
"Istirahatlah, besok aku jemput!" ucap Rayyan sembari melepas tautan tangannya.
Rayyan tetap membawa Rania pulang ke rumahnya, namun pria itu memilih tidak singgah di sana. Ia akan bertukar tempat.
"Kamu mau ke mana? Bukankah ini rumahmu? Antar saja aku pulang ke rumah eyang," kata gadis itu penuh solusi.
"Terlalu jauh, istirahat lah di sini malam ini, biar aku tenang. Maaf, aku egois, tapi aku tidak akan mengecewakan perasaan aku sendiri dan juga orang tuaku. Kalau aku sanggup bertahan, kita mungkin akan ke jenjang yang lebih serius, tapi kalau seperti yang kamu bilang, aku boleh menyerah dan menentukan pilihan aku sendiri, maka hubungan kita cukup sampai di sini."
Sakit, entah mengapa ada perasaan yang tercubit saat pria itu mengatakan kata-kata terakhirnya. Bukan itu yang Rania harapkan, ia hanya ingin diberi kesempatan untuk bisa diberi ruang gerak sendiri. Namun nyatanya pemikiran antara keduanya tidaklah sama. Entah mengapa, Rania juga menjadi kepikiran hal lain. Karena sesungguhnya, ia juga mempunyai perasaan yang sama namun lebih ke tidak ingin terlalu dikekang. Bukankah cinta itu bersahaja, memberikan rasa nyaman dan juga tempat spesial yang mampu menentramkan jiwa, kenapa jadi serumit ini?
Cukup lama gadis itu bisa memejamkan matanya, hingga terjaga di pagi hari, menemukan pakaian ganti dan juga perlengkapan pribadinya sudah berada di kamarnya. Rania segera bangkit dari pembaringan, ia spontan saja menuju kamar Rayyan, namun tidak menemukan pria itu di sana.
"Ke mana dia, apa semalam tidak tidur di sini?" gumamnya merasa bersalah.
Rania pagi ini menghubungi pria itu, namun tak ada jawaban. Membuatnya galau sendiri. Sementara Rayyan, pagi-pagi sekali sudah dikagetkan dengan bunyi bel rumahnya yang berisik. Ternyata apa yang ia khawatirkan benar saja terjadi, Jo datang lagi dan lagi.
"Kok elo sih, Rania mana? Kalian tinggal seatap?" tanya Jo menyorot tak ramah.
"Kenapa? Kaget banget lihat gue di sini, urusannya sama lo apa? Rania tidak ada di sini, kerajinan amad pagi-pagi nyariin calon istri orang!"
"Sombong amat, biar gitu juga dia bekas gue, nggak usah sok deh lo, mentang-mentang lo calon suaminya, sayangnya yang sudah terikat pun belum tentu selamat sampai akad. Lihat aja nanti!" ancam Jo yang membuat Rayyan geram.
"Maksud lo apa? Sengaja banget pengen ngerusak hubungan gue dengan Rania? Lo cari perkara!" hardik Rayyan tersulut amarah.
"Lo pikir gue nggak tahu, hubungan lo dijalin saat Rania berstatus pacar gue, jangan lo pikir gue diem dan nggak cari tahu tentang semua kebusukan lo, kali ini gue pastikan, Rania bakalan ilfeel banget sama lo tanpa gue bersusah payah. Hubungan yang lo ambil dari merampas punya orang lain, tidak akan pernah bahagia!" tekan Jo balas emosi.
"Brengsek! Lo cari ribut pagi-pagi!"
Keduanya tersulut emosi hingga membakar diri, saling hardik hingga beradu saling pukul satu sama lain. Rayyan benar-benar kesetanan pagi-pagi, bisa-bisanya Jo datang sengaja membuat huru-hara.
"Astaghfirullah ....!" pekik Rania histeris melihat kekasihnya tengah memukuli Jo hingga pria itu terkapar di lantai.
Dirinya sengaja datang pagi-pagi karena ingin mengambil keperluan pribadinya yang harus dibawa. Tak menyangka dikejutkan dengan pemandangan live pergulatan mereka untuk yang kedua kalinya.
Bahkan Jo sampai dibawa ke rumah sakit karena terdeteksi parah. Sungguh Rania menyayangkan hal itu.
"Bisa diem nggak sih, biar aku bantu!" ucap Rania sembari mengolesi obat luka di sudut bibirnya yang robek.
Rayyan bergeming, ia marah pada keadaan yang seakan menyudutkan dirinya. Dia begitu kesal dengan kedatangan Jo yang seakan menjadi benalu dalam hubungan mereka. Tetapi entah mengapa dia juga khawatir, kenapa dia begitu percaya diri mengambil Rania kembali, dia memang pernah salah, tetapi sungguh itu diluar ekspektasi.
"Aku datang karena ingin mengambil snelli, terima kasih kejutannya pagi ini, kamu sukses membuat aku kecewa!" ucap Rania tak habis pikir. Sangat disayangkan, kenapa hal itu bisa terjadi lagi dan lagi. Kenapa laki-laki mudah sekali emosi.
Rayyan menahan lengan kekasihnya, dia hanya terdiam tanpa kata lalu menarik tubuhnya dalam dekapan.
"Maaf Ra, belum bisa menjadi Rayyan yang seperti kamu inginkan," ucapnya sendu.
"Kamu bikin masalah, padahal papa sama mama hari ini mau datang, aku pusing dengan kelakuan kamu, bagaimana kalau keluarga Jo nuntut kejadian ini?"
"Papa sama mama mau datang? Aku nggak tahan, dia terus-terusan ngomporin aku, pagi-pagi buta udah cari kamu di apartemen. Siapa yang nggak emosi coba."
"Kamu kan bisa abaikan, toh hubungan kita seharusnya tetap baik-baik aja kan? Aku udah bela-belain nyuruh orang tua kita buat ketemu, kamu malah gini, nggak tahu lah kamu bikin kesel aja!" Rania nampak pasrah.
Bisa minus pandangan Papa Al pada calon menantunya yang ringan tangan dan emosian.
"Sayang, please ... jangan marah!" Rayyan memeluk dari belakang. Menahan Rania yang hendak beranjak.
Gadis itu menghela napas sepenuh dada, rasanya kesal namun semua telah terjadi, ia hanya berdoa semoga masalah ini tak berbuntut panjang.
Rania memutar tubuhnya, "Aku nggak marah, tapi kesel, gimana kalau kejadian ini bikin kamu dalam masalah. Om Zidan tidak terima karena anaknya digebukin kamu sampai parah gitu."
"Aku khilaf, perasaan cuma nyenggol doang!" kilah pria itu jujur.
"Aku berangkat dulu, kamu istirahat saja muka kamu jelek lebam-lebam gitu."
"Kamu jangan jenguk dia ya Dek, aku nggak rela!" cegahnya dengan yakin.
"Iya Mas, iya, aku hari ini tugas di stase radiologi. Kayaknya nggak mungkin ketemu. Aku berangkat dulu," pamit gadis itu mengikis jarak. Berjinjit sedikit meraih pipinya.