Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 52


Rania mencuci tangannya terlebih dahulu, karena merasa sungkan dilihatin sama konsulennya, dia pun pura-pura menyibukkan diri terlebih dahulu, baru ketika konsulennya sudah selesai mencuci tangan, gadis itu baru cuci tangan, lebih tepatnya cuci tangan di kamar operasi yang lain. Setelah cuci tangan, Rania berlagak layaknya dokter bedah yang sudah siap pegang pisau bedah, padahal belum sama sekali. Tangannya mulai sok-sokan diangkat ke atas. Tidak boleh menyentuh apapun atau harus mengulang cuci tangan kembali.


"Ra, tolong ikatin apron aku!" titah Dokter Rayyan yang langsung diiyakan perempuan itu. Jangankan Rania, semua orang yang disuruh dokter tampan itu akan berebut mengiyakan. Rania sungguh baru tahu, pria itu menjadi idola kaum hawa seantero rumah sakit, mulai dari dokter-dokternya, pegawai RS, sampai anak-anak koas cewek mulai sering santer terdengar menyebut namanya.


Iya, bahkan semenjak hari pertama koas di RS Medika, tetapi mungkin memang Rania yang terlalu cuek sehingga tidak memperhatikan itu, atau lebih tepatnya Rania yang awalnya dikejar, namun belum merasa tertarik karena berbagai alasan yang Rania sendiri mulai merasa entah.


Di ruang operasi itu semuanya harus steril, dan memang sangat butuh orang lain atau co assisten untuk menolongnya. Tangan yang sudah disetrililkan tidak boleh menyentuh apapun itu, bahkan membenahi masker dan kaca mata saja dilarang, atau terancam akan tereliminasi dari ruang itu. Tidak boleh menyentuh barang apapun yang ada di ruangan begitu saja. Semua harus serba bersih dan ada aturannya.


Mengikuti semua prosedur, atau bisa-bisa terancam diusir dari ruang OK. Selesai hidup kalian di sini dan bisa dipastikan mengulang stases bedah selama 10 minggu. Wao, ngeri! Setelah memakai gaun barulah memakai sarung tangan, dengan teknik tentunya, tak lupa masker, topi, dan semua perlengkapan operasi lainya.


Lengkap sudah pakaian steril di kamar operasi. jangan sekali-kali pegang alat apapun di ruang operasi kecuali benda steril, keselamatan pasien menjadi poin penting disemua aspek di ruang sakit. Termasuk membenarkan kursi tempat duduk. Kalau sampai tersentuh dan terlihat oleh orang, siap-siap saja akan dikeluarkan, tanpa ampun. Kalau tidak ketahuan, mungkin masih diampuni Tuhan, tetapi dampaknya bisa mematikan pasien karena bertindak tidak steril. Tinggal pilih saja, dikeluarkan dari ruangan atau mematikan pasien. Jangan sampai!


Jangan dikira anak koas cuma menganggur atau memperhatikan saja, ya mungkin kali ini memang belum dikasih kesempatan untuk menjahit di ruang OK, namun faktanya, Rayyan sengaja membrondong pertanyaan-pertanyaan seputar operasi yang membuat Rania terus bekerja keras menjawab yang ia bisa.


"Ayo Rania, fokus," batinnya menguasai diri.


Pasiennya saja udah ditenangkan, masak Rania masih belum tenang. Hehehe. Setelah lumayan spaneng berkutat di ruang OK hampir lima jam, sekitar pukul setengah delapan akhirnya selesai juga. Tentu saja itu membuat semuanya mengucap syukur karena operasi berjalan lancar.


"Jangan pulang dulu, tunggu di ruang aku," bisik Rayyan sembari keluar dari ruang OK. Mereka terlihat profesional layaknya yang lainnya, tetapi hati mana ada yang tahu.


Rania menghela napas sepenuh dada, jujur ia sangat lelah untuk hari ini dan ingin segera pulang ke rumah. Kendati demikian, ia menurut saja setelah bersih-bersih menuju ruangan pria itu.


"Ya ampun ... apa lagi sih, nggak tahu apa orang capek, ngantuk, lelah," gumam Rania menggerutu sembari menjatuhkan kepalanya di meja.


"Ra, are you oke?" Rayyan mendekati perempuan itu yang terlihat menyorotnya dengan muka lesu.


Rania mengangguk, "Ada apa Dok, please ... jangan kasih tugas tambahan untuk hari ini, aku mau pulang," rengeknya manja. Bodo amat ini sudah termasuk di luar jam kerja karena seharusnya Rania pulang sore tadi.


"Aku mau makan di rumah saja, aku pingin pulang."


"Kuat jalan nggak?" selorohnya manis.


"Kenapa? Mau gendong aku?" tawarnya menantang.


"Boleh? Aku masih kuat," ujarnya kalem. Rania mencebik kesal sembari berjalan mendahului.


Malam itu keduanya pulang bersama, Rayyan mengantar pulang perempuan itu. Rania juga tidak menolak sambutan baik itu karena jujur ia ingin cepat sampai di rumah.


"Mau pulang ke mana?" tanya Rayyan basa-basi setelah mobil berbaur di jalan raya.


"Ke mana lagi, ke rumah eyang lah."


"Ya siapa tahu pengen pulang ke rumah aku, atau kangen sama suasana rumah," jawab pria itu sembari tersenyum.


Rania melirik pria itu, yang dilirik fokus menyetir sembari terus membuat obrolan sendiri. Rayyan terlihat cerewet malam ini, padahal jujur Rania sudah begitu mengantuk.


"Ra, sudah sampai Ra," ujar Rayyan menginterupsi. Ia menengok mendapati gadis itu sudah tertidur di tempatnya.


"Sayang, hai, kasihan banget kamu kecapean," gumam Rayyan mengikis jarak. Membelai mahkotanya yang tergerai indah dengan sayang.


"Ra, aku kangen banget sebenarnya sama kamu, boleh ya?" izin pria itu tak bisa menahanya lagi. Kembali merasakan lembutnya bibir ranum itu yang begitu ia rindukan selama ini.