Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 69


"Ngapain? Ke mana?" tanya Rania bingung.


"Ke rumah impian," ujarnya ambigu.


Rania bergeming, tidak lekas mengiyakan. Hingga membuat pria itu gemas sendiri.


"Ganti Ra, pakaian kamu tuh meresahkan, nyiksa aku banget dari tadi, ini nih yang bikin orang nggak fokus."


"Ya ampun ... mesum banget sih, orang cuma di rumah masak harus pakai pakaian lengkap, otak kamu aja yang eror, dasar domes!"


"Domes apaan ya? Kepo, sumpah! Perasaan sering banget nyebut kata itu," tanya Rayyan kepo.


"Panggilan keramat, kita mau ke mana dulu, tugas aku banyak, aku nggak mau main," tolaknya benar adanya.


Selama koas, Rania itu hampir tidak ada waktu hanya untuk bersantai atau sekedar jalan. Kecuali malam hari, itu pun jika sedang tidak ada jadwal jaga. Hari libur saja banyak masuknya, alias nggak pernah absen. Mungkin kalau hari besar baru libur dan Rania sudah merindukan itu.


"Nanti aku bantuin, janji deh, tugas kamu juga udah oke kok, tinggal ujian ya, nunggu waktu aku sela." Rayyan menginterupsi.


"Jadinya ke mana, Mas keluar dulu dong, aku mau ganti."


"Tinggal ganti aja, Dek Rania sayang, aku paling ngintip sedikit. Hahaha. Ngarep banget ya?" pria itu terkekeh gemas.


Satu buku catatan melayang sempurna menimpuk tubuhnya. Rania benar-benar gemas, ingin sekali rasanya mengunyel-unyel muka tampannya yang menyorot penuh hasrat.


Karena pria itu terus menggodanya, Rania sampai ganti di kamar mandi. Lebih aman pastinya, walaupun saat keluar masih dibikin kaget juga mengingat pria itu sudah stanby di depan pintu.


"Nah, ini baru bener, walaupun tetep—" Rayyan meneliti penampilan Rania dari ujung kaki hingga kepala.


"Seksi!" sambung pria itu yang langsung mendapat cubitan gemas perempuan itu.


"Adooh, sakit sayang!" keluh Rayyan mengusap-usap pinggangnya. Rania benar-benar mencubit dengan gemas dan menggunakan tenaga.


"Syukurin, orang udah pakai pakaian ketutup gini juga masih dibilang seksi, mesum banget!" omel Rania kesal.


Rania menatap dirinya di cermin, perempuan itu mencebik resah mendapati jejak sayang pria yang kini tengah menyorotnya dengan senyuman.


"Mau ditambahin Ra, boleh ya?" kata pria itu tanpa dosa.


"Awas aja berani maju, aku beneran getok kepala kamu, Mas, ini sih banyak banget ya ampun ... mana jelas gini, kalau besok nggak ilang gimana?" Rania galau sendiri.


"Ya sorry minat, eh khilaf maksudnya. Habisnya gimana, gemes banget nggak sih cuma boleh sampai situ."


"Siapa yang ngebolehin! Ngadi-ngadi!" semprot Rania meradang.


"Astaghfirullah! Anak orang bisa hancur masa depannya, kita nggak usah ketemu aja lah! Beneran kamu tuh mesumnya nggak ketulungan!"


"Iya iya, nanti aku kurang kurangin deh, tapi kalau khilaf ya maklumin aja, mana bisa aku diam, kamu kan asyik buat—" Rayyan terdiam, takut salah ngomong nantinya ngamuk.


"Ya Allah, semoga sepuluh minggu cepat berlalu, biar pindah tugas," gumam Rania serius.


"Kelar pekerjaan kamu juga bakal aku kejar kali Ra, jangan harap bisa lari dari aku. Atau berencana minggat!" ancam pria itu serius.


"Ih posesif!" protes Rania kesal.


"Biarin, kamu juga nggak ngerti-ngerti. Cepet dikit Ra, dandannya. Kemalaman!"


"Emang mau ke mana sih!"


"Diem sayang, nanti aku mesumin lagi kalau banyak nanya."


"Ish, itu mulu pikirannya. Ya udah aku diem."


"Gerak juga, aku gendong aja lah lama!"


"Ya ampun Mas, nggak mau!"


Mereka keluar bersama hendak menuju mobil Rayyan, tiba-tiba sebuah mobil yang sangat familiar datang. Seorang pria dengan muka tak ramah turun dari mobil, ia adalah Jo.


Mati aku, kenapa waktunya bisa nggak tepat gini sih! batin Rania resah.


"Ra, siapa dia?" tanya Jo serius. Menatap tajam Rania yang nampak pucet.


"Jo, kamu ngapain ke sini?" tanya Rania dengan nada lirih.


"Kenapa? Jadi ini yang bikin kamu ninggalin aku, dan niat banget buat putus, sampai-sampai nggak mau angkat telepon dari aku, nggak mau balas pesan aku? Jawab Ra!" bentak Jo terlihat sangat kesal melihat dua manusia yang tengah bergandeng tangan itu.


Bahkan Rayyan tak sedikitpun melepas tangan itu. Malah semakin erat menggenggamnya.


"Ra, kamu nggak bisa giniin aku ya? Aku udah memutuskan jujur pada diriku dengan meninggalkan Yumna, karena aku mau memperbaiki hubungan ini padamu. Kenapa kamu malah dekat dengan pria lain. Katakan padaku, dia cuma pelarian kamu saja 'kan?" tunjuk Jo pada Rayyan.


"Maaf, bro, tapi kamu salah, kita serius menjalin hubungan bahkan mau menikah!" jawab Rayyan mendahului pendapat Rania.


"Benar gitu Ra? Kamu sayang sama dia?" Rania terdiam. Terlihat bingung namun di sinilah sebenar jawaban cintanya diuji.


"Aku—"