
Rania benar-benar terbuai mimpi, membuat pria itu tak sampai hati mengusiknya.
"Kamu lucu banget sih Dek, selamat beristirahat sayang besok kita main lagi," gumamnya merapat. Memeluk istrinya dalam kehangatan malam.
Rania semakin terlelap, pules dan damai. Merdeka sekali untuk malam ini, berbeda dengan Ray yang malah tidak bisa tidur. Ia mencoba posisi yang pas, balik kanan, kiri, tidur di bawah kaki istrinya, ia tetap tak menemukan kantuknya. Gelisah!
Malam semakin larut, jarum jam pendek menunjuk di angka satu lewat beberapa menit. Pria itu tetap tidak bisa tidur.
"Dek, aku nggak bisa tidur?" bisik pria itu tak tahan tidak merusuh.
Rania tampak menggeliat sedikit terusik, ia terjaga setelah merasakan tubuhnya terasa mendapat sensasi yang berbeda. Rupanya suaminya tengah bermanja dengan asetnya yang kenyal. Meminumnya langsung dari air sumbernya.
Perempuan itu membuka matanya sayu lantas melirik dirinya yang setengah polos. Suaminya itu benar-benar rusuh, tidak tanggung-tanggung, pria itu melakukan itu dengan begitu minat dan penuh perasaan. Menikmati bagai bayi kehausan hingga membuat istrinya menggelinjang tak tertahan.
"Mas ....!" Perempuan itu mendorong kepalanya agar menjauh tapi pria itu justru membenamkan di sana.
"Maaf sayang, aku mengganggu tidurmu, kamu boleh tidur lagi kok, biar aku tetap seperti ini," ucap pria itu dengan santainya.
"Mana bisa Mas, kamu membuat tubuhku meremang."
"Aku ke kamar mandi sebentar ya?" Perempuan itu bangkit dari pembaringan, merapikan baju tidurnya yang tipis.
Ray menanti dengan sabar di ranjangnya. Seperti biasa pria itu bertemu malam tanpa pakaiannya, namun kali ini lagaknya lebih polos dari biasanya. Bukan hanya tubuh kekarnya yang terekspos melainkan bagian tubuh yang lainnya. Menanti kekasih halalnya menghampiri hanya dengan selembar selimut tipis.
"Sayang ... sini dong, lepas!" titah pria itu berbinar.
"Kamu dari tadi belum tidur?" tanya Rania tak percaya.
"Aku nggak bisa tidur, terlalu menginginkan," jawab pria itu jujur.
"Ya ampun ... kenapa nggak bangunin dari tadi, maaf aku ketiduran Mas," sesal gadis itu mendekat.
Ray langsung meraih pinggangnya, membuka simpul tali piyamanya. Membuat kemolekan tubuh istrinya terpampang nyata. Ia tersenyum penuh arti menangkap matanya. Tanpa menunggu waktu lagi, mengikis jarak dan mempertemukan napas mereka menjadi satu.
Rania akhirnya terjaga semalaman, malam itu keduanya kembali meraup indahnya madu pernikahan. Indah, semua terasa begitu membumbung angan menjadikan aktivitas paling menyenangkan untuk pasangan halal yang baru dirajut. Seakan dunia ini hanya miliknya, keduanya mengulang hal yang sama selama dua hari ini tanpa absen. Menanam benih cinta mereka di tempat yang sebenarnya.
Baik Ray maupun Rania, tak canggung mengungkapkan keinginannya. Mereka banyak membuat cerita indah di rumah mereka. Merencanakan kehidupan masa depan yang manis, lengkap dengan rencana punya anak yang banyak. Keduanya sepakat KB alami saja, menghitung sesuai masa subur periode istrinya.
Hari ini mereka sudah disibukkan kembali bekerja, baik Ray dan juga Rania sama sibuk di pagi hari bersiap-siap ke rumah sakit.
"Sayang, nanti mampir ke ruangan aku ya?"
"Mungkin sampai sore Mas, hari ini ada persentase. Ketinggalan dua hari lagi, kejar tugas."
"Nanti aku bantuin, jangan terlalu jadi beban," ucap Ray menenangkan. Mengacak rambutnya pelan.
"Jangan Mas, aku udah rapih," cebik Rania kesal.
"Pasangin ini Dek, nanti ada ketemu bersama rekan sejawat di kantor. Nampaknya HRD rumah sakit tengah sibuk merekrut staff baru."
"Kamu makin sibuk aja, apa papa mau pensiun?" tanya Rania serius.
"Sepertinya papa mulai serius menanamkan padaku dengan detail. Mungkin kapan hari mau ke Bandung juga untuk tinjau langsung peresmian rumah sakit baru. Kamu ikut ya?"
"Sudah mau dibuka? Semoga bermanfaat untuk banyak orang. Aamiin."
"Kalau waktunya memungkinkan aku pasti temani kamu, Mas. Ayo sarapan!"
Pasangan halal itu menuju ruang makan dengan menu pagi ini yang cukup sederhana namun sehat dan praktis. Rania membuat roti panggang apel, ditambah segelas kopi susu sebagai teman sarapan suaminya. Rania sendiri lebih memilih teh dengan sedikit gula.
"Sayang, ini sisanya buat bekel aja, enak," ucap Ray merasakan menu buatan istrinya.
"Beneran dibuat bekal, nanti nggak dimakan."
"Dimakan kok, buat siang boleh juga, nanti minumnya beli di starbucks aja, mantap!" ucap pria itu full semangat.
Rasanya pagi ini walaupun sibuk, tetapi hari paling semangat bagi Ray sepanjang hidupnya. Di mana ia begitu merasa bahagia dan full daya. Semalam dibuat senang, paginya diurusin, nikmatnya berumah tangga. Saling memberi perhatian dengan banyak pahala di dalamnya.
Mobil melaju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang. Tiba di sana sekitar pukul tujuh lewat empat puluh lima menit. Untuk Rania sendiri di stase radiologi memang masuk sesuai jam kantor jadi rada santai.
"Mas, aku turun ya semangat bekerja sayang!" pamit Rania mengulurkan tangannya.
Ray menatap sejenak, meraih tangan itu tanpa melepaskan.
"Kenapa? Kan udah sampai?" tanya Rania nampak bingung.
"Cium dulu Dek, mumpung masih di mobil, nanti di rumah sakit nggak bisa ketemu harus profesional 'kan?"
"Iya deh, sini, pipi kiri atau kanan?"
Tanpa menunggu istrinya yang tengah memberikan tawaran, pria itu langsung meraup bibirnya dengan rakus seakan libur dua hari ini masih kurang untuk menghabiskan waktu berdua.
"Mas, aku udah rapih!" protes perempuan itu mendapati dirinya yang sedikit berantakan.
"Aku nggak tahu rasanya nggak pengen jauh aja, kangen terus bawaannya, padahal kita bekerja di lokasi yang sama. Jaga dirimu baik-baik jangan ganjen, CCTV aku banyak!" kecam pria itu memperingatkan.
"Eh, kayaknya pesan itu lebih cocok untuk kamu deh, yang sok-sok dekat dengan dokter Amel," cibir Rania mendadak kesal.
"Cuma teman sayang, kalau kamu nggak nyaman nanti aku nggak dekat-dekat lagi. Love you," ucapnya manis ngalahin gula.
"Me too," jawab perempuan itu melambai. Turun dari mobil terlebih dahulu baru Ray menyusul. Keduanya terpisah di lobi utama dan langsung menuju ruang masing-masing.
"Hayo yang baru aja cuti, ngapain aja, beneran sakit?" tanya Jeje kepo maksimal.
Rania malah bingung sendiri memberi alasan, suaminya yang membuatkan surat izinnya dua hari dan ia sama sekali tidak tanya apa alasannya. Tetapi kalau alasannya sakit, ada benarnya juga sih, bahkan sampai sekarang pun masih terasa ngilu dan agak kurang nyaman mengingat habis digempur tadi pagi. Suaminya benar-benar membantainya habis tanpa ampun. Untung begitu perhatian dan penyayang, seimbang dengan tingkat kemesumannya yang semakin menjadi.