Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 96


"Iya sayang, aku minta maaf, ke depannya lagi akan aku perbaiki," jawab Rayyan sungguh-sungguh.


"Makasih," ujar Rania beranjak, hendak berdiri namun Rayyan menahannya.


"Kenapa? Katanya mau makan, tadi aku lagi asyik-asyiknya makan siang lho, sampai bela-belain cepet ke sini takut kamu nyusulin, terus ngamuk," sindir gadis itu.


"Mana ada aku ngamuk, palingan aku bakalan telfonin iya, ya udah sini lanjut makannya sama aku," ujar pria itu menarik paper bag berisi makanan.


"Aku cuci tangan dulu," ujar gadis itu menuju wastafel. Membersihkan kedua tangannya lalu mengeringkannya.


Rania mendekati meja kembali, duduk agak berjarak dengan pria itu. Membuka dua bungkusan nasi kotak yang sengaja Rayyan pesan untuk makan siang mereka berdua.


Saat mereka tengah menikmati makanan itu dengan khusuk, pintu diketuk, Rayyan mempersilahkan masuk dan terdengar langkah kaki mendekat. Bu Wira datang ke rumah sakit hanya ingin menemui anaknya secara khusus.


"Tante Wira?" sapa Rania menyambut hormat. Menghentikan acara makan siangnya lalu menyalim perempuan yang masih terlihat modis di usianya yang tak lagi muda itu.


"Sayang, lagi makan siang ya, ya udah dilanjut aja, nanti Mama mau bicara Ray," terang Bu Wira pada putra semata wayangnya.


"Mama tunggu di ruangan Papa aja ya, nanti kalau udah selesai kamu bisa datang ke ruangan papa atau telepon Mama," pesan Bu Wira lalu beranjak.


"Tante nggak sekalian makan siang?" tanya Rania berbasa-basi.


"Tante udah sayang, silahkan nikmati saja dengan tenang. Makasih ya udah temani Rayyan," ucapnya lalu meninggalkan ruangan.


Bu Wira tahu betul saat ini putranya sedang tidak baik-baik saja, namun kehadiran Rania setidaknya mampu membuatnya tenang. Pria itu begitu mencintai gadis itu, Bu Wira berharap tidak ada lagi halangan ke depannya, atau semua tidak baik untuk putranya.


Usai merampungkan makan siang, Rania pamit kembali bertugas. Rayyan mengiyakan, dirinya langsung bertolak ke ruangan ayahnya. Di sana sudah ditunggu kedua orang tuanya. Rayyan masuk dengan santai, walaupun sudah pasti mendapat ceramah besar-besaran. Sungguh ia sudah siap dengan apa pun yang orang tuanya katakan.


Benar saja, begitu asisten Pak Wira menutup pintu. Putra tunggalnya itu langsung disemprot habis-habisan atas tindakan impulsifnya mencelakai orang kemarin hingga korban harus mondok di rumah sakit.


"Papa begitu menyayangkan hal ini, kenapa sih kamu tidak bisa menghadapinya dengan kepala dingin. Kamu bikin Papa kecewa dan malu saja. Gegara ulah kamu yang srampangan, pemburu berita lokal sampai mencari berita ke sini. Kamu harus minta maaf, terus membuat pernyataan berkelanjutan!" terang Pak Wira to the point.


"Sabar Pah, jangan memojokkan Rayyan, apa nggak kasihan apa, salah sendiri si Jo itu ngomporin, kamu jangan takut sayang Mama akan bela kamu, kamu tunjukin tuh CCTV-nya apartemen, sudah cukup menjadi bukti Jo yang berbuat masalah. Kalau keluarga dia berani nuntut kamu."


"Papa sudah urus untuk hal itu, tetapi kamu perlu meminta maaf secara personal. Tentu saja mengembalikan citra kamu sebagai penerus Medika Hospital ini. Semua orang sekarang tengah menggunjing namamu, dan siap-siap saja hubungan kalian terekspos. Apa Rania tahu hal ini?"


"Belum Pah, hanya saja orang tuanya saat ini tengah berada di Jakarta dan meminta kita datang."


"Ya, kalau itu Papa sudah tahu," jawab Pak Wira begitu enteng.


"Papa tahu kalau Om Biru dan Tante Inggit ada di Jakarta? Mereka mau ketemu sama Papa dan juga keluarga kita."


Rayyan mengangguk, beruntungnya dia mempunyai kedua orang tua yang begitu support. Walaupun Pak Wira keras, namun beliau begitu menyayangi putra satu-satunya yang berulang kali gagal dalam urusan percintaan.


Pak Wira nampak menyelesaikan urusannya terlebih dahulu, baru kembali bergabung dengan istri dan putranya. Secara kekeluargaan, dengan niat hati yang tulus, keluarga Rayyan dan Rayyan pribadi mengutarakan permintaan maaf yang mendalam atas kejadian waktu kemarin yang menyebabkan Jo terdampar di rumah sakit.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Om, Tante, saya benar-benar khilaf, Jo tiba-tiba datang dan berbicara dengan nada cukup tidak mengenakan," sesal Rayyan tulus.


Pak Zidan menanggapi dengan kalem, sangat menyangankan tindakan putranya juga. Namun, pihak keluarga tetap alot untuk jalan damai begitu saja. Menurut Tante Ana, Jo terlalu parah, bahkan sampai saat ini, pria itu masih terbaring di brankar dengan tidak berdaya. Walaupun kondisinya saat ini sudah lebih baik, untung saja segera dibawa ke rumah sakit.


"Bun, aku rela masuk rumah sakit, Jo hanya menyampaikan fakta yang ada, pria itu tuh udah rebut pacar Jo, Bun, dia ngambil Rania dari aku. Jo sakit hati, Bun. Jo nggak terima, Kita harus tuntut orang itu, Bun!" ucap Jo berapi-api. Walau masih sedikit kesulitan berbicara lantaran sudut bibirnya diperban, namun terlihat jelas pria itu tidak terima.


"Ya kamu duluan yang cari gara-gara, pagi-pagi menyambangi apartemen orang lain. Sudah jelas nyari perkara!" Rayyan tentu saja tidak terima saat Jo berusaha memojokkan dirinya.


Berjam-jam kedua keluarga itu tengah bermusyawarah mufakat, menjelaskan dengan rinci, sampai bila perlu mendatangkan Rania sebagai penengah orang yang diperebutkan kedua pria tersebut. Sayang sekali sore itu Rania sudah kembali saat asistennya Pak Wira mencarinya ke ruang radiologi di mana saat ini gadis itu bertugas. Waktu masih menunjuk di angka tiga, namun jam operasional koas telah usai karena tidak ada yang dikerjakan sore itu.


Ya, Rania sudah pulang tepat setengah tiga. Hari ini berakhir cepat dan tidak ada kendala yang berarti. Bahkan pukul tiga itu Rania sudah sampai di kediaman Eyang Rasdan dan tengah bercengkrama dengan keluarga mereka.


"Kamu sudah siap menikah?" tanya Pak Al mengintimidasi. Pria itu mendadak sangat tidak nyaman didesak dari keluarga Rayyan semenjak lamaran virtual mereka.


Sumpah demi apa pun, Rania galau, namun sore itu ia terus terbayang wajah Rayyan yang tidak bisa dipungkiri sangat menginginkan keseriusan ini.


"Siap, Pah," jawab Rania yakin. Dengan keyakinan yang penuh, Rania mengangguk menyanggupi walau dalam hati harus lebih sabar menata hati menghadapi calon suaminya.


.


Tbc


.


Hallo teman-teman, author bawa rekomendasi novel teman nih. Sambil nunggu novel ini up silahkan mampir ....



Cerita ini lanjutan dari Cerpen "Aku Hamil Anak Mantan Pacarku."


Dina Aurelia, seorang wanita berusia 24 tahun yang harus menerima sebuah kenyataan pahit, mengetahui kalau dirinya hamil anak mantan pacarnya. Lebih menyakitkan lagi, Dina mengetahui kehamilannya, disaat Nando telah resmi menikahi wanita lain. Hal itu terjadi disaat malam pengantin Nando dan Mira.


Dina mencoba untuk meminta pertanggung jawaban kepada Ernando Ari, mantan kekasihnya. Namun, sebuah tamparan penolakan Dina dapatkan dari Nando. Nando tak mengakui kalau anak itu anaknya dan menuduh Dina bermain dengan pria lain.


Bagaimana nasib Dina? Jalan apa yang akan Dina pilih? Iklhas atau berjuang mendapatkan ayah dari anaknya?