Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 103


"Dokter Rayyan sudah menikah? Kok lo tahu?"


Mampus, kenapa gue pakai acara keceplosan segala sih!


"Ya nebak aja, coba kamu perhatikan deh, cincin di jari tangannya, itu menunjukkan kalau doi udah nggak sendiria" jawab Rania gemas sendiri.


Jeje dan Asa pun mengikuti arah pandang Rania yang menjurus pada pria tiga puluh satu tahun itu. Terlihat nampak sumringah berbincang akrab dengan dokter Amel dan juga Raka. .


"Nggak jelas, gue nggak lihat tuh dokter Ray pakai cincin tunangan atau kawinan. Lo ngarang-ngarang aja," tuduhnya setelah mengamati tidak menemukan benda yang melingkar di jari manisnya.


Rania jelas murka, apa-apaan tuh orang, mau sok-sokan dijuluki pria bebas mungkin. Dengan entengnya melepas cincin pernikahan mereka. Soal ini, Rania tidak tahan, gadis itu melipir ke belakang meninggalkan kantin begitu saja lalu menelepon si pembuat hati gelisah.


"Gue nggak jadi makan, kenyang!" sewot Rania pergi dari lokasi begitu saja.


"Eh, tuh bocah kenapa, sensi amat!" tanya Jeje bingung sendiri.


"PMS kayaknya, makanya sensian," jawab Asa datar saja.


Pria yang tengah asyik berbincang itu merasakan ponselnya bergetar. Ia segera meneliti masih sambil mengunyah makanan. Tersenyum sesaat mengamati layar ponselnya berkerlip dengan id caller my wife, tanpa ragu pria itu langsung mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum—" jawabnya ramah dan lembut.


"Ke ruangan kamu sekarang! Aku nungguin!" sewot Rania meninggikan suaranya. Rayyan sampai menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena suara Rania begitu nyaring.


"Kenapa Bro? Kok muka lo aneh?" tanya Raka mendapati ekspresi mimik wajah rekan sejawatnya.


"Bentar ya? Ada panggilan darurat!" ucapnya sambil bergegas.


"Eh, ada pasien darurat? Parah maksudnya?" Amel jelas langsung tanggap. Bekerja di poli yang sama membuat perempuan itu pun merasa ingin membantunya.


"Owh bukan itu, itu pasien pribadiku, sepertinya tengah rewel, oke gue tinggal dulu silahkan dilanjut makan siangnya." Ray mengerling ke Raka, nampaknya pria itu sedikit paham.


"Sini aja dok, kita selesaikan makan siangnya, itu urusan pribadi dokter Rayyan," ucap dokter Raka menenangkan.


"Oh gitu, baiklah," pasrah dokter Amel menurut. Nampaknya obrolan dan makan siangnya berlanjut.


Sementara Ray sedikit tergesa menuju ruanganya di lantai tiga. Ia menuju lift yang saat itu lumayan antri. Ada apa dengan istrinya yang terdengar marah dan tidak ngenakin, dan anehnya, lagi doi sudah menunggunya di ruangan pribadinya.


Pria itu membuka pintu begitu saja, menemukan istrinya yang bermuka masam tengah duduk menunggunya.


"Kenapa sayang, sorry nungguin, tadi lagi makan siang. Kamu udah makan?" tanya Ray lembut. Bergerak mendekat lalu mengecup keningnya sekilas, baru duduk di hadapannya dengan tanda tanya.


"Udah, makan hati," jawab Rania kesal.


"Kok jawabnya gitu, PMSnya bukannya udah mau sembuh ya? Kok masih sewot?" tanya pria itu bingung sendiri. Kembali mendekat dengan wajah kebingungan. Merapatkan duduknya.


"Kenapa, hmm? Aku ada salah?" tanya Rayyan mendekat.


"Lihat aku, Dek, jangan buang muka gini, kamu bikin aku bingung," ujar Rayyan membimbing tubuhnya.


Rania mengambil tangan Ray, ia meneliti tangan suaminya menemukan cincin itu masih melingkar indah di jarinya.


"Ya pakai dong, 'kan ini cincin pernikahan kita masa nggak dipakai. Punya kamu dipakai juga 'kan?"


"Iya pakai, kok tadi aku lihat nggak pakai, kamu sempat lepas ya?" tuduh perempuan itu masih terlihat kesal.


"Enggak kok, aku pakai, kenapa sih perkara cincin kok ribut."


"Nggak, tadi aku lihat kamu nggak pakai, makanya teman-teman aku sampai teliti gitu. Ya kali anggap kamu single aja, ngeselin banget 'kan?"


"Itu karena mereka tahunya kita belum menikah, emang udah ada sebagian yang tahu, tapi kan belum go public jadi masih ada yang nganggep gitu."


"Iya sih, tapi aku tetep nggak suka, apaan kamu nggak ada batasan sama rekan cewek itu tuh, dokter centil. Bikin kesel aja!" sewot Rania jujur sekali.


"Ya ampun ... ini marah-marah nggak jelas dari tadi tuh karena mau protes itu?" Rayyan tersenyum simpul menanggapi itu.


"Kenapa? Kok malah senyum-senyum, kamu berasa nggak masalah?"


"Eh, bukan, bukan itu sayang, kita tuh tadi habis nangani pasien bareng terus ngerasa ada yang lucu aja, kita ngobrolin itu kok, beneran? Apakah ini pertanda kamu jealous?" tuduh Rayyan mengikis jarak.


"Enggak, apaan cemburu, kesel!" jawab Rania memberi jarak, lengkap dengan membuang muka. Menyembunyikan wajahnya yang tertangkap basah jadi salah tingkah.


"Hmm, padahal aku seneng kalau kamu cemburu, itu tandanya kamu juga respect sama aku," jawab pria itu merapatkan tubuhnya. Mengurung istrinya dalam dekapan.


"Kamu ngeselin, siang hari bukannya ngajak makan siang bareng, eh, ini malah ngobrolnya asyik banget sama cewek lain, pakai dekat-dekat lagi, udah gitu asyik banget ketawa-ketawa. Aku nggak suka," ucap Rania jujur. Merengek manja di depannya.


Rayyan lagi-lagi tersenyum sambil mengamati wajahnya yang mrengut, namun terlihat begitu lucu. Istrinya itu sangat terlihat menyembunyikan rona protes hatinya, alias cemburu tapi tidak mau ngaku.


"Tadi tuh beneran sibuk, jadi habis selesai operasi langsung bebersih dan hawanya pengen cari makan karena lapar gitu Dek, aku kira kamu sibuk sama teman-teman di ruangan, pengen nyamperin nggak boleh, ya udah aku makan aja di kantin, bareng sama Raka juga kok, kamu nggak boleh mikir yang macem-macem, hatiku tuh sampai meluber nama kamu. Paham?"


"Belum yakin, cowok lain di bibir lain di hati, biasanya gitu."


"Ish gemes banget sih!" Pria itu tak menanggapi lagi, ia mendekatkan wajahnya lalu memagut bibirnya yang sedari tadi terus mengomel. Mencecap lembut penuh perasaan. Rania sama sekali tidak menolak, perempuan itu menerima tamu bibir itu dengan seduktif. Saling membelit lidah, menciptakan suasana yang mendadak panas di antara keduanya.


"Mas ... engh ....!" Rania melenguh, saat tangan pria itu sengaja menelusup ke dalam asetnya yang terasa begitu menggoda.


"Kamu udah bersih? Respon kamu beda," tebak pria itu menyorotnya dengan kilatan lain.


"Hmm, sepertinya iya," jawab Rania tanpa ragu.


"Alhamdulillah ... pengen makan kamu sekarang, tapi waktunya nggak memungkinkan, habis ini mau ada operasi," sesal pria itu merasa sayang.


"Nggak di sini juga kali, kita lagi kerja, nanti kan bisa, masih banyak waktu buat gituan."


"Oke, aku udah nggak sabar menanti yang namanya nanti saja. Duh ... punyaku tegang sayang, gimana nih!" keluh pria itu nakal sekali.


"Ih, jangan mesum, aku juga perlu memastikan lalu mandi besar, jangan juga berpikir suruh aku ngelakuin kaya semalam."


"Tapi, Dek, ini hidup sendiri, kamu sih pakai acara balas ciuman aku. Jadinya aku kerangsang."


"Kamu yang mulai, ini ... beneran tegang?" Rania meneliti di balik celana bahannya.