Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 113


Rania begitu kecewa mendengar fakta ini, betapa ia ketakutan waktu itu. Walaupun Ray pada akhirnya menyelamatkan, tetapi kalau dia otak dibalik semua itu jelas Rania marah dan begitu menyayangkan. Ia hanya ingin sendiri dulu, turun dari mobil dan langsung menuju kamarnya.


"Dek, please ... maafin aku, aku nggak mungkin setega itu nyakitin kamu apalagi berencana ngancurin kamu lewat orang lain." Ray mengekor istrinya yang berubah begitu dingin dan acuh.


"Bisa tolong tinggalkan aku sendiri? Aku lagi pengen sendiri, Mas, tolong ngerti," tekan Rania menatap sendu.


Pria itu hanya mengangguk lesu lalu keluar kamar terduduk di ruang tengah. Kesal lebih tepatnya, sesuatu yang dulu dianggap tak akan menjadi masalah terendus juga oleh orang lain.


"Sial, Jo beneran cari perkara, maunya apa sih tuh bocah!" geram Ray mengepalkan tangannya. Hatinya begitu dongkol dengan kejadian ini. Ikut sakit melihat Rania-nya menangis kecewa karena dirinya.


Sementara Rania sendiri masih diselimuti perasaan mendung. Lekas bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi, berharap sedikit rileks dari penatnya hari yang cukup melesakkan hati. Untuk Ray sendiri tentu tak tinggal diam, walau sudah diusir-usir tentu saja pria itu tetap mencoba mendekat. Ya walaupun Rania masih tetap setia mengunci mulutnya rapat-rapat alias mogok bicara.


Bukan hanya itu, sepertinya istrinya itu juga tak berselera makan. Ray menawarkan berbagai menu makan malam pun tidak ditanggapi sama sekali. Istrinya ngambek beneran, alias mode marah.


Pria itu terus mencari cara agar istrinya mau bicara padanya. Atau setidaknya menjawab pertanyaan yang sengaja Ray tanyakan. Karena didiemin istri itu neraka baginya, menakutkan dan terancam tidak mendapatkan ketenangan batin lantaran gigit selimut.


Pria itu mondar-mandir di kamarnya sambil mencari cara untuk membuat istrinya mau tidak mau membuka mulutnya.


"Duh ... gimana ya? Masa diem-dieman kaya gini sih nggak asyik banget. Mana jutek banget natapnya, astaghfirullah horor ini mah!" gumam Ray resah sendiri.


Mendadak otak pintarnya dipenuhi lampu pijar terang dengan sebuah ide yang cukup briliant. Pria itu sengaja mengeratkan semua tutup kosmetik istrinya. Mulai dari serum, cream, pelembab, dan botol-botol parfum. Semua yang ada di atas meja rias Ray eratkan. Berharap istrinya akan kesulitan membukanya lalu meminta tolong.


Misi pertama sudah beraksi nunggu hasilnya. Sangat berharap perempuan itu memanggil namanya dengan rengekan manja meminta tolong. Sungguh Ray kangen hal itu, berjam-jam rasanya kaku harus sama-sama diam membisu.


Setelah misi pertama terealisasi, tak sampai di situ, otak jailnya berfungsi aktif sengaja membuat istrinya kesal tetapi butuh dirinya. Sengaja menyembunyikan ponsel milik istrinya, yang pastinya perempuan itu akan terus mencari sampai meminta tolong.


Tepat saat Rania membuka pintu kamar mandi, Ray pura-pura sibuk dengan ponselnya. Melirik istrinya yang memasuki ruang ganti. Bergegas pria itu masuk ke kamar mandi lalu membersihkan diri, membayangkan istrinya yang tengah cemberut lalu merengek mendekati dirinya.


Cukup sepuluh menit pria itu merampungkan aktivitasnya di kamar mandi. Keluar dengan tenang walau sebenarnya hatinya gelisah. Pria itu melirik istrinya yang tengah menyisir rambutnya, sepertinya sebentar lagi rencananya akan berhasil. Benar saja, setelah merapikan mahkotanya, Rania tergerak mengambil botol serum. Seperti dugaannya, tentu saja perempuan itu tidak berhasil, berkali-kali mencoba, hasilnya zonk. Rasanya Ray ingin tertawa tetapi ia memilih pura-pura tidak tahu saja. Berjalan perlahan ke ruang ganti berharap Rania menyerukan namanya.


Ayo sayang ... panggil aku!


Ray menanti-nanti itu, namun tak kunjung terdengar. Mungkin istrinya sudah berhasil? Entahlah! Pria itu menutup tubuhnya dengan kaus pendek rumahan dan celana di atas lutut. Dengan rambut sedikit basah, tentu membuat penampilan ala rumahan pria itu terlihat lebih tampan dan mempesona.


Sementara Rania terdengar sibuk menggerutu, bahkan mengomel sendirian dengan benda-benda penunjang penampilannya yang pastinya sudah masuk dalam perangkap suaminya.


"Ya ampun ... ini kenapa pada nggak bisa dibuka sih, perasaan aku nggak pernah nutup seerat ini," gumam wanita itu sebal sendiri.


Ray yang saat itu sudah keluar dari ruang ganti nampak berjalan santai begitu saja. Duduk dengan tenang di bibir ranjang setelah menyambar sisir. Menata rambutnya sembari mengintip ekspresi wajah istrinya yang ditekuk berkali lipat.


Duk!


Terdengar perempuan itu mengetuk botol serum di meja begitu keras saking kesalnya. Tingkat kedongkolannya bertambah saat melirik suaminya tengah asyik sendiri tanpa niat membantu kesusahannya. Jelas sekali Rania gengsi untuk menegur, saat ini posisinya tengah marah, jadi lebih memilih mengekspresikan dengan membenturkan salah satu botol kosmetiknya ke meja. Lalu melirik sengit suaminya sebelum akhirnya keluar dari kamar.


"Eh, kok nggak minta tolong? Tambah marah dong. Ngeri ini mah, apes!" gumam Ray turun dari ranjang.


Mengekor istrinya yang nampak sibuk di dapur.


"Dek, mau bikin teh ya? Teh sepertinya enak juga ya buat menghilangkan hausku," sindir Ray mendadak kurang perhatian. Biasanya perempuan itu akan dengan senang hati menawarkan dengan begitu perhatian. Namun, jangankan tawaran lembut, disindir malah balas melotot tajam.


Rania menatapnya dingin, wajahnya mrengut. Mungkin bisa jadi garis kerutan mulai muncul di usia dini kalau suaminya terus berbuat menjengkelkan begini. Tetap membuat teh namun sengaja tanpa gula. Menghidangkan tepat dihadapkan suaminya.


"Makasih sayang," gumam pria itu tersenyum. Semoga gunung es segera mencair atau bisa menganggur malam ini.


"Sayang, kok pahit? Gulanya habis ya?" Refleks Ray menanyakan hal itu.


"Iya, gulanya hanya dipermukaan sebagai pemanis saja. Isinya pahit nyampai ke hati," jawab Rania menyindir. Sekali jawab tentu bikin hati pria itu berdenyut nyeri.


Pria itu gemas dan mengacak rambut dirinya frustrasi.


"Oke, percobaan pertama gagal, semoga percobaan kedua lancar," batin Ray harap-harap cemas.


Benar saja saat Ray masuk kamar, Rania tengah mencari-cari benda pipih yang sudah diamankan olehnya.


"Ke mana sih, orang jelas banget tadi di kamar sebelum mandi sepertinya aku taruh di sini!" gumam Rania jengkel. Terlihat mukanya memberengut.


Ray kali ini merubah strategi, mencoba menawarkan jasa bantuan walau sengaja mengulurnya.


"Cari apa sayang?" tanya Ray mendekat pura-pura polos.


"Cari keadilan!" jawab Rania murka. Menyorot suaminya penuh selidik.


"Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."


"Perlu bantuan? Nampaknya barang yang kamu cari penting?" Ray masih setia mendrama. Ia lebih suka istrinya yang jutek dan marah-marah ngambek dari pada diem kaya kuburan. Serem dan menakutkan.


"Kok nyantai, bantuin dong!" sewot Rania mengomel.


"Bantuin apanya? Nyari keadilanya?" tanya Ray sengaja kaya orang tidak pintar.


"Ngeselin banget sih! Handphone!" todong Rania pada Ray dengan nada galak.


"Owh mau pinjam handphone aku, bilangnya yang lembut dong sayang. Kamu tuh nggak cocok kalau galak, makin imut dan bikin aku gemesh." Ray mendekat.


"Stop, jangan berani menyentuhku!" ancam Rania sadis.


"Sejak kapan ada undang-undang suami dilarang menyentuh istrinya?"


"Sejak hari ini, di rumah kita. Aku masih marah, ini kenapa pasword ponsel kamu ganti?" tanya Rania meninggikan suaranya.


"Nggak kok, masih sama. Sini aku bantuin bukanya, deketan sayang."


"Hih nggak mau, sebutin!"


"Nggak mau juga kalau galak-galak!" Ray ikut membalas sengit.


"Aku banting ya?" ancam Rania serius.


"Astaghfirullah ... kenapa jadi Lampiasin ke barang. Itu tuh nggak aku ganti, tapi emang harus pakai sidik jari aku."


Setelah berhasil membuka ponsel suaminya. Rania bergerak cepat melakukan panggilan ke nomor dirinya. Perempuan itu mengikuti arah suara deringan ponsel yang memekik.


"Di mana sih, minggir dong Mas, suaranya di sini!" usir Rania menuju ranjang.


Ray tidak bergeser membuat Rania gemas saja. Dengan cekatan membuka selimut yang terbentang di atas kasur.


"Di sini ternyata, kok bisa pindah tempat sih!" dumel wanita itu menemukan ponselnya di atas ranjang tertutup selimut.


Wajahnya sedikit lega berhasil menemukan benda kesayangannya itu.


"Eh, kok nggak bisa?" geram Rania membuka pasword ponselnya yang tidak mungkin salah. Berkali-kali mencobanya kunci layar tidak bisa dibuka membuat perempuan itu kesal. Akhirnya memutuskan untuk tidur saja meredam amarah seharian ini.


Wanita itu menata guling di tengah-tengahnya, membuat Ray menatap dengan batin nelangsa.