
"Dok, kamu kenapa sih? Saya salah apa? Kenapa diemin aku kaya gini?" semprot Rania tak terima, merasa dipermainkan hatinya.
Rayyan menyorotnya dingin, tidak menjawab pertanyaan Rania sedikitpun malah bersikap layaknya dokter profesional di ruangannya. Emang itu sudah jam kerja, namun sikapnya yang tak biasa itu jelas membuat Rania sebal.
"Tolong tinggalkan ruangan saya! Terus satu lagi, bicaralah yang sopan dengan seniormu karena ini jam kerja!" ucap Rayyan serius.
Rania melongo mendengar penuturan pria yang berkali-kali merasakan bibirnya itu. Dia pikir dirinya perempuan apaan, setelah semua yang terjadi dengan mudahnya berkata demikian. Rania tahu memang saat ini mereka sedang dinas, tetapi tidak seformal itu juga saat berdua, jelas Rania sangat tersinggung dan marah. Andai saja bisa, ia akan mengakhiri stase kali ini dan pindah tempat.
"Oke, Dok, terima kasih!" jawab Rania menekan sabar. Ingin sekali rasanya menimpuk kepala pria itu agar sadar dengan apa yang ia lakukan selama ini. Atau menggambarkan wajahnya yang sok kegantengan itu dengan kertas laporan.
"Dasar, pria sama saja, menyebalkan!" gumam Rania seraya membanting pintu.
Rayyan sampai terjingkat resah mendapati perempuan itu mengamuk. Dirinya begitu kacau pagi ini, rasa yang membakar hati juga membakar kepercayaan dirinya.
"Perempuan sama aja, ngeselin!" balas Rayyan menggerutu kesal.
Sementara Rania kembali ke ruang jaga sembari mengatur emosinya yang pagi ini cukup labil. Rasanya perempuan itu gemas sekali dengan Dokter Rayyan yang sok dalam segala hal. Sok sayang, sok romantis, sok humoris, sok perhatian, sok galak, sok cool dan paling mesum seantero planet bumi.
"Fokus Rania, please! I just wanna finish it ASAP!" batin Rania semangat.
Stase bedah menjadi stase yang paling berat untuk Rania, di mana ia yang terlibat hati dengan pembimbingnya, merasa gemas sendiri saat dirundung keadaan tak mengenakan, pada posisi di mana ia tidak ingin bertemu dengan Dokter Rayyan, namun pekerjaan dia mengharuskan gadis itu bertemu setiap hari, bahkan setiap saat, rasanya pengen nangis saja menjalani hari.
Hari itu di OK sekaligus jadwal jaga IGD dengan perasaan sekuat hati, sefokus pemikiranya saat ini. Seperti biasa melayani pasien yang baru datang dengan suka hati. Senyum ramah ia tampilkan walaupun hatinya kesal bukan main, tetapi perempuan itu harus seprofesional mungkin.
Rania tugas bersama Asa, teman Rania yang satu ini moddy tapi nggak terlalu kepo jadi ia merasa aman untuk hari ini. Berharap kegalauan hatinya hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Saat mereka tengah berjaga, kedatangan pasien berumur tiga puluhan tahun, muka pucat dan muntah-muntah.
"Dok, tolong Dok, perut saya sakit!" Pria itu merintih kesakitan sambil menekan perutnya sendiri. Tubuhnya gemetar seraya beberapa kali muntah dalam wadah plastik yang ia bawa sendiri.
Rania dan Asa langsung bergegas memeriksa pasien dengan cekatan.
"Boo, tensi ya!" seru Rania pada Asa.
"Oke, bestie," katanya sembari memasangkan alat pengukur tekanan darah ke lengannya.
Sementara Rania langsung mengecek perutnya yang katanya sakit itu. Keras, yang Rania dapatkan ketika meraba perutnya. Rania pun mencoba mendiagnosa.
"Gimana rasanya, Pak?" tanya Rania.
Pria itu memejamkan matanya. Rania yang masih dalam pemeriksaan pun membangunkan pasien.
"Pak, bahaya jangan tidur dulu, Bapak bisa kentut, BAB, nggak?" Rania masih mendiagnosa pasien.
"Nggak Dok, apapun yang saya makan dan saya minum, berahir keluar lagi."
"Tekanan darahnya 90/50, bestie," seru Asa menyela.
"Muka pucat, mata celong, denyut jantungnya meningkat, ini dehidrasi berat," sambung gadis itu.
"Boo, kita guyur infus, pasang cateter urin, sama pasang NGT."
"Siap," jawab Asa sembari bergegas menyiapkan alat-alatnya.
"Pak, udah berapa lama kaya gini?" tanya Rania merujuk riwayat yang dirasakan.
"Sudah rada lama Dok, dan makin ke sini makin sakit," jawabnya lemas.
"Sudah beberapa hari saya nggak kerja, demam naik turun, batuk-batuk kadang sampai sesak," kata pasien menggambarkan dirinya dengan detail.
Rania segera mengeluarkan stetoskop untuk mendengarkan paru-paru dan perutnya. Dokter muda itu lantas diam sambil memejamkan mata. Dengan seluruh bekal anamnesa, gejala dan tanda pada pasien, otak Rania seperti memancarkan diagram mind mapping kemungkinan-kemungkinan diagnosa penyakit ke depan mata Rania.
Perempuan itu terus mendiagnosa kemungkinanan yang paling benar. Dengan menyingkirkan diagnosa lain yang muncul dalam pikiranya saat ini. Masih dengan mata terpejam, ia pun masih sibuk mencari jawaban paling benar sesuai tanda-tandanya. Sampai Rania dapat diagnosis yang paling tepat.
"Ini ileus obstruktif," kata Dokter Rania seraya membuka matanya.
Dengan yakin perempuan itu menelepon konsulen untuk konsultasi. Beberapa kali deringan tidak diangkat membuat Rania gemas sendiri. Memang kadang tidak on call juga para konsulen yang berjaga, jadi harus sabar juga. Berhubung ini sangat genting, dan ingin segera memecahkan masalah yang ada, Rania dengan sedikit gugup tapi yakin mendatangi ruangan konsulen menit itu juga.
"Permisi Dok!" sapa Rania mendatangi ruangan yang pagi tadi sempat membuat perempuan itu kesal setengah mati. Bukan dengan pekerjaanya, tetapi dengan orangnya. Namun, ia tidak bisa menghindar sedikitpun karena pekerjaanya di stase bedah akan terus berkesinambungan.
"Masuk!" titah pria itu datar.
"Maaf, Dok, saya mau konsultasi tentang diagnosa pasien yang baru saya temui," ucap Rania kalem.
"Oke, silahkan!" kata Rayyan menatapnya lekat.