
"Mas, aku marah beneran kalau ini! Mandi!" sewot Rania galak.
"Iya sayang, iya ... astaghfirullah galak amat sih!" protes Ray santai.
Rania lebih dulu menyelesaikan ritual bebersihnya lalu membuat minuman hangat. Suhangat kesukaan suaminya dipadukan dengan dua helai roti berselai kacang dan coklat. Cukup untuk mengganjal perut buat sarapan mereka yang mepet waktu.
"Mas, kok kamu santai banget sih, emang hari ini nggak ada jadwal?" tanya Rania gemas. Dirinya sudah kalang kabut nyiapin ini itu Ray malah terlihat sangat tenang-tenang saja.
"Ada tapi siang. Ini juga masih setengah delapan."
"Ya ampun ... aku kan masuk jam delapan. Buruan!" omel Rania galak.
"Hmm, udah siap kok," ujar Ray tenang. Minum suhangat dan menggigit rotinya sambil berjalan.
"Ayo Dek, udah ini!" giliran Ray yang bertindak sesimpel itu.
Perjalanan jam kantor memang rawan macet dan itu terjadi hampir setiap hari. Bahkan mobil mereka baru sampai di rumah sakit jam delapan lewat. Membuat perempuan itu cepat bergegas.
"Assalamu'alaikum ....!" ucap Rania mengambil tangan suaminya yang masih sibuk melepas seatbelt.
"Waalaikumsalam ... eh Dek, astaghfirullah ... belum cium kening sayang!" teriak Ray merasa ada yang kurang.
"Nanti aja Mas," ucapnya lalu.
Ternyata bukan hanya Rania yang telat, bahkan dua sahabatnya juga terlihat tengah terburu-buru di Koridor setengah berlari menuju ruang radiologi.
"Astaga, kok bisa barengan?" Asa, Jeje, dan Rania saling menunjuk lalu berjalan cepat.
"Kompak banget deh kita!"
"Semoga fotonya hari ini nggak banyak."
"Aamiin ....!" koor kedua sahabatnya serempak.
Seperti biasa masih lumayan santai, namun berhubung besok ujian jadi dari mereka selain menyelesaikan tugas juga nampak sibuk belajar dan diskusi di ruang tunggu. Hingga menjelang istirahat siang menunggu giliran baca foto yang diawasi langsung konsulen.
Hari terakhir sebelum ujian hampir semua teman-teman diperbolehkan masuk ke ruang MRI. Biasanya cuma dokternya saja, namun kali ini koas berkesempatan menyaksikan langsung pemeriksaan pada pasien di ruang itu.
Tak berselang lama istirahat siang, Rania berniat mengunjungi ruangan suaminya tetapi malah nampaknya sedang ada tamu. Perempuan itu pun mengurungkan niatnya. Jauh-jauh mlipir ke ruangan suaminya ternyata zonk. Perempuan itu memilih ke belakang ngadem di kamar koas khusus putri.
Lumayan tenang, selain bisa belajar, di sana juga bisa rebahan plus makan. Rupanya ada bagia stase lain juga yang ada di sana, jadi siang itu nggak sendirian dan cukup ramai.
"Astaga, itu yang tidur siapa?" tanya Rania yang baru bergabung.
"Siapa lagi kalau bukan si moddy," jawab Jeje.
"Ya ampun ... KO!"
"Lumayan capek emang, tapi yang begini yang bakal jadi kenangan. Setelah sekian purnama dan besok kita akan melewati hari terakhir di stase ini. Semoga lancar, aamiin ....!"
"Lo mah pasti lancar, suami lo jaminannya!" cibir Jeje tanpa filter.
"Astaghfirullah ... enak aja, usaha sendiri lah. Doi punya ruang sendiri dan aku juga, kita serius kalau lagi belajar, paling kalau nggak tahu aku bisa tanya-tanya. Tapi basic kita 'kan emang beda, jadi tuduhan lo itu salah. Gue nggak lewat jalur perboden ye Nyai?"
"Tapi kalau yang gue terawang nih ya, lo mah enak jadi istri pemilik rumah sakit. Kayaknya nggak bakalan ada tuh konsulen yang nggak ngelulusin lo."
"Kata siapa? Lo ingat nggak pas di stase obgyn ngulang ujian, itu artinya gue nggak dibeda-bedakan. Sesuai dengan kemampuan."
"Eh, tapi kan waktu lo belum married, beda dong sama sekarang."
"Belum tapi udah dekat, dari sejak awal koas malah, dan gue punya rahasia," bisik Rania lirih.
"Apaan?" tanya Jeje semakin kepo.
"Gue udah tinggal serumah," jawab perempuan itu membenarkan.
"Astaghfirullah ... nggak lah! Sadis banget segitunya, emang gue cabe-cabean."
"Cabe kriting lo mah. Kering di saat hati lo butuh perhatian!"
"Nggak gitu juga sih, waktu itu karena ada sebuah insiden yang akhirnya membuat gue dan suami gue dekat. Ray itu pantang menyerah dan tidak mudah putus asa. Ditolak tiga kali ya bakalan datang empat kali. Jadi percuma gue berusaha buat lari, tuh orang pasti sudah di garis finish."
"Ya ampun ... bucin dan sayang banget pastinya. Jadi ngiri? Terus gosip yang katanya dekat sama dokter Amel hoaxs nih?"
Rania hanya mengedikkan bahu acuh.
"Perasaan kita mau nyicil belajar, kenapa malah ngobrol."
"Hooh, padahal mah tinggal besok, kenapa sesantai ini. Ada apa dengan diriku yang sepertinya kena syndrom malas."
"Je, lo mau nggak gue kenalin sama dokter juga. Teman dekat Mas Ray di Medika."
"Siapa? Ada gitu yang masih single?"
"Ada lah, duren sih, tapi montong."
"Ganteng nggak?"
"Kalau itu mah relatif, kalau ditanya gitu ya pasti gue bakalan bilang paling ganteng suami gue."
"Idih ... sama-sama bucin. Dah lah repot! Eh, tapi serius siapa?"
"Ih ... beneran kepo! Tapi kalau mau nanti gue comblangin."
"Buruan penasaran!"
"Dokter Raka, Nyai ... gimana?"
"Hah! Doi duren? Beneran? Gue kira punya istri."
"Boleh juga kayaknya dicoba."
"Oke deal ya? Kapan-kapan kita dobel date."
"Yaelah ... kenal dekat aja belum udah mikir kejauhan. Tibanya sakit entar."
Keduanya malah bergosip random versi tipe masing-masing.
Sore harinya saat Rania selesai nugas, ia kembali ingin mengunjungi ruangan suaminya. Namun, baru saja memasuki lift, tak disangka pria itu ada di sana.
"Mas ... aku udah selesai, kamu sampai jam berapa?"
"Masih ada operasi sore ini bisa sampai malam. Kamu boleh pulang dulu sayang!" ujar Ray mempersilahkan.
"Owh gitu, ya udah berarti aku langsung pulang aja ya?" ujarnya lega setelah memberi tahu. Bisa lewat handphone tetapi berasa kurang.
Lift berhenti di lantai tiga menyisakan mereka berdua. Karena merasa tak ada kesempatan untuk bermanja, Ray pun langsung merapat pada istrinya dan menyambar bibir ranum itu tanpa permisi. Rania yang mendapat serangan tak terduga cukup kaget, namun akhirnya menikmatinya. Sampai keduanya dengan cepat memisahkan diri saat pintu lift itu terbuka. Dua sejoli itu saling memberi jarak dengan napas memburu. Rania dengan cepat keluar dari sana, diikuti Ray yang rasanya ingin tertawa.
"Mas, ngapain? Aku kan mau pulang?"
"Dianterin Axel saja, nanti aku telepon orangnya biar ke parkiran. Sini dulu!" Ray menarik dan membawanya ke mobil.
"Tadi belum selesai, aku pasti pulangnya malam. Cium dulu!"
"Ya ampun ... cepet-cepet tahunya minta servis! Kan tadi udah?"
Tak mendengar protes istrinya senja itu menjadi saksi betapa bucinnya dua sejoli ini. Membuat moment di dalam mobil.