
Gadis itu menjerit seraya meronta sekuat tenaga. Berusaha keluar dari posisi yang sama sekali tidak menguntungkan baginya. Suara jeritan Rania sampai mampir pada telinga orang-orang yang berada di rumah, sontak berebut mengunjungi arah sumber suara.
"Rania! Kamu nggak pa-pa?" tanya Eyang Rasdan khawatir.
"Brengsek!" umpatnya bergerak cepat mencengkram dan menghempaskan tubuh pria kurang ajar itu ke tembok.
Dengan penuh amarah yang meluap, pria itu mencekal seseorang yang hendak kabur melalui celah jendela yang terbuka. Keduanya beradu jotos dalam kegelapan. Saat hendak menarik penutup mukanya, pria itu berhasil melesat walau sempat dihempaskan ke sisi tiang.
"Sial! Beraninya kamu menyentuh wanitaku!" geramnya murka mendapati seseorang dibalik topengnya lolos melarikan diri.
"Rania!" Ia kembali masuk dengan muka cemas, sebelumnya kembali menyalakan KWH meter yang sengaja dibuat padam oleh orang tak bertanggung jawab itu.
Gadis itu masih menangis sesenggukan ditenangkan eyang putri. Masih dengan tubuh yang bergetar ketakutan, bahkan tak membiarkan eyang beranjak sedikitpun dari dekatnya.
"Ra, kamu nggak pa-pa?" tanya Dokter Rayyan khawatir.
Seketika Rania berhenti menangis lalu mendongak mendengar suara yang sangat familiar itu.
"Kok Dokter ada di sini?" tanya Rania penuh selidik, matanya masih basah namun rasa penasaran itu menguasai dirinya.
Rayyan berjongkok di lantai menghadap gadis itu, sementara eyang berdiri di samping Rania yang duduk di bibir ranjang sembari menenangkan cucunya.
"Dia baru saja datang bertamu, duduk berbincang dengan eyang tiba-tiba kamu menjerit histeris, tentu saja kami kaget," papar eyang membuat Rania kembali terperangah.
"Dia ngobrol sama Eyang? Terus yang tadi masuk siapa?" tanya Rania semakin resah.
"Kenapa Ra, kamu nuduh aku?" tanya Rayyan menatapnya lekat.
"Sepertinya kamu shock berat biar eyang ambilin minum dulu," ujarnya meninggalkan Rania yang masih terlihat kaget.
"Ra, aku nggak mungkin lakuin itu, sekalipun sangat menginginkan, terkecuali kamu juga mau," ucapnya lembut. Menggenggam tangan Rania yang masih sedikit gemetar.
"Kok bisa kecolongan gini sih, gimana kalau seandainya orang itu jahatin kamu, lain kali dikunci jendelanya," pesan Rayyan serius.
Rania yang masih terlihat ketakutan menahan tangan Rayyan ketika pria itu hendak beranjak.
"Jangan pergi, aku takut sendirian," ujarnya lirih. Rayyan tersenyum mendapati Rania menahan dirinya.
"Di rumah kan ada eyang, aku pulang dulu ini sudah malam. Jangan lupa tugasnya dikerjakan, ingat perjanjian pra koas kita, kamu belum menandatanganinya. Besok pagi jangan lupa setor ya?" ujarnya kembali ke mode kalem.
Eyang putri masuk membawa segelas air putih. Rania segera meminumnya. Karena merasa takut, Rania meminta eyang untuk menemani dirinya tetap di kamarnya.
"Eyang, Rayyan pulang dulu ya, kalau ada apa-apa telepon saja, insya Allah saya pasti datang," pamitnya sembari menyalim eyang dengan sopan.
"Terima kasih nak Rayyan, hati-hati di jalan," ujarnya ramah.
Keesok paginya, Rania berangkat seperti biasa lebih awal dari jam yang terjadwal di atas kertas. Ikut apel pagi pukul tujuh, mengisi log book dan bersiap menjalankan tugas kemanusiaan hari ini.
Gadis itu ingat betul dengan kejadian semalam, dan entah mengapa pandangan dirinya terhadap Dokter Rayyan menjadi berubah, entahlah. Apa karena semalam telah menjadi super heronya, atau sebenarnya ada udang di balik rempeyek, eh ralat, ada sesuatu yang disembunyikan dari pria misterius itu.
Entahlah, yang jelas tugas Rania pagi-pagi itu memasuki ruangan private Dokter Rayyan yang bahkan orangnya saja belum hadir. Cie ... kenapa Rania jadi mencari-cari sosoknya, apakah dia merasa bersalah ... atau otaknya telah sedikit terkontaminasi dengan namanya?
Rania merapikan meja kerja di ruangan itu, menyiapkan cup kopi sesuai pesanannya, dan tak lupa sarapan yang sudah tersaji di atas meja kerja. Berdasarkan point kesepakatan yang akhirnya Rania sepakati tanpa paksaan sama sekali, anggap saja sebagai penebus perjanjian yang tertunda karena gadis itu pada kenyataanya minggat sebelum finish atau kontrak mereka dua minggu terdahulu diselesaikan.
Rayyan masih menganggapnya hutang dan Rania wajib membayarnya yang dituntut dengan limpahan perhatian, bonus kasih sayang kalau ada, tetapi sepertinya memang sudah ada. Disadari atau tidak, Rania mulai sering memperhatikannya semenjak kejadian malam itu, walaupun sikapnya di rumah sakit selalu dingin-dingin es balok, tetapi itu malah yang membuatnya menjadi penasaran akan perubahanya selama ini.
Suara derit pintu yang bergerak menginterupsi atensi gadis itu. Spontan Rania mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan menemukan Rayyan yang menyembul dari balik pintu.
"Pagi Dok, semua pesanan sudah saya siapkan, semoga suka untuk menu pagi ini," sapa Rania seperti biasa. Sudah seminggu lebih selama di stase bedah Rania berkewajiban menyiapkan sarapan pagi konsulennya. Itu jelas versi ngadi-ngadi tetapi Rania mulai terbiasa.
"Hmm, makasih Ra," jawabnya seperti biasa cuek dan dingin. Tak jarang Rania kesal dan dibuat penasaran setengah mati karena Rayyan bersikap datar saja.