
"Alhamdulillah ... terima kasih Sayang, sudah melahirkan anak untuk aku," ucap Ray haru dan bahagia luar biasa.
Rania balas mengangguk dengan setengah terpejam. Ia baru saja melewati fase antara hidup dan mati menjembatani seorang putra penerus bangsa. Begitulah perempuan, luar biasa sekali ketika melewati semua itu. Gelar ibu dengan senyum sumringah menyambutnya.
"Selamat ya Dok, bayinya cowok, sesuai dengan prediksi selama pemeriksaan," ucap Dokter Dara ikut bahagia sekaligus lega dan syukur yang mendalam.
Suatu kehormatan rasanya bisa menjadi bagian tim dokter yang dipercaya keluarga Wirawan untuk membantu proses kelahiran cucu mereka yang tentunya sudah dinanti-nanti sejak lama.
"Babynya diadzani dulu, Dok," ujar Dokter Dara memindah bayi mungil itu dalam dekapan ayahnya.
"Siap Dok," jawab Ray menatap takjub. Seperti mimpi untuk dirinya. Kalau biasanya ia hanya mengelus di balik perutnya yang tebal, sekarang bahkan ia mendekapnya dengan nyata. Pria itu mengadzani dengan khidmad.
Setelahnya, bayi merah itu kembali ditangani dokter anak untuk dibersihkan dan dipindah ke ruang rawat. Rania sendiri sedang ditangani Dokter yang membersamai proses bersalin tadi.
Ada yang menarik di sini, di mana Ray yang bertindak menjahit sendiri pada istrinya. Lucu, tetapi itu kenyataan di lapangan.
"Ini bagian saya, Dok!" ujar pria itu cukup tenang dan percaya diri maksimal. Sudah bersiap sedia menangani istrinya dengan telaten. Pria itu akan memastikan kerapian, dan kesimetrisan jalan lahir istrinya kembali pulih dengan cepat dan tepat.
Dokter Dara tersenyum lucu. Satu pekerjaan yang masih cukup krusial sesungguhnya, tetapi mendadak ditangani dengan begitu epik oleh ahlinya.
"Wah ... dokter luar biasa! Dengan senang hati," puji Dokter Dara dengan senyum bangga.
Rania sampai malu sendiri di tengah rasa perih dan tercabik-cabik yang masih begitu terasa.
"Kenapa? Lebih nyaman sama aku, 'kan? Tenang, nanti aku buat rapet kembali," seloroh pria itu dengan gurauan.
Rania mendelik resah, bisa-bisanya pria itu berkata demikian diantara tim medis lainnya.
"Ya ampun ... Mas, kamu keluar saja deh, nanti dibikin rapet beneran gimana?" tanya perempuan itu gemas. Kalau saja tidak sedang lelah dan lemas sudah pasti bangkit dari pembaringan lalu menjewer kupingnya.
"Becanda Sayang, aku mengembalikan seperti semula, semoga rasanya semakin mengigit saat nantinya aku kunjungi kembali. Haha!"
"Alhamdulillah ... done, mama baru jangan banyak gerak dulu, kamu masih dalam pantauan," ujar Ray memperingatkan.
"Hmm, sudah pengen lari malah Mas, tenang, aku kuat," jawab Rania yakin. Walaupun terasa pegal, lelah, dan mengantuk karena hampir pagi tidak tidur, Rania sungguh bahagia luar biasa.
"Wah ... udah mulai pinter, anak Papa banget ini," ujar Ray bangga mendapati bayi mungil itu mencari air sumber kehidupan pada ibunya. Tangan Ray ikut sibuk mengelus-elus pipi bayinya dengan gemas.
"Sshhh ... geli dan pedas gimana ini?" Rania masih terasa kaku saat-saat memberi ASI.
"Namanya juga masa latihan anti gagal, semakin hari nanti semakin jago," ucap Ray tenang. Pria itu tak beranjak sama sekali, berlama-lama menatap keduanya. Istri dan anaknya dengan tatapan berkaca-kaca binar bahagia.
"Kenapa? Kok nangis? Tadi juga di ruang bersalin nangis, duh ... Rayyan Akfarazel Wirawan loh ini, pemaksa ulung yang super ngeyelan. Kenapa jadi cengeng?" tanya Rania tersenyum tipis.
"Kamu nggak tahu rasanya jadi aku, takut banget saat melihat kamu tadi berjuang untuk anak kita. Terima kasih sudah hadir melengkapi hidupku," ucapnya seraya mendekat lalu mencium kening istrinya dengan penuh perasaan.
"Sama-sama Mas, kamu suami yang luar biasa. Terima kasih juga sudah sabar saat aku tengah menjengkelkan," balas Rania terharu. Matanya ikut berkaca-kaca.
Hari yang paling luar biasa untuk keduanya. Juan adalah anugerah terindah untuk keluarga kecil mereka. Juan adalah nama panggilan anak mereka. (Juan Daniswar Wirawan)
Binar bahagia juga tercurah untuk dua pasang nenek dan kakek menyambut cucu pertama mereka. Keluarga saling mengerubuti bayi mungil itu yang saat ini tengah dalam dekapan ibunya.
"Alhamdulillah ... selamat Sayang, ibu yang kuat dan membanggakan!" ucap Mama Inggit dan Bu Wirawan menjenguk putri mereka. Langsung memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Dua kakek juga tak kalah antusias menyambut cucu pertama mereka. Bahkan Pak Wirawan saking senangnya, memberikan biaya gratis buat ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit Medika di hari yang sama cucunya lahir ke dunia.
"Akhirnya, aku jadi kakek juga," ucap Pak Wira terharu. Anak dan ayah itu saling berpelukan dengan hati bahagia. Setelah sempat menjadi saksi kegagalan percintaan putranya hingga alotnya membujuk putra mereka untuk menikah. Alhamdulillah putra dari Pak Al hadir melengkapi ruang hati putranya.
"Terima kasih Pa," jawab Ray merasa lega dan juga bahagia. Juan adalah bukti nyata, betapa Allah begitu sayang pada keluarga mereka yang telah lama mendamba seorang generasi penerus Wirawan.