Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 36


Rania tidak menanggapi ocehan Jeje yang sepanjang perjalanan pulang membahas dokter-dokter tampan di rumah sakit dengan begitu antusias. Tak jarang wajah gadis itu mengeluarkan mimik bahagia, ada juga bersedih hati karena merasa dokter pembimbing mereka kejam dan tak punya hati.


"Ra, lo kenapa sih, stress banget ya dengan tugas ini, sampai nggak minat tersenyum. Jangan terlalu spaneng bestie, walaupun harus serius juga sih, tapi kewarasan itu penting."


Rania lagi-lagi tidak menanggapi ocehan teman sejawatnya. Ia sibuk sendiri dengan pikiran yang melanda hati. Entah mengapa ia kepikiran Dokter Rayyan, lebih tepatnya kepikiran dengan apa yang telah terjadi diantara mereka, sungguh Rania tidak mengerti hubungan seperti apa yang tengah mereka jalani.


"Astaga, Rania! Lo nggak dengerin gue ngomong?"


"Eh sorry Je, sorry gue sedikit kurang enak badan," ujarnya seraya memijit tengkuknya yang memang terasa berat, sepertinya bukan hanya lelah fisik, namun juga lelah hati.


"Atau nggak jadi aja kalau lo butuh istirahat? Kita bisa buat jadwal minggu depan pas ada waktunya."


"Eh, jangan, jarang-jarang lho ya kita pulang tepat waktu gini. Mending kita manfaatin buat merefresh otak yang semakin oleng."


"Jadi barberquean?"


"Kata Asa idenya menarik, tapi itu buat akhir pekan aja saat ada liburan. Gimana kalau kita karaokean aja, seru kan pastinya."


"Oke, aku sekalian hubungi Jovan ya siapa tahu dia juga udah kangen pengen ketemu."


"Ceileh ... bukannya baru ketemu kemarin, tuh bekasnya masih banyak begitu," ujar Jeje menyadarkan kebodohannya. Seketika Rania mengurungkan niatnya untuk menghubungi kekasihnya.


Walaupun Rania dan Jovan jarang bertemu lantaran kesibukan keduanya, lebih tepatnya kesulitan membagi waktu untuk Rania yang punya jadwal padat merayap hingga shif malam. Membuat pertemuan mereka sering dipertaruhkan dan di sini Jovan sebenarnya sering protes bahkan marah, sempat putus nyambung, putus walaupun akhirnya nyambung lagi.


"Oke deh, malam ini kita have fun tanpa pacar dan doi-doian."


"Asyik, Asa dan Kenzo bisa," pekik Jeje girang.


"Tama masih fifty fifty, mau ngerjain tugas sama besok ada ujian, belajar persiapan dulu. Katanya mau nyusul kalau masih ada waktunya."


Malam itu Rania benar-benar kembali ke dunianya. Melupakan semua rasa cemas, deg degan yang melanda, menikmati malam dan harinya dengan ceria. Biarlah urusan besok untuk besok saja, rasanya ia ingin membuat hatinya bahagia tanpa tekanan yang berarti.


Pulang bersama Jeje dan kawan-kawan ke rumahnya, menjalani hari-hari dengan seabrek kegiatan lagi di esok hari dengan lebih percaya diri. Semenjak kejadian itu, Rania dan Rayyan bagai orang asing yang tidak mengenal ataupun bersinggungan. Intensitas pertemuan mereka juga jarang selama sebulan terakhir ini, membuat Rania sudah mulai merasa biasa, dengan lingkungan. Walaupun jujur dari hati gadis itu merasa sedikit kehilangan, namun ia mencoba menguasai hati toh memang pada dasarnya mereka tidak punya ikatan apapun.


Rania bersyukur saja pria itu tidak pernah mengunjungi atau mencari keberadaannya. Hubungan dengan Jovan juga banyak kemajuan, mereka sering menghabiskan waktu berdua saat ada waktu bersama. Membuat hidup keduanya penuh warna, walaupun masih sering dibumbui pertengkaran kecil diantara keduanya.


"Ra, kopi?" tawar Asa saat mereka tengah berjaga malam hari di bangsal.


"Boleh Sa, mau dong gue ngantuk berat," ujarnya seraya mengeratkan pelukan. Suasana dini hari sekitar pukul setengah dua sangat dingin menembus kulitnya.


Saat masih ngantuk-ngantuknya di tempat duduk, tiba-tiba ada yang mengetuk kaca di depan Rania. Seorang bapak-bapak pegawai rumah sakit, yang Rania juga sering menjumpai.


"Permisi Dok, kopinya," ujar bapak tersebut sembari menyodorkan kopi cup dari tangannya.


"Eh, iya Pak makasih, Asa mana Pak?" tanya Rania sembari clingukan. Bapak tersebut pergi tanpa menjawab. Rania pun cuek saja dan meminumnya, Hingga beberapa menit nampak Asa membawa dua cup kopi di tangannya.


"Ra, nih pesenan lo, lhoh kok lo udah minum?" Asa bertanya dengan heran.


"Lo nitipin ke pegawai rumah sakit kan?" Rania balik bertanya.


"Nggak kok, beneran ini mah ada penggemar terselubung, sering banget kan lo dapat kiriman makanan, dan kopi cup kaya gini," ujar Asa mulai menghubungkan kejadian demi kejadian yang menimpa sahabatnya selama hampir sebulan terakhir ini. Sahabatnya itu sering sekali mendapat kiriman tak terduga.


Entah mengapa Rania mendadak kepikiran dengan satu pria yang sebenarnya mulai mengusik hati dan perasaannya. Walaupun saat mereka tak sengaja bertemu pria itu terlihat tak peduli, namun Rania mulai yakin semua perhatiannya dari dia.


"Sa, gue mau ke atas, ada mandat," ujarnya meninggalkan ruang jaga.


Rania berjalan menuju lift yang nampak sepi, saat ia sudah masuk seseorang menyusul dari belakangnya. Gadis itu terkesiap saat menyadari pria itu adalah Dokter Rayyan.