Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 165


Netra Rayyan langsung berbinar bahagia kalau mendapatkan izin untuk membuka kado spesial yang bahkan sudah ditunggu-tunggu dari kemarin. Pria itu tersenyum sumringah seraya menarik perempuan itu hingga terduduk di pangkuannya.


"Kamu pinter banget sih bikin aku melayang. Tadi aja udah bikin nangis sekarang bisa banget bikin aku seneng. Acting kamu sungguh mumpuni."


Rania tersenyum seraya merangkul lehernya. Menatap dengan penuh perasaan suka cita.


"Kalau nggak gitu nggak seru, lagian kamu tadi udah marah aja. Mana serem banget lagi, aku beneran tadi takut. Seandainya beneran gitu apa yang akan kamu lakukan? Apakah akan membunuh aku?" tanya Rania cukup konyol.


"Aku akan membawamu pulang, lalu aku pelihara dengan penuh kasih sayang dan cinta. Selebihnya tak akan aku biarkan kamu keluar rumah sejengkal pun, kamu akan mendapat hukuman itu."


"Serem amad, masa peliharaan berasa kucing aja. Ish ... jahat!"


"Kan misalnya, kamu bukannya lebih jahat. Ninggalin aku demi pria lain, suami mana yang rela."


"Tapi beneran tadi kamu tuh marahnya serem banget, makanya temenku langsung aku suruh minggat, begitu Axel kasih laporan mau jalan. Takut kamu datang langsung ngamuk-ngamuk mukulin dia. Nanti dibalas muka kamu yang tampan ini bisa bonyok, kan sayang banget."


"Hahaha ... kamu udah hafal ternyata ama sikap aku yang emosian. Ya sebenarnya sih nggak pingin gebukin, cuma buat tuh orang masuk rumah sakit. Minimal lah kalau berani deketin istri dan anak aku."


"Itu terlalu menakutkan, bisa dikurangi nggak marah-marahnya. Bisa-bisa orang di sekitarmu minggat beneran."


"Eh, aku gitu juga kalau ada alasannya, Sayang. Kalau penurut kaya gini ya makin sayang. Udah siap, udah bersih kan?"


"Siap nggak siap kayaknya bakalan kamu tubruk deh, emang kalau aku bilang belum Mas, nunggu dua bulan full, atau teman aku malah ada yang sampai tiga bulan. Suaminya sabar banget, kamu apa kabar Mas, satu bulan aja udah dihitung terus."


"Hehehe, maafkan suamimu ini yang terlalu menginginkan dirimu. Kebutuhan ranjang setiap orang berbeda sayang, dan aku termasuk katogeri ... ya kamu paham kan?"


Rania terkekeh sambil mengangguk manja. Bukan hanya paham tetapi di luar kepala.


"Kamu cantik banget, berarti malam ini dandan kaya gini giks buat aku kan?"


"Iya lah masa buat orang lain."


Ray menggumamkan doa lalu mengecup keningnya. Pria itu benar-benar sudah tidak sabar ingin merajut rindu yang beberapa minggu terhalang oleh aturan tak bisa mengunjunginya.


Pria itu baru saja bertandang ke bibirnya yang terasa manis tetiba suara bayi merengek cukup mengusik telingannya. Spontan keduanya menghentikan aktivitasnya dan memberi jarak.


"Juan Mas, dia terbangun," ujar Rania berlalu begitu saja. Benar sekali anak pintar itu terbangun di saat kedua orang tuanya tengah dinas malam.


"Kamu kasih ASI dulu, mungkin dia haus," ujar Ray kembali mengenakan pakaiannya.


"Iya Mas, dia paham banget deh kayaknya, nggak biasanya kalau jam segini kebangun. Atau mungkin kita terlalu berisik."


"Mungkin Juan merasa cemburu, saat bundanya aku minta."


"Kamu pinter banget sih sayang, Ayah mau bikin dedek nih buat kamu. Bobok lagi ya anak sholeh."


Ray mengusap-usap kepala putranya yang terlihat anteng dalam buaian ibunya sambil minum susu. Sementara satu tangan Rania sibuk mengelus-elus kepala suaminya.


"Sabar ... orang sabar makin disayang istri," ujar perempuan itu tersenyum lucu.


"Dih ... ini sampai kapan, kenapa nggak mau tidur-tidur, titip di suster aja. Kita perlu ibadah yang khusuk," ucap Ray penuh solusi. Setelah hampir setengah jam lebih bayi mungil itu tak kunjung tidur malah nampak bening hilang kantuknya.


"Biasanya kalau gini tuh minta digendong, atau dinina boboin, bentar deh aku bawa ke suster dulu," ujar Rania yang seketika membuat senyum di wajah Ray kembali terbit.


Rania keluar kamar, menuju kamar Suster Rini yang ada di belakang bersebelahan dengan ranjang Mbok Ijah. Perempuan itu mengetuk perlahan, walau sebenarnya agak canggung tetapi demi misi suami yang tidak bisa ditunda, sudah pasti malunya buat nanti saja. Toh kamar mereka idak akan bocor karena dilengkapi dengan peredam suara jadi kalau duo sejoli halal itu mau naninu sambil jejeritan juga sudah pasti aman terkendali.


"Sus, titip Juan ya, nanti kalau rewel beri stok ASI saja."


"Siap Buk," jawab suster Rini sigap menerima Juan dalam dekapan.


Rania kembali ke kamar setelah menitipkan anaknya pada pengasuhnya. Perempuan itu mendadak deg degan untuk masuk ke kamar.


"Sayang, lama banget," protes Ray sudah menghadang di depan pintu dengan netra menyorot penuh kabut gairah.