
"Bagaimana kalau kita beli alat test penguji kehamilan?" usul Ray semangat.
"Kamu terlalu antusias, aku takut hasilnya akan mengecewakanmu. Biar aku priksa saja besok," ujar Rania santai.
"Tentu saja aku bahagia luar biasa, aku bakalan jadi orang tua untuk anak kita. Kamu mengandung benih cinta kita, duh ... rasanya pasti sangat senang diglendotin bocil dan ada yang manggil Ayah." Mata Ray menerawang dengan haru.
"Kalau hasilnya negatif, berarti ada indikasi lain yang menyebabkan kamu mual muntah, dan pusing. Bisa jadi lambung kamu bermasalah, atau bahkan ada yang infeksi. Tidak boleh terjadi!" Ray berkata sendiri jawab sendiri.
"Terserah kamu saja Mas, aku bisa apa kalau kamu sudah bertitah. Tapi aku tunggu di rumah aja ya? Aku masih sedikit capek untuk pergi keluar."
"Aku juga, aku akan menghubungi Axel untuk membawakannya untukmu."
"Ish, jangan lah aku malu. Kalau begitu sabar, besok saja kita pemeriksaan selengkapnya di rumah sakit. Sekalian mau lihat suami aku kerja setelah aku tidak lagi menjadi dedek koas."
"Kenapa harus malu, Axel akan datang beberapa menit kemudian, chat aku sudah sampai dan mungkin orangnya sedang otw."
Saat tengah berbincang, mbok ijah datang mengetuk pintu. Perempuan paruh baya itu membawa pesanan Ray yang menyuruhnya membuat borjo.
"Terima kasih Mbok," ucap Ray santun.
"Apa Mas?" tanya Rania meneliti isi mangkuknya yang masih mengepul asap.
"Bubur Sayang, kamu makan dulu selagi hangat, ini enak buatan Mbok."
Rania mengangguk, menarik diri mengambil sikap duduk. Ray menyuapinya dengan telaten, saat ada yang terselip di sudut bibir pun, Ray mengusap dengan jari jempolnya dan memasukkan ke mulut dirinya sendiri.
"Ih ... jorok," tegur Rania kikuk sendiri.
"Mana ada, enak. Berbagi saliva juga mau, bertukar peluh dan menyatu dalam kehangatan yang sempit juga candu, apanya yang tabu kalau hanya soal berbagi blepotan bubur. Pasti akan aku selami, kalau perlu aku obok-obok," ujar Ray cukup extrem. Di mana ia menyapu bibirnya yang sedikit basah kuah burjo dengan mulutnya.
"Mas!" Rania sampai mendorong suaminya agar tidak melakukan sentuhan mulut saat makan.
"Hmm ... apa Sayang," jawab Ray dengan santainya. Malah tersenyum penuh arti sambil menatap istrinya.
"Kenapa senyum-senyum nggak jelas, gitu. Jauhan sana, nempelin mulu, aku pengen legowo dikit. Tidur lah yang nyenyak."
"Habisin dulu makannya, nggak boleh juga langsung tidur, jeda kurang lebih setengah jam, baru boleh tidur."
Rania menghabiskan sesuai intruksi Ray. Kebetulan memang lapar karena habis terkuras gegara muntah. Sementara Ray terlihat begitu sibuk dengan sendirinya di depan laptop. Sebagai dokter aktif dan pegawai struktural rumah sakit, tentu saja Ray mempunyai kesibukan yang lebih dari yang lainnya.
Rania baru saja terlelap saat bel rumahnya berbunyi. Axel datang membawa pesanan pria itu. Hanya mengantar saja lalu pergi.
"Xel, aku ada project baru di luar jam kantor."
"Apa Dok? Dengan senang hati, di mana ada cuan urusan lancar! Hehehe!"
"Kalau itu terjadi, Anda adalah bos yang paling kejem dan medit!"
"Astaghfirullah ... untung kamu teman aku, kalau tidak pengsiun dini kamu ngatain aku medit. Amit-amit!"
"Bahannya aku kirim ya, buatkan undangan yang paling bagus. Itung tuh semua colega papa dan semua kerabat. Aku mau bikin pesta yang meriah, sekalian syukuran kalau beneran istriku hamil. Xel, aku seneng banget, akhirnya oh akhirnya aku bakalan punya generasi penerus."
"Dok, selamat ya! Ngucapin dulu walau belum," ujar Axel nyengir.
"Terima kasihnya nanti aja, ya sudah sana pulang, nanti aku kabari lewat pesan saja," usir Ray.
Ray kembali ke kamar, malam itu rasanya Ray sudah tidak sabar menanti pagi. Bahkan, ia menyetel alarm supaya bisa bangun lebih awal dan akan menyuruh istrinya untuk testpack.
Alih-alih terbangun dan membangunkan Rania lebih awal. Pria itu merasa ada yang menggelitik di pagi hari saat mata itu masih enggan terbuka.
"Pagi calon Ayah, bangun! Ayo sholat!" titah Rania mengendus pipi suaminya. Dengan sengaja memberi kecupan mesra.
"Dek, kok kamu udah bangun? Aturannya kan aku duluan, jam berapa ini?" tanya Ray bangkit seraya mengucek matanya.
"Udah subuh!"
"Lha kamu udah rapih aja.", Ray meneliti dengan sayu.
"Udah Mas, ayo bangun, mengadu dulu sama Allah."
Ray turun dari ranjang, ia celingukan mencari benda yang diberikan Axel kemarin. Netranya menyapu ke seluruh ruangan dan tidak menemukan itu semua.
"Cari apa Mas, cepet dikit! Kamu ditunggu papa Al mau diajak ke masjid."
"Hah, papa kamu? Yang galak itu di sini?" Ray terkesiap kaget. Rania mengangguk.
"Subuh-subuh gini?" tanya Ray tak percaya.
"Huum, buruan cerewet bener, ngatain galak lagi, nanti aku aduin!" ancam Rania manyun.
Ray bergegas ke kamar mandi, bersih-bersih dan mengambil wudhu. Pagi-pagi sekali rupanya Mama Inggit dan papa Biru mengunjungi rumahnya lantaran ingin balik ke Bandung pagi ini. Mereka baru saja menjenguk Eyang Rasdan dan berencana pulang pagi itu, namun mendengar putrinya sudah pulang dari Klaten kedua orang tua itu menyempatkan bersua setelah sekian purnama hampir tak pernah ketemu.
"Sayang, berangkat ke masjid dulu. Assalamu'alaikum!"
"Eh, lupa-lupa. Salim dulu, terus sayang dulu sini." Ray mendekat, perempuan itu menyalim takzim, lalu pria itu meninggalkan kecupan sayang, eh lebih tepatnya lum@tan manja karena terdeteksi pakai kuah, alias basah bibirnya dengan sapuan lidah milik suaminya.
"Astaghfirullah ... Mas, kan mau sholat!" tegur Rania gemas. Suaminya sudah melesat tak menggubris.