
Ray dan Alma adalah saudara jauh. Mereka berteman karena pernah satu angkatan di Fakultas Kedokteran. Perempuan itu sudah berkeluarga dan punya anak. Namun, perawakannya yang mungil dan cantik membuat perempuan itu terlihat lebih muda dari umurnya.
"Terima kasih ya sudah main-main di sini," ujar Alma senang.
"Sama-sama, aku pamit dulu. Mungkin nanti sore bakalan balik buat jemput istri aku," ujar pria itu sembari undur diri.
Ray balik lebih dulu, ia mencari kesibukan dengan versinya sendiri lalu menunggu di kost.
Sementara Rania dan teman-temannya, setelah presentasi kasus masih lanjut nugas di bangsal.
"Ya ampun ... gue salah ngomong." Jeje menyadari perubahan sikap Rania yang jelas tak bersemangat. Bahkan hingga menjelang sore, Rania sengaja pulang sendiri tanpa menghubungi Ray yang waktu itu menunggu di tempat kost.
Saat Rania sampai rumah, terlihat Ray masih tidur dengan nyenyak. Rania membiarkan saja, perempuan itu langsung mandi dan bersih-bersih. Santai sejenak sambil menunggu delivery makanan datang.
"Udah pulang? Kok nggak telepon kan aku mau jemput?" tanya Ray mendapati istrinya sudah di rumah.
"Udah dari tadi," jawab Rania ketus. Sibuk bermain ponsel jelas mengabaikan Ray.
Pria itu belum begitu ngeh dengan perubahan sikap Rania yang mendadak jutek.
"Hmm ... wangi banget, udah mandi ya sayang. Aku suka banget wangi ini yang selalu aku rindukan," ujar Ray merusuh di sekitar pipi dan tengkuknya.
"Bisa munduran nggak sih, aku capek!" lirik Rania sengit. Bergerak menjauh tanpa perhitungan.
"Kamu kenapa sayang, kok jutek gini. Aku minta maaf, beneran tadi tuh mau jemput habis mandi malah ketiduran. Kamu kenapa nggak telepon aja. Eh ya tapi tadi pulangnya nggak dianter dokter itu lagi 'kan?"
"Kalau iya kenapa? Toh kita cuma dekat sebagai teman kerja. Nggak lakuin lebih dari itu, nggak banyak ngobrol juga cekikikan kaya kamu. Seneng banget kayaknya, bahagia banget ketemu teman," sindir Rania sinis.
"Ya aku nggak suka lah, kan udah dibilangin naik taksi atau kalau perlu nanti mobil aku tinggal di sini biar kamu pulang perginya nyaman. Aku marah kalau kamu dekat dengan pria lain, apalagi sampai berpikir untuk lebih. Kamu tahu konsekuensinya kan?"
"Enggak, terserah kamu aja Mas, aku juga mau minta sedikit kebebasan agar hidupku tidak begitu tertekan karena status. Kamu juga bebas kan berteman dengan banyak perempuan, tidak ada yang tahu juga saat kita jauh, kamu bebas mau ngapain aja," kata Rania sedikit sewot. Bahkan perempuan itu terus menghindar saat Ray mendekat.
"Kamu kenapa sih, kok ngomongnya ngelantur gitu, nggak enakin banget dengernya. Maksudnya kebebasan buat kita masing-masing gitu? Kamu merasa tertekan dengan status kita? Maksudnya apa, Dek?"
Ray mencoba mencari kejelasan, namun Rania bahkan terus menghindar tanpa mempedulikan sikap Ray yang mulai kepancing emosi. Karena sumpek, perempuan itu berlalu dan lebih memilih tidur demi menghindari pertengkaran yang tiada berarti. Sebenarnya Rania kesal, namun ia tak mengerti cara mengungkapkan.
"Ya ampun ... ini anak kenapa sih, kok malah tidur tanpa penjelasan yang jelas. Apa LDR membuat hati kamu berubah? Atau benar karena memang ada pria lain di hati kamu?" Ray terus mengoceh di dekat ranjang.
Ia menjadi bingung sendiri dijutekin, didiemin, dan diacuhkan di kamar kost. Ekspektasinya cuti dua hari mungkin malam bisa mengajak istrinya sekedar refreshing menikmati indahnya kota Klaten, tapi sepertinya tidak terealisasi karena sekarang Rania ujug-ujug ngambek tiada penjelasan yang berarti.
Ray membiarkan itu sebentar, mungkin Rania lelah. Semalam begadang, pagi sampai sore kerja dan jelas itu membuatnya lelah. Haruska Ray maklum? Tapi kenapa sikapnya begitu dingin dan cuek, bahkan menyinggung soal kebesan dirinya di Jakarta yang mungkin bisa melakukan hal yang serupa. Pria itu dibuat pusing sendiri.
"Lho, Dokter Ray? Nggak jalan? Rania mana?" tanya Jeje yang baru keluar dari kost mendapati dokter Ray tengah termenung sendiri di depan teras.
"Ada di dalam, sepertinya kelelahan dia langsung tidur. Kamu mau ke mana?" tanya Ray basa-basi.
Seketika Ray mengingat kejadian tadi siang. Ia tak habis pikir kalau istrinya ternyata kesal lantaran itu. Untung dia tadi nggak begitu emosi hingga menyebabkan luka hatinya semakin parah.
"Ray, ayo jalan! Masa di kamar mulu, ke mana gitu. Duluan ya!" seru dokter Raka sore itu menjemput Jeje. Pria itu bermalam di hotel.
"Duluan Bro, nanti nyusul. Terima kasih infonya Je, saya ngerti sekarang."
Saat hendak masuk, rupanya ada abang grab food yang mengantar pesanan makanan. Ray langsung membayarnya dan membawa masuk sekalian. Pria itu mendapati istrinya tidak benar-benar tidur. Ia malah sibuk bermain ponsel sambil rebahan.
"Dek, kamu pesan makanan? Ini sudah datang," ujar Ray mendekati ranjang.
Rania bergeming, tidak menanggapi pun tidak merespon. Masih sibuk dengan ponselnya sendiri.
"Lihat apaan sih, aku lagi ngomong, Dek, bisa nggak, nggak usah fokus sama handphone terus."
"Nggak," jawabnya datar.
"Astaghfirullah ....!" Ray yang gemas langsung menyerang istrinya dengan pagutan sengit di bibirnya. Seketika membuat Rania meronta.
"Apaan sih Mas, minggir!"
"Nggak!" jawab Ray ikut cuek. Menatap dalam diam seakan meminta penjelasan.
"Males banget tahu nggak sih," ujar Rania hendak turun dari ranjang. Namun, pria itu jelas menahannya.
"Minggir, aku bilang minggir juga. Sana pulang aja!" usir Rania sewot. Matanya mulai berkaca-kaca.
Ray tidak marah, ia malah bergerak mendekat dan langsung menarik tubuh istrinya dalam pelukan. Mendekapnya erat.
"Aku minta maaf, kalau tadi siang buat kamu cemburu. Aku sama dokter Alma itu saudara Sayang, dan kita juga berkawan semenjak kuliah. Jadi, jangan salah paham. Dia tahu kalau kita sudah menikah, tolong jangan marah-marah lagi. Besok pagi aku sudah pulang, bisakah malam ini kita menghabiskan waktu berdua tanpa pertengkaran, tanpa ngambek-ngambekan," jelas Ray panjang lebar. Sedikit mengurai pelukannya, lalu memberi jarak. Mengecup pipinya yang basah, lalu mengelapnya dengan ibu jarinya.
"Kamu selalu marah-marah saat aku berteman dengan pria lain, kamu juga banyak teman cewek. Akrab-akrab juga nggak masalah. Aku kan jadi kesel. Sekarang kita saling percaya aja deh, Mas boleh terserah mau berteman mau dekat asal punya batasan. Begitu pun dengan aku, biar kita impas."
"Mana ada begitu Sayang, aku tidak setuju. Justru karena sudah berkeluarga kita harus punya batasan. Karena status kita udah berbeda, aku minta maaf atas sikapku tadi. Mungkin karena lama nggak ketemu jadi kita ngobrolnya asyik. Tapi percayalah cinta dan sayangku cuma untuk Dek Rania tersayang. Kamu paham kan?"
"Tauk lah, rasanya masih kesel!"
"Cie ... cemburu beneran nih ceritanya. Serem juga ya kalau cemburu, diem, dingin, dan yang paling gemesin itu juteknya minta ampun. Makin sayang deh aku. Love you," ucapnya seraya menghujani banyak ciuman dengan gemas.
"Minggir, aku masih kesel! Pokoknya kesel banget!"
"Nggak boleh gitu Sayang, ini tuh malam terakhir sebelum aku balik. Please ... jangan diemin aku, kasihanilah diri ini yang tidak bisa jauh dari kamu." Pria itu mengerling.
"Jangan mesum! Nanti, aku lapar," ujarnya manja. Ray tersenyum melihat istrinya yang sudah berubah melunak lagi bahkan tidak menghindar saat Ray mencumbunya beberapa kali.