
Rania menutup mulutnya rapat-rapat seakan ingin mengeluarkan isi perutnya yang bergejolak ketika Ray memeluknya begitu rapat.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Ray kebingungan.
"Minggir Mas, aku nggak tahan sama bau tubuh kamu. Rasanya aku mau muntah," jawab Rania sembari mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
Ray hanya terbengong tanpa kata. Cobaan apa lagi ini, perasaan ia baru saja mandi dengan sabun yang diyakini pilihan istrinya yang paling wangi dan terbaik untuk tubuhnya. Bahkan semua parfum berganti sesuai rekomendasi istrinya. Alih-alih menjadi betah dan nyaman, Ray malah terusir dengan menyedihkan.
"Nggak lucu deh, aku wangi gini. Ini juga pakai parfum pilihan kamu." Ray mencoba mendekat seketika Rania menjauh.
"Astaghfirullah ... Dek, aku salah apa? Aku cuma butuh sedikit ketenangan dan kasih sayang untuk mood booster aku pagi ini supaya bisa kerja dengan tenang." Pria itu jelas protes, bahkan semakin kesal saat Rania terlihat anti.
"Tapi aku eneg deketan sama kamu, aku mau pulang aja," ujar Rania cuek bebek.
"Jangan! Kan belum sayang-sayangan, katanya mau periksa, cek dokter? Astaga! Jangan-jangan kamu beneran positif, jangan bilang kamu nggak mau deketan sama aku karena pengaruh kamu hamil?" Ray seketika heboh sekaligus cemas memikirkan nasib dirinya.
"Iya aku positif, tapi kalau opsi kedua bisa bener bisa juga emang kamu bau. Makanya aku nggak suka."
"Alhamdulillah ... beneran? Akhirnya aku sebentar lagi jadi ayah." Ray yang hendak memeluk istrinya langsung stop begitu melihat Rania mendelik garang.
"Cuma meluk nggak boleh juga, ini ceritanya lagi seneng bahagia luar biasa, masa cuma gini doang. Sini sayang aku kangen tadi pagi belum cium kan?"
"Nggak mau, aku mau pulang, sana kerja!" ujar Rania terus menghindar saat Ray mendekat.
"Astaghfirullah ... Dek, sumpah demi apa kamu jadi istri ngeselin banget. Masa meluk dan cium sampai harus kejar-kejaran gini."
"Stop Mas! Jangan mendekat, nggak mau pokoknya!" ujar Rania antara mau nangis, sedih, dan lucu.
Rania menutup mulut, hidung dan memejamkan matanya saat Ray berhasil menciumi pipi dan kepalanya dengan gemas.
"Udah ...." ucap Rania mendorong Ray. Tapi pria itu malah berusaha semakin dekat karena gemas. Membuat kedunya bergumul di sofa dengan Ray yang memaksa gemas dan Rania menjerit pasrah.
"Maaf Dok! Astaga!" Axel yang masuk setelah mengetuk dibuat melongo dengan tingkah atasanya yang seakan memangsa istrinya di ruangan.
Ray dan Rania terdiam dengan tatapan tertuju pada Axel yang berdiri di ambang pintu.
"Apa Xel, ganggu aja kerjaan kamu!" sewot Ray menengadah tanpa dosa.
"Dokter mau perkosa istrinya?" Ray mendelik mendengar pertanyaan asistennya yang cukup sembrono itu.
"Iya bener, Mas Ray udah dibilangin nggak mau juga, maksa banget," keluh Rania mengutarakan risalah hatinya.
Ray terbengong, bagai terpojok terpaan asistennya diperkuat istrinya. Jadilah siang itu pria itu berasa tersangka.
"Sebenarnya saya mau bilang lanjutkan Dok, tapi dokter harus ingat sepuluh menit lagi harus naik ke ruang OK!" pesannya dengan senyuman ledekan.
"Sudah tahu! Sana minggat dulu, lima menit lagi saya sampai!" usir Ray kesal.
Rania cekikikan sendiri melihat keduanya yang terlihat seperti Tom and Jerry, namun saling membutuhkan.
"Dek, aku harus nangani pasien. Cium aku dulu, pakai kuah. Aku butuh asupan energi lebih. Aku bahkan belum sarapan pagi ini gegara debat dengan kamu."
"Mohon maaf Mas, sepertinya kamu harus puasa selama beberapa bulan ini. Karena anak kita tidak menyukai dirimu," jawab Rania tersenyum lucu melihat ekspresi Rayyan yang nampak galau.
"Astaghfirullah ... ribet amat tuh bocah, belum juga lahir sudah bikin bapaknya susah. Sini aku lihat, pengen aku kasih tahu padanya."
Ray langsung berjongkok di depan tubuh Rania, menyingkap pakaian atasnya lalu mencium pusarnya. Rania sampai memekik gemas kala Ray terus menciumi perutnya.
"Mas, udah, geli ... ya ampun ... jangan gini dong, kamu membuat aku geli."
Rania sedikit membungkuk, kedua tangannya menangkup pipi Ray yang saat ini tengah menengadah menatap wajahnya.
"Bilangin ke babynya jangan nakal lagi, aku masih kangen."
Rania tersenyum seraya mengangguk lucu. Perempuan itu mengusap kepala suaminya dengan sayang lalu mencium keningnya.
"Udah sana! Kerja. Siang ini aku mau ke kampus," pamit Rania mengangguk.
Ray berdiri dengan agak berjarak, tangannya mengusap pipi istrinya dengan lembut. Lalu tersenyum meninggalkan ruangan. Rania sendiri menggeleng pelan melihat tingkah suaminya yang terdeteksi bucin dan posesif parah. Ia tidak bisa membayangkan kalau ke depannya nanti benar-benar tubuhnya merespon tak suka pada suaminya gegara hamil. Pasti suaminya akan uring-uringan tidak jelas.