu tersenyum, bergerak mendekat lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Mas juga gitu, pengennya terus bareng. Besok kalau waktunya memungkink Mas datang lagi. Kamu juga kan sibuk, nggak ada liburnya jadi sabar dulu, tiga minggu katanya sebentar, cuma dua puluh satu hari kan? Kenapa jadi kamu yang rewel."
"Rasanya nggak enak banget kalau malam habis sayang-sayangan terus paginya menghilang, untung pamitan tapi berasa banget nggak enak pokoknya."
"Gitu ya, jadi mrllow ninggalin adek, jangan cemberut semangat yok cari sarapan nanti aku anter sampai rumah sakit. Sekalian pamit sama teman, nitip kamu biar dijagain dari calon-calon pebinor yang meresahkan."
"Titip-titip emang barang apa dititipin!" ujarnya mrengut.
"Lebih dari barang berharga, limitied edition cuma satu dan istimewa, nggak bisa dituker tambah apalagi digadaikan," selorohnya.
Sebenarnya Ray juga merasa berat, berkunjung kalau mau pulang malah jadi serba salah begini. Sedangkan ia juga tidak mungkin ninggalin tugas dan pekerjaannya yang sudah menunggu di Jakarta.
Pagi-pagi mereka sudah bersiap, pria itu mengajak istrinya sarapan romantis dulu di sebuah rumah makan yang cukup sederhana tak jauh dari tempat Rania bertugas. Sengaja memilih tempat yang simpel dan dekat agar mudah dan tidak telat.
Pagi itu suasana mendadak syahdu. Bahkan perempuan itu menjadi sendu saat pria itu mengucap salam perpisahan sementara mereka. Pelukan hangatnya yang akan selalu mereka rindukan. Ray meninggalkan jejak sayang di keningnya lalu mengusap puncak kepalanya dengan ulasan senyum termanisnya.
"Hati-hati di jalan, kabari aku bila sudah sampai. Jangan ngebut, jaga keselamatan. Ada orang yang selalu menunggu kabarmu dan menantikannya pulang."
"Iya, kamu juga hati-hati di kota orang, jaga diri baik-baik. Titip cintai ini agar tetap setia membersamai. Jangan lupa makan, dan ibadah," pesannya sembari melambaikan tangan.
"Pagi! Woe! Ya ampun ... yang baru ditinggal pulang melow amat!" sapa Jeje menggeleng kecil.
"Lemes bestie, separuh jiwaku balik Jakarta. Oh tiga minggu cepatlah berlalu, kami terbelrnggu rindu."
"Dasar bucin! Sebulan aja udah berasa kaya mau mati aja. Kaya gitu kali ya rasanya lagi sayang-sayangnya harus berpisah antara Jakarta dan Klaten. Jauh juga oe! Semangat!" Jeje merangkul bahu Rania sambil berjalan.
Seperti biasa pagi sekitar jam tujuh apel pagi, setelahnya seperti briefing lalu ngikutin menyanyikan jingle rumah sakit yang menumbuhkan semangat. Ditambah olahraga senam pagi. Seketika rasa galau dan kesepian hati itu tersamarkan oleh padatnya pekerjaan.
Berkumpul kembali membantu pasien-pasien yang tengah melalui observasi dan terapi. Ngajakin ngobrol dan jadi pendengar yang baik bagi mereka yang mempunyai dunianya sendiri.
Pagi-pagi sekali para pasien sudah disuruh mandi oleh perawat. Kemudian mereka berjemur. Melakukan olahraga pagi, lalu tensi, dan makan pagi.
"Tensi dulu ya Mbak?" ujar Rania saat membantu perawat mengurus pasien. Sembari membuat obrolan yang entah nyambung atau tidak diiyain saja sebagai pendengar yang baik.
"Mbak, Mbak itu hobbynya apa ya?"
"Hobby saya mbak? Saya paling jago mbak, marah-marah. Kalau saya marah, wah, rame mbak di rumah, banyak piring terbang!"
Rania berusaha tetap fokus dan sebisa mungkin nyambung, bahkan tahan ketawa karena seringnya jawaban mereka absurd.
Kebanyakan wajah-wajah pasien nampak bingung, linglung dan cenderung mengikuti arahan perawat. Ada yang bercerita sendiri dan ada juga yang ngamuk lalu dibawa ke ruang isolasi. Kalau yang ini agak serem karena hampir lepas kontrol, dan apabila tidak disenangi mereka yang dekat kadang menjadi sasaran.
Banyak tantangannya, dan juga ada ketawanya. Hampir tiap hari Rania dan teman lainnya ketawa-ketiwi melihat perilaku pasien yang terlihat aneh dan terdeteksi lucu-lucu luar biasa. Tiap hari juga mereka dibuat berlinangan airmata pas ngeliat pasien dijenguk sama keluarganya dan seperti terlihat bahwa mereka baik-baik saja. Kejer-kejeran ama pasien yang berusaha kabur.
Sedih, bahkan sebuah kasus yang paling menyayat hati, seorang ibu muda karena anaknya meninggal menjadi depresi, dia selalu ngomong dengan boneka yang ia anggap sebagai anaknya sendiri. Dirawat, disisirin, digantiin bajunya, seolah ia tengah merawat bayi. Di situ hati Rania ikut terenyuh, sudah tiga minggu pasien tersebut mendapat perawatan masih nihil, karena selalu berhalusinasi bahwa anaknya masih hidup.
Intinya, di sana banyak pembelajaran, belajar menghargai hidup. Belajar bersyukur. Kemampuan komunikasinya bener-bener diasah. Bagaimana ia bisa berkoneksia dan dipercaya oleh orang yang nggak biasa. Gimana ia bisa mengakhiri percakapan tanpa bikin pasien ngamuk. Ia juga belajar bahwa tidak ada manusia yang tanpa masalah. Hidup itu ternyata sederhana.
"Alhamdulillah ... clear juga hari ini," ucap Rania lega. Sore itu ia bareng Jeje dan Asa tengah perjalanan pulang. Mereka tidak shiff sampai malam dan bisa sedikit meluangkan waktu bersama.
Sore itu mereka sepakat ngumpul di kost sembari bersantai ria. Lepas dengan pakaian tugas, pesan makanan, dan sengaja bermalas-malasan sambil curhat plus nugas di kamar.
"Njir! Gila, ****** lo banyak banget!" tuduh Asa menggeleng takjub. Karena merasa gerah, sore itu Rania hanya memakai gaun temali satu yang cukup terbuka.
"Eh, ya ampun ... maha karya suami gue masih ada ya?" sahut Rania santai.
"Edan lo ya, bikin otak gue travelling aja. Jadi kepo gaya apa aja?"
"Hish ... rahasia! Makanya pada married biar bisa lepas kangen kaya gini."
"Asem, gue jadi halu!"