Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 61


"Hibernasi bareng sama aku mau?" selorohnya menatap perempuan itu.


Rania hanya menanggapi dengan senyuman. Berdiri dari duduk yang nyaman, berencana untuk pulang karena senja sudah menyapa.


"Ra, mau ke mana?" tanya Rayyan ikut bergegas.


"Pulang, ke mana lagi memangnya," jawab gadis itu melangkah cepat. Rayyan mengikuti langkah Rania. Mereka menuju pintu yang sialnya menjadi susah untuk terbuka.


"Dok, ini kenapa ya, kok macet?" tanya Rania gusar.


"Masa' sih, tadi nggak kok!" Rayyan maju lebih dekat, mencoba membukanya namun tidak bisa.


"Duh ... mana hampir petang juga, masa macet sih!" Rania mulai gusar.


"Udah-udah nggak usah dipaksa, biar aku panggilin si ahli pintu, kamu munduran bentar, duduk di sini dulu dengan tenang. Tunggu ya?"


Rayyan baru sadar ternyata dirinya tidak membawa ponselnya dan meninggalkan di meja kerja. Ia pun masih terlihat tenang dan santai, jarang-jarang menghabiskan waktu berdua seperti itu, tentu saja pria itu cukup tenang.


"Mmm, Ra, ponsel aku ketinggalan, pinjam ponsel kamu, ada?" pinta Rayyan menengadahkan tangannya.


"Iya, Dok, ada." Rania merogoh saku jasnya dan menyodorkan benda pipih kesayangan sejuta umat itu.


"Passwordnya apa, Ra?"


Rania pun reflek saja menyebut sebuah angka cantik pada layar ponsel gadis itu. Bisa dengan mudah terbuka, pria itu segera mengetikan nomor namun selalu tidak pas, ya memang Rayyan tidak hafal, kurang kerjaan sekali sampai nomor telepon tukang servis pintu dihafalkan.


"Dok, kok lama?" tanya Rania mulai resah.


"Sorry, aku lupa nomornya, telepon yang kenal saja, biar minta karyawan rumah sakit untuk buka pintunya dari luar."


Rania bingung harus menghubungi siapa karena teman-temannya sudah pulang. Tersisa Kenzo dan Jeje yang tengah jaga malam, karena tidak ada pilihan perempuan itu pun akhirnya menghubungi sahabatnya itu. Namun, karena suasana IGD sedang hectic mereka mengabaikan saja tanpa ada jawaban.


"Nggak diangkat sih!" lapor Rania pada seseorang yang nampak santai. Berdiri dengan menyender tembok sembari memasukan dua tangannya ke saku celana.


"Ya udah, kita santai aja dulu, nikmati saja malam ini di sini sembari menanti pertolongan datang!" ujar Rayyan tenang.


"Lho, minuman tadi nggak beralkohol kok, cuma ada perasanya yang kuat, kamu nggak biasa minum gini ya?" Rayyan langsung menangkap tubuh Rania yang tidak seimbang.


"Dok," panggil Rania merasa tak nyaman. Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Udah, sini ... tenang ya? Nggak pa-pa kok, kamu perasaan minum cuma dikit 'kan?"


Rania terduduk diam, dengan kepala bersender di bahu Rayyan. Pria itu mendekap penuh kehangat, rindu, bahkan sangat merindukan wangi tubuh Rania yang sudah lama tak terendus oleh ya.


"Ayolah Ray, jangan nakal!" batin Rayyan mulai resah. Berdekatan dengan Rania selalu membuat syahwatnya berteriak.


"Ra, kamu masih pusing nggak?"


"Hmm, dikit Dok, kenapa?" tanya perempuan itu mengambil sikap tegap.


"Cari cara buat keluar dari sini yuk, dingin, aku butuh kehangatan. Eh, maksud aku, butuh udara ruangan yang hangat," ujarnya resah.


"Iya, Dok, aku juga dingin," jawab Rania jujur.


"Aku boleh peluk kamu nggak? Janji nggak lebih," pinta pria itu menatap Rania lekat.


"Kita keluar aja ya, aku harus pulang," tanggal Rania beranjak.


"Ra!" Rayyan menarik tangannya hingga gadis itu terjerembab pada pangkuan pria itu. Keduanya saling menatap dalam diam.


Rania hendak bangkit namun Rayyan menahannya. Mulut yang saling terdiam, mata yang saling bersirobok tanpa mau melepaskan satu sama lain. Pria itu mengikis jarak.


"Ra, aku kangen banget sama kamu, boleh ya?" pinta pria itu berbisik.


Rania bergeming, perasaannya belum yakin, namun tubuhnya merespon lebih. Pria itu menjatuhkan dagunya pada pundak Rania, mengusak lembut di sana. Menghirup wangi tubuh perempuan itu dengan seduktif. Jelas membuat kulit Rania meremang seketika. Saat Rayyan memberanikan diri menyesap kulit lehernya yang putih, tangan Rania mencengkram kuat kemeja Rayyan.


Pria itu mencumbu penuh perasaan, melukis banyak bintang di sana. Sementara Rania antara dibatas perasaan melayang dan resah. Entahlah, yang jelas perempuan itu merasa tak tenang. Takut lebih tidak bisa mengintrol tubuhnya yang mulai merespon baik saat pria itu semakin meminta lebih.


Puas bermain-main di sana, pria itu menarik diri dengan senyuman menghiasi wajahnya. Menatap gadisnya dengan penuh perasaan. Kembali menyatukan napas mereka, seakan alam menyambutnya dengan suka cita, petang itu mereka berdua diguyur hujan yang langsung menyapa keduanya. Mereka menikmati pergumulan lidah mereka di bawah langit petang dengan taburan air dari atas langit yang semakin membuat keduanya terlena.