Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 63


"Ish, nggak boleh! Pulang Dok!" usirnya segan.


Rayyan tak menurut, pria itu mengekor Rania hingga pintu kost.


"Mas Dokter ... please! Nggak boleh masuk!" cegah Rania saat pria itu ngeyel dengan muka memelas.


"Beneran ini aku diusir? Ya ampun ... nikah aja yuk, besok gimana?" tawar pria itu serius.


"Apaan sih, nggak usah drama deh, udah sana pulang! Aku butuh waktu istirahat, aku juga mau ganti pakaian, udah nggak nyaman banget."


"Yang nggak nyaman apanya, Ra?" goda pria itu tersenyum.


"Apaan sih, udah ya? Aku masuk!"


"Ikut sayang," kata Rayyan beranjak.


"Eh, no Mas Dokter!" Rania menggeleng serius.


Rayyan berdiri galau, tangan kanannya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.


"Oke deh, aku pulang, sampai ketemu, besok aku jemput ya," ujar pria itu tersenyum. Melambai dengan enggan, serasa masih ingin tinggal namun keberadaannya tidak memungkinkan.


Rania mengangguk, balas melambaikan tangannya dengan senyuman termanis. Sebenarnya gadis itu tak sampai hati mengusirnya, namun ia juga perlu waktu untuk diri sendiri.


Pria itu berjalan mundur menuju mobilnya, ia sampai hampir oleng karena terseok lantai, membuat Rania tersenyum seraya menggeleng kecil. Masih memantau hingga pria itu menuju mobilnya dengan benar.


Rasanya terlalu sayang untuk pulang, hati dan pikiranya menolak untuk meninggalkan. Namun apalah daya, status mereka memaksa harus menyudahi pertemuan petang ini. Rania sendiri baru masuk setelah memastikan mobil Rayyan pergi.


Hari yang cukup melelahkan bagi Rania, namun cukup juga membuat hatinya yang layu merasa terisi kembali oleh getar-getar indah asmara, mungkinkah cinta telah menyambanginya kembali? Entahlah, yang Rania rasakan harinya penuh rasa yang berbeda. Bahkan nama sangat mantan hampir punah dari singgasana hatinya. Terbukti semenjak kejadian itu, keduanya sama-sama memutus komunikasi.


Hal hebat yang ia rasakan, tak pernah terbesit sebelumnya, karena ia justru merasa mulai terbiasa dengan pria yang belakangan sering memaksa dan sempat membuatnya takut, namun sepertinya memang ia tulus. Apa salahnya membuka hati untuk orang yang mau serius? Haruskah Rania mencobanya? Oh, tentu saja cinta bukan suatu percobaan. Namun, apa salahnya bila memulai dengan hati yang sungguh-sungguh. Nyatanya dicintai seseorang sepenuhnya bukankah itu suatu keberuntungan. Walau awalnya merasa tidak suka, tetapi kini ia mulai merasa nyaman.


"Ya ampun ... gue kenapa jadi mikirin dia mulu sih!" gumam Rania senyum-senyum tidak jelas. Berjalan menuju kamar mandi, lekas mengguyur tubuhnya yang terasa dingin.


"Ish, bekasnya banyak banget lagi, mesum banget sih tuh orang!" Rania tengah berkaca seraya membersihkan diri. Rupanya Rayyan meninggalkan beberapa tanda merah yang membekas di bagian leher.


Sementara Rayyan hanyak beranjak, nyatanya pria itu kembali lagi mengamati kamar kost Rania dari sebrang jalan. Laki-laki dewasa itu juga memberikan perhatiannya, mengirimkan makan malam untuk Rania lewat seseorang kurir grab food.


"Nggak Mbak, udah dibayar atas nama Rania Isyana Wirawanart?"


"Hah, Rania Isyana bener Pak, tapi nggak ada Wirawannya," ralat gadis itu mencebik paham.


"Silahkan diterima, Mbak," bujuk kurir itu menyerahkan satu kantong plastik yang diduga berisi nasi kotak dan minuman.


"Oke, makasih Pak!" jawab Rania akhirnya. Sudah pasti pengirimnya Rayyan, siapa lagi yang berani mengganti nama marganya selain pria itu yang super ngadi-ngadi.


Saat perempuan itu masuk kembali ke kamar, ia bermaksud menanyakan hal yang mengganjal dalam hatinya. Rania dengan maksud menghubungi pria itu yang dengan sangat tidak etis mengganti nama orang lain berdasarkan versinya. Namun, saat perempuan itu meneliti ponselnya, menemukan pesan yang membuat ia seratus persen yakin bahwa Rayyan adalah tersangka satu-satunya.


["Selamat menikmati makan malam, sayang. Menu kita sama ya? Hehe! Lengkap dengan foto makanan yang baru saja ia beli]~Domes


Rania hanya menggeleng pelan, setelahnya membuka nasi kotak itu dengan senyuman terkembang. Nasi goreng berbentuk hati itu membuat gadis itu tersenyum. Ternyata Rayyan adalah tipe romantis yang terselubung.


Makasih, Dok, kebetulan lagi laper tapi mager.


^^^Sama-sama sayang, kamu kenyang aku senang. Jaga kesehatan ya, jangan malam-malam tidurnya, sebenarnya aku tadi takut banget, takut kamu masuk angin.^^^


Aku lebih takut kamu khilaf


^^^Tapi kamu menikmatinnya, 'kan? Gemes banget pengen aku kawinin, eh ralat, nikahin maksudnya.^^^


Meresahkan!!


^^^Kayaknya kamu deh yang lebih meresahkan! Bikin aku nggak bisa tahan! Sayang, nikah yuk, biar nggak banyak dosa.^^^


Belum ada planing, tapi kalau sanggup nunggu sampai lulus ya, mungkin akan aku pertimbangkan.


^^^Lama amad ya, setahun lagi dong, duh ... nggak kuat sayang.^^^


Whatsapp off.


Rania tak lagi membalas, keluar dari aplikasi hijau dan menaruh ponselnya di atas kasur. Perempuan itu menikmati nasi goreng kiriman Rayyan dengan perasaan suka cita.


Sementara Rayyan baru beranjak dari sekitar kost Rania setelah mendapati lampu kamar perempuan itu padam. Cukup larut pria itu pulang ke rumah, tapi tak merasa lelah, hatinya terlalu senang bisa melalu hari ini begitu indah. Bagi Rayyan, Rania adalah pusat dunianya sekarang, biarpun belum memiliki sepenuhnya namun jiwanya telah terpatri tanpa bisa dipisahkan. Rayyan benar-benar telah jatuh cinta dengan dedek koas di rumah sakitnya.