Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 118


"Mas, jangan gini, ini tuh di tempat umum," protes Rania kala suaminya merusuh dengan mengendus nakal.


"Kenapa? Kerangsang ya? Muka kamu merah, pengen kan pastinya?" tuduh pria itu sengaja menggodanya.


"Apaa sih, mesum banget!" kesal perempuan itu berdiri sambil melihat sekitar yang nampak ramai sibuk dengan kegiatan sendiri.


"Ayo ke teman-teman, sepertinya mereka sudah menunggu."


Ray mengangguk, berdiri lalu menggandeng tangan istrinya. Berjalan pelan menuju tenda teman-teman istrinya.


"Ceileh ... Bu Dok dan Pak Dok, mesra banget Bu bikin ngiri aja," celetuk Jeje yang paling lemes.


"Aura pengantin barunya kental banget, manisnya ngalahin gula," timpal Asa mengerling.


Keduanya saling melempar godaan. Rania sudah menduga dua sahabatnya yang bermulut rempong itu pasti akan meledeknya habis-habisan. Apalagi Rayyan menempel terus bak perangko pada amplop.


"Ghem!"


Tama berdehem cukup keras, mengalihkan atensi semuanya.


"Batuk Tam, minum gih ....!" Jeje nampak perhatian. Gadis itu menyodorkan air mineral dalam kemasan.


"Kalian pada mau nginep atau pulang?" tanya Rayyan berbasa-basi.


"Pulang Dok, tapi mungkin agak malam. Biar besok bisa tetep nugas tanpa hambatan," jawab Kenzo mewakili teman-temannya.


Kegiatan itu sebenarnya mencuri waktu di tengah kesibukan yang melanda. Setidaknya mereka punya kenangan bersama mengisi agenda selama perjalanan panjang berminggu-minggu bersama. Bahkan berbulan-bulan hingga pada stase sekarang.


"Nikmati selagi bisa, suatu hari nanti pasti bakalan kangen sama masa-masa kebersamaan ini. Semua punya cerita sendiri,' ujar Ray sedikit curhat.


"Dok, dulu koas juga nggak? Kan Dokter yang punya rumah sakit, serius nanya?" Jeje paling kepo maksimal.


"Sama aja dong, itu kan emang prosedurnya biar punya gelar. Enjoy aja sih sebenarnya, ada kalanya main kaya gini, kalau nggak olahraga bareng. Seru juga kaya kalian."


Suasana semakin akrab satu sama lain sambil menikmati ikan bakar yang terpanggang di atas bara api.


"Ini udah mateng, Dek, mau disuapin?" tawar Ray yang membuat iri sejagat persahabatan.


"Bisa sendiri Mas, tuh dilihatin para bestie, ntar mereka ngamukan kalau lihat keuwuan kita," jawab Rania tersenyum. Menyorot sahabatnya yang tengah memperhatikan dirinya dengan gelengan kepala.


"Mereka bisa juga, kan dua pasang. Cewek cowok, serasi!" ujar Ray menjodoh-jodohkan.


"Aamiin ....!" jawab Rania tersenyum.


Yang diaminin saling melempar delikan tak percaya. Mereka para bestie terlibat cinta lokasi? Sangat mungkin sih mengingat pertemuan mereka yang begitu intens. Ibaratnya dia lagi dia lagi.


Senja sudah berganti petang, semuanya nampak berkemas. Ray dan Rania ikut membantu. Sebelum akhirnya berkumpul bersiap pulang.


"Dek, bersih-bersih dulu lengket, sekalian curhat sama yang di Atas," ujar Ray mengangguk.


"Iya Mas," jawab Rania patuh. Mereka berdua memisahkan diri.


"Kalian pada mau langsung pulang? Mampir warung makan dulu pada mau ikut nggak?" tawar pria itu sungguh-sungguh.


"Kita mau digratis ya Dok, udah lumayan kenyang tadi ngemil ikan bakar, tapi mau dong kalau gratis!" Lagi-lagi Jeje paling antusias.


Akhirnya mereka berhenti di salah satu restoran yang ada di pinggir jalan. Semuanya turun dan bersiap memesan makanan.


"Silahkan pesan sepuasnya, boleh juga dibungkus," seloroh pria itu.


"Kamu mau makan apa, Dek?"


"Apa ya? Menu spesialnya apa?"


Perempuan itu nampak meneliti buku menu yang tersedia.


"Mas aku mau oseng-oseng cumi pedes sama ayam goreng serundeng. Ini kayaknya enak banget."


"Oke, samain ya Mas, kita berdua pesen ini. Itu yang lain terserah mau pada pesen apa?"


Sambil menunggu pesanan dibuat, mereka sibuk mengobrol. Teman-teman istrinya ternyata mengasyikkan juga, hanya Tama yang terlihat kurang suka dengan hubungan mereka. Tapi tak menjadi apa, baginya sama sekali bukan hambatan toh Rania sudah menjadi istrinya dan miliknya seutuhnya.


Usai bersantap ria dengan penuh kekhusyukan, mereka berujar langsung pulang ke rumah masing-masing.


"Terima kasih ya Pak Dok, besok lagi. Kita tunggu gratisannya di lain kesempatan," ujar Asa pamit. Diikuti teman-teman lainnya.


Rania dan Ray juga langsung menuju mobilnya dan meninggalkan lokasi. Mengemudi dengan kecepatan sedang. Walaupun capek melanda, setidaknya liburan kali ini terpenuhi. Setidaknya istrinya itu tidak merajuk lagi. Cukup malam keduanya sampai rumah. Bersih-bersih dan langsung tidur.


Pagi menyapa begitu cepat, alarm yang berdering tak mampu menggoyahkan dua insan yang masih terlelap damai di bawah selimut tebalnya. Rania bahkan terjaga saat suasana luar sudah terang.


"Hah, jam berapa ini?" gumam perempuan itu seraya menyambar jam yang ternyata hampir pukul tujuh.


Tidak biasanya perempuan itu bangun terlambat. Sudah terbiasa terjaga sebelum subuh dan sekarang rasanya seperti dikejar deadline.


"Mas ... ya ampun ... bangun!" seru Rania menggoyang lengan suaminya.


"Hmm ... udah siang ya Dek," jawab Ray santai.


"Astaghfirullah ... bangun dong Mas, kok malam rebahan lagi. Tauk ahh aku mandi dulu."


"Bareng Dek!" seru Ray bergegas menyusul istrinya menerobos masuk.


"Cepetan Mas! Jangan aneh-aneh udah beneran terlambat ini."


"Yah ... pakai acara kesiangan segala. Nggak bisa naninu dulu ini?" tanya Ray sambil memencet odol menuang ke sikat gigi.


"Mana sempet, udah jangan grayangan. Beneran telat ini!" protes Rania mendelik sebal saat pria itu malah merusuh.


"Mas, aku marah beneran kalau gojek! Mandi!" Rania mendelik sementara Ray terus menggoda.