
"Astaga ... tenggelamkan saja gue ke rawa-rawa," batin Rania nelangsa.
Ibarat kata maju nyungsep, mundur kepentok tembok, belok kanan tikungan tajam, belok kiri jembatan curam. Saat seperti ini, tentu saja Rania pingin ngilang, kalau perlu pinjam pintu doraemon yang bisa menembus masuk ke jalan serbaguna, atau jubah ajaibnya harry potter biar tak terlihat alias menghilang dari kehidupan mereka berdua.
Mikir Rania? You can do it! Mungkin bisa saja maju terus melenggang dengan percaya diri sebagai pasangan reel Jovan, tapi dengan resiko siap menghadapi drama kepanjangan domes yang pastinya mengancam kelangsungan hidupnya. Karena tidak sesimpel itu, masalah setelahnya bakalan rumit tujuh turunan dan tujuh tanjakan. Atau pura-pura pingsan saja biar semuanya aman.
Gusti ... kesialan apalagi di malam hari yang seharusnya bobo cantik di rumah, kenapa harus terdampar dalam kebingungan yang mendera.
"Sayang, ayo masuk tuh udah ditungguin mama," ajak Jo sembari menggamit tangannya.
"Jo, aku—aku sedikit kurang enak badan, aku ke toilet bentar ya," pamit Rania begitu saja.
Yeah, berbohong adalah topik utama dan paling keren saat ini. Biar mendapat predikat pembohongan ulung, sebodo amat yang penting hidup selamat.
"Owh mau ke toilet? Perlu diantar?" tawar Jo perhatian.
"Nggak usah Jo, aku bisa sendiri. Bentar ya?" Rania berjalan cepat memisah dengan Jo, entah mengapa ia tak sampai hati maju ke depan dan pastinya akan membuat malu Tante Wira, lebih tepatnya membuat mereka kecewa karena Rayyan berbohong. Bukan hanya itu, Rania merasa itu akan sangat berimbas dengan kelangsungan hidupnya saat ini.
Jo yang masih merasa bingung, akhirnya mengiyakan saja walau merasa aneh. Rania memang terlihat tidak bersemangat saat Jo menjemput, namun ia tidak menyangka kalau Rania malah sakit.
Sementara Rayyan menangkap bayangan mereka di depan pintu, seketika pria itu membuntuti Rania yang masuk ke arah belakang menuju kamar mandi.
"Duh ... gimana nih, ribet bener hidup gue, itu kenapa orang ada di mana-mana sih, jangan-jangan Tante Wira dan mamanya Jo deket lagi, mampus nih gue," gumam Rania gusar. Bukan pura-pura sakit lagi tetapi memang terdeteksi mumet, pening, dan kepala pusing karena memikirkan apa yang harus ia lakukan.
Saat gadis itu tengah memikirkan sesuatu dalam kebingungan. Seseorang mengetuk pintu toilet dari luar cukup nyaring.
Sepi sejenak, setelah beberapa menit cukup hening, kembali pintu itu diketuk dari luar. Rania sudah ancang-ancang dengan jurus kebohongan yang paling kurang masuk akal, seandainya terpaksa harus menghadapi mereka semua.
Rania memutar handle pintu pelan, ia memejamkan matanya sejenak saat menemukan pria itu menunggu dirinya di depan toilet.
"Gimana sayang, udah?" tanya Jo menyorot resah.
"Jo, kepalaku tambah pusing, hatiku berdebar-debar, aku pulang aja ya, maaf banget kenalan sama mama kamu kapan-kapan saja," ujarnya lemas.
"Owh gitu, perlu ke rumah sakit? Maaf ya seharusnya aku nggak ajak kamu di saat kamu kurang Vit gini, ya udah nggak pa-pa kita pulang aja."
"Maaf ya, kamu marah?"
"Nggak kok, santai saja masih ada hari esok, ya udah nggak apa ayo aku antar pulang," ujar Jo perhatian.
"Makasih ya sayang, atas pengertiannya."
Rania akhirnya diantar Jo pulang ke rumah. Tanpa Rania sadari Rayyan mengikuti sampai rumah eyang. Membuat persembunyiannya kali ini terekam jelas oleh pria itu. Namun, setidaknya ia bersyukur karena Rania tidak membuat kesalahan yang besar dengan membuatnya malu di sana.
"Makasih Jo, maaf ya acaranya gagal malam ini," sesal gadis itu sendu.
"It's oke sayang, masih ada hari esok, selamat beristirahat," ujarnya perhatian. Jo mengecup pucuk kepalanya dengan sayang sebelum gadis itu masuk ke rumah.
Perempuan itu langsung masuk begitu mobil Jo pulang. Rania yang baru saja menukar pakaianya, firasatnya merasa ada sesuatu yang berkelebat di balik kordinya. Gadis itu pun bergerak mendekat ke arah jendela ketika tiba-tiba listrik di rumahnya tiba-tiba padam, dan ia merasa gelap. Saat itulah gadis itu menjerit histeris karena merasa ada yang menyeretnya dan menghempaskannya ke ranjang.