Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 40


Rayyan duduk tenang di kursi yang berbeda dengan dua mata elang menghunus tajam ke arah Rania. Seketika perempuan itu pun menjadi tidak nyaman, jangankan untuk makan, bergerak untuk napas pun terasa berat dan susah. Entah lah, apanya yang salah, mereka sepasang kekasih yang tengah meluangkan waktu berdua, kenapa Rayyan harus merasa marah.


Kalaupun dia menyukainya, bukan berarti dia harus mencampuri segala hidupnya, bahkan privasinya. Hanya sebatas mengagumi, belum memiliki seharusnya Rania tidak harus merasa bersalah yang teramat besar.


"Sayang, kamu kenapa? Mienya nggak enak? Kamu sakit?" tanya Jo perhatian. Meneliti wajah kekasihnya yang nampak tak bersemangat.


"Enggak kok, aku hanya capek aja. Aku udah kenyang, kita pulang sekarang aja, Jo," ujar Rania beranjak dari sana.


"Kita duluan ya Sa, hang out-nya kapan-kapan aja, habis ini juga mau langsung pulang, capek," keluh Rania melambai dengan senyuman.


"See you," balasnya mengangguk dengan senyuman. Asa masih merampungkan kegiatan bersantap rianya.


"Mampir ke starbucks dulu ya, nggak pa-pa kan? Main di kost aja, kamu kelihatannya capek banget."


"Boleh, aku tunggu di mobil aja ya, malas keluar," ujarnya ngantuk berat.


"Oke, mau nitip apa?"


"Apa ya? Blueberry cheese cake sama caramel macchiato."


"Siap, bentar ya?"


Rania mengangguk, Jovan keluar dari mobil dan langsung memesan sesuai yang diinginkan. Pria itu menunggu lumayan lama, saat itu Rayyan langsung menghampiri Rania dengan mengetuk pintu jendela kaca mobil.


"Ra, buka!" panggil pria itu dengan percaya dirinya.


Rania terkesiap, ia pikir pria itu tidak membuntutinya ternyata muncul begitu saja membuat kejutan yang bahkan sudah terduga. Rania dengan sedikit kesal dan takut menurunkan kaca mobilnya, biar bagaimanapun tamat riwayat gadis itu apabila Rania tidak menurut, Rayyan akan mengirimkan foto-foto mereka yang seolah mesum itu pada Jovan.


"Ngapain sih, bisa nggak jangan ikut campur urusan aku dan Jo," pintanya dengan nada kesal.


"Maaf sayang, sayangnya aku nggak bisa memenuhi permintaanmu. Aku tidak akan mengancam, tapi aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!" peringatnya dingin.


"Maksud kamu?"


"Jangan kontak fisik dalam bentuk apapun dengan Jo, atau kamu dalam masalah."


"Iya Mas Ray sayang, iya, bisa pergi dari sini sekarang, aku butuh ketenangan," mohon gadis itu menekan sabar dan menurunkan egonya.


"Oke fine, aku bakalan pergi, jangan lengah sayang, aku di belakangmu," ucapnya penuh nada penekanan.


"Ya ampun nih orang ngeselin banget sih, lama-lama gue bisa stress ngadepinnya," batin Rania jengkel.


Pria itu menyambar bibir Rania sekilas lalu beranjak, membuat gadis itu terbelalak tak percaya. Bisa-bisanya ia begitu nekat, bagaimana kalau Jo lihat. Rania mulai merasa tidak aman dan tidak nyaman.


"Sayang, kenapa sih tegang banget!" tegur Jo masuk ke mobil mendapati Rania seperti orang kesambet.


Jo yang mendapat panggilan itu merasa aneh, tapi jujur ia senang. Pria itu mengamati Rania dengan seksama.


"Kenapa?" tanya gadis itu salah tingkah.


"Nggak pa-pa seneng aja dengernya, apalagi kalau kita akur terus kaya gini. Sepertinya kita harus sering-sering meluangkan waktu, biar nggak berantem mulu," ujarnya sungguh-sungguh.


"Iya," jawab Rania resah.


Mobil kembali melaju menuju tempat kost Rania. Keduanya turun dengan Jo ikut masuk ke kost gadis itu, membuat seketika Rayyan cemas sendiri ketika pintu ditutup.


"Sial, mereka ngapain ya? Kok Jo ikut masuk sih, bagaimana kalau mereka melakukan hal-hal terlarang, berciuman, berpelukan, atau bahkan buka-bukaan. Arrghhh ....!"


Rayyan mengumpat kesal, ia membanting pintu mobil cukup keras hingga orang yang tak sengaja melintas di sana tefleks terjingkat.


"Astaga! Ngagetin aja Mas, kalem dong!" sewot seorang ibu terlihat kesal.


Rayyan menoleh dengan muka kesal, namun ia tak sampai hati memarahinya. Pria itu menggumamkan minta maaf karena tak ingin mendapat masalah.


"Eh, Buk, Bu, boleh minta tolong!" ujarnya penuh ide.


"Kenapa Mas?" Si Ibu mendekat waspada.


"Tenang Bu, ada bonusnya kok," ujar Rayyan sembari mengeluarkan lembaran merah dari dompetnya.


"Bu, tolong masuk ke kamar nomor 9 itu ya Bu, bilang aja Ibu petugas keamanan indekos sini yang baru dan tidak mengizinkan tamu cowok masuk ke kamar, gitu," pesannya penuh ultimatum.


"Tapi Mas, bohong dong, saya kan nggak tahu peraturan di sini," tolaknya bimbang.


Seketika Rayyan menambahkan dua lembaran merah untuk si ibu, tanpa banyak bicara lagi si Ibu langsung beraksi.


Jo dan Rania yang belum lama mengambil duduk terkesiap dengan ketukan pintu yang cukup nyaring. Ibu itu bukan hanya menegur, tapi mengomel bakal pemilik kost. Setahu Rania, kost tempat Rania huni itu lumayan bebas, sungguh ia merasa tidak enak dengan Jo karena sore itu menjadi bulan-bulanan emak-emak.


"Aku pulang aja deh ya, kamu juga kelihatannya capek istirahat aja, nanti aku telepon sampai rumah," pamit Jo pada akhirnya tidak jadi berlama-lama.


Rania iyain aja, toh memang Rania capek dan butuh istirahat. Jadi, saat Jo pamit, Rania langsung mengiyakan.


"Sampai ketemu sayang," pamit Jo sembari meninggalkan jejak sayang di keningnya. Mereka di depan pintu kamar, melambai bersama di depan pintu.


Rayyan yang melihat itu tentu saja menahan kesal, bisa-bisanya Rania membiarkan saja saat Jo menempelkan bibirnya pada keningnya. Membuat ia meradang karena Rania merasa menikmati sentuhan itu. Setelah mobil Jo meninggalkan pelataran kost, Rayyan langsung beranjak mendekat, namun Rania yang sudah melihat dari jarak berpijak dengan cepat masuk dan mengunci pintunya.


"Ra! Buka Ra!"