
Ray berangkat begitu saja setelah menggumamkan salam. Pria itu tengah mode selevel lebih akut dari pada ngambek, jadi jangankan cipika-cipoka romantis nan harmonis. Prakata sweet pun tak terselip. Membuat pagi Rania yang manis ambyar sudah terselip rasa jengkel yang begitu miris.
"Dasar pundungan! Awas aja nanti pulang nyariin, sok dingin nggak butuh! Keselll!" geram Rania sembari menghabiskan sisa sarapan paginya dengan mood berantakan.
Rania yang jengkel berlanjut, dan Ray yang cukup uring-uringan di rumah sakit. Mendadak ia mode dingin selevel frezzer berkekuatan seratus watt saingannya di rumah.
"Axel ....!" pekik pria itu meninggikan suaranya.
"Iya Dok, i'am coming!" jawab pemuda itu menghadap.
Dokter Ray menutup telponnya dengan kesal, lalu melempar ponselnya di sofa ruangannya. Entah lah, bawaanya selalu ingin marah-marah jika sedang tak enak hati dengan istrinya. Rasanya pengen gigit, pengen ngiket terus diapain supaya perempuan itu nurut kaya kucing kesayangan tetangga yang penurut.
"Astaga! Kok jadi bawa-bawa kucing tetangga. Bisa gila beneran kalau Rania ngambek terus jadi ke Jerman. Tidak bisa dibiarkan, mana bisa aku LDR-an lagi. Bisa ngenes aku berasa duda karatan kurang belaian. Ini lebih menakutkan dari jeritan emak-emak yang mau melahirkan!" gumam Ray resah sendiri.
"Oh ... otak, ayolah ...! Konsentrasi! Saat ini sudah di rumah sakit, fokus kerja dan kerja. Pekerjaan kamu menyangkut nyawa orang. Profesional!" batin Ray menyakinkan.
Mengambil napas banyak, lalu mengeluarkan dari hidung. Terus menerus sampai merasa lega.
"Dokter manggil saya?" tanya Axel baru muncul ke permukaan, eh ruangan ding setelah menghitung langkah kaki sampai di ruangan yang saat ini seperti kuburan. Angker bin horor.
"Lelet banget sih jadi orang, ngalah-ngalahin siput! Kalau jalan tuh jangan ngitung lantai keramik, bikin jengkel aja!"
"Kok dokter tahu, ah ... nggak asyik. Menurut dokter berapa kotak yang berhasil aku lewati?" gurau Axel paling hobby candain atasanya yang pasang mode singa.
Keakraban keduanya yang masih berbau saudara membuat pria yang bertugas membantu segala keriwehannya itu tidak ada takut-takutnya. Hobi ngebanyol dan banyak serius perihal pekerjaan.
"Kamu mau saya pecat! Aku pulangin ke Mars biar ngilang sekalian!"
"Jangan Dok, belum kawin! Kalaupun aku ke mars setidaknya impian diriku pergi berbulan madu dengan kekasihku. Mungkin akan dengan senang hati aku dikirim ke sana!"
"Mimpi aja biar nyungsep!"
"Sakit dong!"
"Bodo amat, kalau masih mau napas di rumah sakit, cepetan beliin aku sarapan, plus kopi di starbucks yang paling enak! Cepet! Aku ada jadwal operasi jam sepuluh dan sebelum jam itu mood aku harus sudah baik!" titah pria itu galak.
"Memangnya di rumah tidak sarapan ya Dok? Bukannya istri Dokter yang cantik itu sudah pulang?" tanya Axel dalam bahaya.
"Kamu mau saya operasi mulut kamu yang banyak nanya!" sembur Rayyan mendelik kesal.
"Astaga! Galak beud, mode ngamuk gawat!" gumam Axel lirih.
"Apa lihat-lihat! Cepet!" Rayyan mendelik garang.
"Siap, Dok!" jawab Axel bergegas.
"Aneh sekali tuh dokter satu, dasar!" gerutu Axel sembari keluar dari gedung rumah sakit.
Pria itu segera membeli sesuai pesanan yang diperintah. Saat Axel kembali ke rumah sakit menemukan istri dari bosnya itu tengah berjalan ke ruangannya.
"Dokter Rania?" sapa Axel ramah.
Pasalnya hanya perempuan itu yang mampu menjinakkan atasannya yang saat ini mungkin tengah ngamuk di ruanganya. Atau marah-marah tidak jelas melampiaskan pada orang yang tidak bersalah. Atau bahkan bisa jadi tengah menyelami perasaannya yang saat ini terlihat kacau.
"Hai Axel! Mau ke ruangan Mas Ray?"
"Owh ... biar aku saja," ujar Rania tersenyum.
"Alhamdulillah ... ide bagus Dok, saya permisi!" Axel bernapas dengan lega.
Rania masuk begitu saja setelah mengetuk pintu tanpa membuka suara.
"Lama banget sih! Lapar tahu!" bentak Ray kesal sembari memutar tubuhnya menghadap pintu. Pria itu menelan saliva gugup begitu melihat yang muncul bukan Axel melain tersangka utama yang membuat hatinya gundah gulana resah tak berkesudahan.
"Lapar ya, salah siapa ninggalin sarapan!"
"Ngapain ke sini?" tanya Ray dingin. Sok jual mahal, melanjutkan uneg-uneg risalah hatinya.
"Nggak usah GR, yang jelas bukan nemuin kamu. Males banget nemuin suami galak!" cebik Rania berbelok setelah menaruh paper bag makanan di meja sofa.
"Eh, udah datang tak diundang pergi tanpa pamit. Maumu apa sih, Dek! Ngajakin berantem!" Ray kesal melihat Rania yang hendak meninggalkan ruangan. Pria itu segera menghadangnya.
"Minggir!"
"Nggak boleh, ngapain ke sini?"
"Kepo!" jawabnya kesal.
"Biarin, emang kepo sama istri nggak boleh?"
"Nggak boleh! Minggir!" Rania mendelik kesal.
Ray yang gemas langsung mengangkat tubuh mungil istrinya dalam gendongan lalu menjatuhkan ke sofa dengan pelan.
"Ngapain sih!" protes Rania saat Ray mengunci tubuhnya di badan sofa.
"Dari mana?" tanya Ray lembut.
"Dari rumah."
"Ngapain ke rumah sakit?"
"Kemarin disuruh, sekarang nanya. Tahu lah minggir."
"Hasilnya?" tanya Ray mulai melunak.
"Ketilep sama pundungan. Kesel!"
"Kamu pikir aku nggak kesel, maksudnya apa ngasih brosur ke Jerman? Mau pamer dapat beasiswa gitu?"
"Kok ngomongnya ngeselin, sih. Aku rela ninggalin itu semua, impian aku untuk menjadi dokter dengan pendidikan di sana demi kamu, Mas! Demi kamu! Kalau kamu ngeselin gini mending aku berangkat sekalian." Rania yang giliran marah matanya mulai berkaca-kaca.
Ray paling tidak bisa melihat istrinya nangis, satu-satunya cara meredam emosinya adalah menariknya dalam pelukan.
"Maaf, Dek! Jangan pergi, jangan marah-marah. Udah Mas minta maaf."
Tiba-tiba Rania merasa mual dipeluk Ray dengan erat. Perempuan itu menutup mulutnya dengan gelengan tak minat.
"Sayang, jangan bilang kamu alergi tubuh aku."