
"Contohnya—pasien-pasien kamu!"
Gadis itu langsung mendongak tegap menyorot Rayyan lebih dalam. Serasa tertampar kenyataan, bahwa dirinya bukanlah salah satu orang yang dalam kesusahan dan menderita. Banyak juga mungkin di luar sana percintaannya yang lebih miris bin tragis. Bersyukurnya Rania masih punya keluarga, sahabat-sahabat yang baik dan selalu ada. Banyak dari mereka orang-orang sakit yang mungkin membutuhkan kesembuhan lewat perantaran tangan dirinya.
"Dari kedua opsi pilihan itu, tinggal kalian pilih saja, dan kalau kalian lebih memilih opsi pertama, saya punya solusinya dengan mudah, kebetulan di rumah ada cairan insektisida untuk menyelesaikan hidup kamu dan masalahmu! Ada yang mau coba?" selorohnya bernada guyonan namun cukup serius.
Sontak semua tim koas tertawa, gelaknya pecah memenuhi seisi ruangan. Rania sendiri untuk pertama kalinya menarik sudut bibirnya setelah dinobatkan sakit hati. Ia tersenyum siang itu dengan perasaan lebih lega.
"Kalau dari awal kalian sudah melayani pasien kalian dengan sepenuh hati, mencintai pekerjaannya dengan sepenuh hati, saya rasa semua beban itu akan memudar, begitupun dengan kesedihan yang lainnya, akan mengikis karena dirinya sendiri sudah membawa aura positif bagi sesama. Kalian tahu nggak, senyum-senyum kalian ini obat, obat buat kalian sendiri dan pastinya obat buat orang lain yang melihat."
"Ini misalnya ya, kita lagi periksa pasien terus muka kita udah nggak ngenakin tuh pasti menambah beban dan sebal si pasien yang memang sudah sakit. Berbeda banget kalau pelayanan kita ramah, senyum semangat menyapa, yang sakit pun pasti tertular semangat dan aura positif itu menular, menimbulkan perasaan senang di sekitar. Bahkan senyum terpalsu pun akan meningkatkan hormon endorfin yang menimbulkan perasaan lega. Eh, tapi nggak senyum-senyum terus nggak jelas juga ya, nanti dikirim ke pusat rehab. Hahaha." Pria itu terkekeh sendiri diikuti semua anak koas dalam bimbingan.
Semenjak saat itu julukan si dokter pendiam dan dingin itu nampaknya telah memudar pada diri pria itu. Pria yang aslinya mempunyai pribadi penyayang itu berhasil mencairkan suasana dalam sekejab saja.
"Jadi, buat adik-adik atau siapapun yang kebetulan saat ini ada di fase itu, tersenyumlah! Berikanlah cinta dan kasih sayang kalian pada semua orang."
"Masa lalu yang tidak cukup mengenakan boleh dikenang, tetapi kalau bisa jangan diulang. Yakin saja yang di depan sana pastinya yang terbaik untuk kehidupanmu yang akan datang. Allah maha mengetahui dan jangan pernah putus asa. Berdoa saja pada yang maha membolak balikan hati manusia, semoga jalannya kali ini benar," pungkas Dokter Rayyan bijak.
"Dan semoga saja, kamu adalah jawaban dari doaku selama ini, Rania," batin Rayyan sungguh-sungguh.
Praktis semenjak bimbingan itu Rania mulai merubah apa yang mungkin salah dalam dirinya. Perempuan itu lebih banyak tersenyum menyambut hari-harinya. Terutama menjadi jarang mengeluh terhadap pekerjaan yang kadang cukup menguras waktu dan tenaga. Lebih banyak menebar senyum, terutama dengan pasien-pasiennya di bangsal. Tak jarang mengajak keluarga mengobrol dan becanda dalam setiap kesempatan.
Setelah selesai tugas, Rania lebih memilih menikmati waktunya seorang diri di rooftop rumah sakit. Lengkap dengan laptop di depannya. Menulis sesuatu dalam diary hidupnya. Menuangkan apa yang ada di dalam pikiran dalam bentuk tulisan. Rasanya lebih lega, sembari menyumpal dua telinganya dengan earphones yang pastinya menemani sore itu.
"Ghem!" Suara deheman seseorang yang baru saja muncul tak mampu mencuri atensi gadis itu. Ia nampak sibuk sendiri dengan dunia Baru yang sebenarnya sudah lama ia lakoni, namun karena kesibukan yang melanda ia tinggalkan. Yaitu menulis ide-ide dalam sebuah tulisan.
Pria itu menaruh dua cup minuman berkarbonasi di samping Rania duduk, lalu ikut duduk di sana sembari menatap langit sore yang cerah. Rania menoleh, begitupun dengan Rayyan, keduanya saling bertemu pandang dalam diam. Pria itu meraih satu earphones di telinga kanan Rania, lalu memasangkannya pada dirinya tanpa permisi.
"Kebiasaan nggak permisi," cebik Rania manyun.
"Harus ya, emang kalau udah permisi boleh?" tanyanya menatap dalam.
"Mungkin," jawab Rania melirik sekilas sebelum memindai tatapannya lurus ke depan.
Rayyan membuka minuman kaleng yang ia bawa lalu menyodorkan pada Rania. Perempuan itu menerima begitu saja, lalu ikut menikmatinya.
"Kamu nggak pulang? Atau sengaja nungguin aku?" seloroh pria itu berbasa-basi.
"GR, mana ada aku nungguin Dokter, lagi pengen hibernasi."