Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 68


"Adoh! Sakit sayang, ampun! Ampun!" Rayyan terus mendrama. Sementara Rania dengan gemas bercampur kesal menimpuki tubuh pria itu.


Hap


Rayyan menangkap boneka itu lalu menggulirkan tubuh Rania hingga ke samping. Pria itu gantian yang menguasai medan. Mengungkung gadisnya dengan leluasa, namun tak sampai hati membalasnya.


"Hehehe. Nggak bisa!" Pria itu nyengir seraya menahan tangan kanan dan kiri Rania. Keduanya saling menatap sengit.


"Minggir dari tubuhku! Dokterrr!" pekik Rania galak.


Rayyan tersenyum, mengunci tubuh Rania dengan rapat. Kedua tangannya dalam genggaman. Saat pria itu mendekatkan wajahnya, Rania menoleh ke samping, menghindari sentuhan pria itu yang cukup membuat jantungnya bagai maraton dari tempatnya.


Rayyan hanya tersenyum miring saat Rania menghindari serangan hangat darinya. Pria itu mengendus wajahnya, lalu berbisik lembut tepat di telinganya.


"Jelasin sayang, kamu balikan sama Jo?" bisik pria itu sembari menggigit kecil telinga Rania. Hingga membuat kulit perempuan itu meremang seketika.


Sial nih domes! Mesumnya nggak ketulungan, benar-benar meresahkan! Arghhh ....!!! batin Rania meronta.


Tubuhnya benar-benar menanggapi dengan manjah sentuhan lucknut itu.


Rania memejamkan matanya, berusaha lolos pun percumah karena tenaganya tak seberapa.


"Jawab dong, Dek! Jangan bikin aku gemas, aku buka kancing piyama kamu ya!" ancam pria itu serius.


Astaga! Jangan-jangan domes mau perkosa gue! Owh ... sesat, haruskah pasrah! Gila, gila! Tidak akan gue biarkan pria itu menyentuh aset aku! Tidak akan!


"Jangan Mas!" pekik Rania saat tangan Rayyan bergerak membuka kancing piyama Rania.


"Udah terlanjur, sayang, biarin ajalah berbagi sedikit isinya. Butuh healing. Hahaha." Rayyan terkekeh devil.


"Mas Dokter sayang! Nggak boleh!! Dosa!" jerit Rania meronta saat Rayyan bergerak semakin nakal.


"Jangan gini, nanti tangan kamu sakit, diem dong, aku cuma mau kasih hukuman buat kamu karena buat aku kesal seharian. Janjinya berangkat bareng sama aku, tapi malah ninggalin dengan tidak berperasaanya berangkat sama Jovan! Kamu nackal, jadi aku kasih hukuman!" ujarnya mulai mendekatkan wajahnya pada dada Rania.


Rania meronta, berusaha meloloskan diri namun malah terperangkap dalam permainan sesatnya. Perempuan itu jelas kecolongan sesuatu yang berharga miliknya telah tersentuh. Marah, kesal, merasa tidak bisa menjaga diri, namun kenapa rasanya bikin melayang-layang. Sungguh setan telah menguasai dirinya.


Pria itu banyak meninggalkan jejak sayang di sana. Merasa begitu minat ingin menjelajahi lebih, namun nampaknya Rania terlalu shock dengan perlakuan dirinya yang lebih berani. Hingga membuatnya kesal, tapi ia juga yakin, ini akan membuatnya candu.


"Aku nggak balikan sama Jo, dan aku udah memutuskan untuk tidak berhubungan dengan siapa pun!" ucap Rania menahan kesal. Benar-benar kesal dengan pria di sampingnya, yang berhasil mengoyak sesuatu dalam dirinya yang jelas area terlarang.


Rayyan mendekat, menarik bahu Rania agar menghadapnya namun perempuan itu menolaknya.


"Kamu marah sama aku, jangan ngambek gitu dong. Oke aku minta maaf, tadi tuh ... aku—gemes. Jangan cemberut gitu dong, Ra, aku bahkan udah pernah lihat semuanya," ucap Rayyan tanpa dosa. Jelas Rania bertambah kesal.


"Ra, nikah yuk!" ajak pria itu serius.


Rania bergeming, masih kesal dengan perlakuan pria itu, namun juga tidak bisa keluar dari lingkaran pesonanya.


"Nggak bisa lah, 'kan aku lagi sibuk-sibuknya gini. Paling nggak nunggu koas aku selesai dulu."


"Tapi kamu mau 'kan, nikah sama aku? Aku main ke rumah orang tua kamu ya, Ra?" pintanya serius.


"Nggak usah dulu, lulusnya juga masih lama. Udah sana pulang, aku mau istirahat!"


"Nggak mau, aku yakin kamu juga nggak bakalan bisa istirahat, kamu bakalan kangen sama kejadian tadi," ucap pria itu menatap Rania yakin.


"Sok tahu, nggak boleh gitu Mas, dosa!" jawab Rania membuang muka. Kesal tapi apa yang dikatakan Rayyan nampaknya ada benarnya juga. Sungguh hati dan raga tidak singkron sama sekali.


"Ish ... aku tuh masih kesel sama kamu, bisa-bisanya ketusin aku, bersikap sok dingin, cuek, nggak butuh, tapi giliran udah di luar jam kerja kamu tuh meresahkan!"


"Itu gegara kamu yang buat aku kesal, coba kamu tuh nolak ajakan Jo, pasti aku nggak marah. Udah gitu sok merasa tidak bersalah," curhat Rayyan masih mode kesal.


"Udah sana pulang! Tugas aku banyak, konsulennya nyebelin!" sindir Rania kesal.


"Biar nyebelin tapi ngangenin kan? Kamu suka nggak Ra sama aku?"


Rania menatap serius pria itu, "Sebel, kesel, pengen nimpuk mukanya, benci!" Rania menghela napas dalam.


"Ya udah, timpuk pakai bibir ya?" selorohnya mendekat.


"Pulang Mas!" usirnya ketus.


"Ayo pulang, rapihin pakaian kamu dulu!" Rania menyorotnya bingung.