
"Mas ....!" Perempuan itu terpekik dengan gerakan Ray yang tiba-tiba.
"Hmm ...." jawab pria itu dengan santainya. Tersenyum menyeringai.
Ia menurunkan Rania dengan perlahan di dalam bathtub berair hangat. Mandi bareng itu mengasyikkan untuk pasutri, selain meningkatkan semangat juga meningkatkan yang lainnya.
Ray merubah posisinya, dari yang semula berhadapan sekarang berpindah di belakang istrinya. Posisi yang mampu membuat Rania lebih merasa nyaman karena pijatan tangannya yang berotot.
Cukup lama keduanya beraktivitas di air. Berakhir dengan saling bilas.
"Udah Mas, lemes," ucap Rania protes.
Ray hanya tersenyum puas menatap istrinya, rasanya hal yang tidak mungkin kalau pria itu tidak membuatnya kesulitan untuk berjalan.
"Sakit? Maaf, pengennya gila-gilaan tapi kita mau perjalanan jauh. Takut kamu nggak nyaman."
"Pegel, ngilu, tahu akh!" jawab Rania lirih.
"Iya maaf, namanya puasa lama ya pasti gini," sahut Ray santai sambil membantu mengeringkan rambut istrinya.
Setelah olahraga ala pasutri halal, Rania benar-benar tepar dan langsung tidur. Perempuan itu merasa tubuhnya begitu lelah. Ray sendiri terlihat sibuk dengan ponselnya. Sepertinya ia menghubungi seseorang lalu kembali menutup benda pipih itu.
Ray mencium istrinya yang sudah terlelap, memeluknya penuh kerinduan. Akhirnya malam ini bisa tidur bareng-bareng lagi setelah satu purnama lebih bagai bujang kurang belaian. Malam ini istrinya kembali dalam dekapan manjanya.
Pagi-pagi Ray dan Rania terlihat lebih segar setelah mandi dan jamaah subuh bersama. Keduanya chek out lebih awal untuk menemukan jalanan yang belum padat.
"Ada yang mau dibeli?" tanya Ray memperhatikan istrinya yang banyak diam.
"Apa ya? Coba ke toko oleh-oleh Mas, kita bisa beliin buat mama sama eyang," ujar Rania.
Mobil Ray melaju pelan masuk di wilayah kota klaten. Pria itu menghentikan mobilnya di depan toko oleh-oleh khas klaten. Pengunjung tidak begitu ramai jadi keduanya leluasa memilih.
"Beli apa, Dek?" Ray mengekor istrinya yang terlihat sibuk sendiri.
"Ini kayaknya enak, penasaran juga. Sama ini ya Dek," ujar Ray menunjuk kripik. Setelah diteliti ternyata kripik belut. Rasa penasaran akhirnya mengambil beberapa bungkus.
Rania juga membeli kripik yang lainnya, rupanya selain belit ada juga kripik ceker dan juga peyek ikan chetul. Perempuan itu membeli beberapa bungkus, selain untuk cemilan bisa juga untuk dibagikan ke saudara nanti setelah sampai di Jakarta.
Puas berbelanja makanan khas Klaten, Ray kembali melajukan mobilnya. Saat tengah melintas tak sengaja melihat gerobak gorengan penjual kepel, dan seketika perempuan itu menyuruh suaminya menghentikan mobilnya.
"Mas, aku mau itu!"
"Apa sih, Dek? Di pinggir jalan kaya gini?" Ray kurang setuju.
"Nggak pa-pa yang penting kan bersih. Enak itu selagi hangat, mantap," kata Rania mengacungkan jempolnya.
Ray cukup menunggu di mobil saat istrinya turun membeli kepel. Makanan berbahan dasar gandum dan dicetak seperti kepelan tangan itu terasa nikmat disantap selagi hangat.
"Ayo Mas jalan!" titah perempuan itu seraya mengunyah gorengan yang baru dibeli.
"Enak?" tanya Ray penasaran.
"Enak lah, coba nyicip!" ujar Rania menyodorkan satu biji ke mulutnya.
"Enak kan?" kata perempuan itu dengan mulut sibuk mengunyah.
Usai ngemil, baru setengah perjalanan Rania tertidur. Hari sudah cukup siang. Pria itu pun mampir di rest area untuk rehat dan mengisi perutnya.
"Dek, bangun sayang," lirih pria itu mengelus-elus pipinya. Karena tidak mempan, Ray yang gemas langsung membangunkan dengan caranya yang paling ektrem. Di mana tangannya begitu nakal meraba anugerah milik istrinya.
Jelas membuat perempuan itu terusik, bahkan menggeliat manja. Untung tidak sampai mendes@h. Haha
"Mas, apaan sih! Mesum deh!" sewot Rania baru saja tersadar dari mimpi tak jelas.
"Dilembutin nggak mempan, ya udah dimesumin biar melek," jawabnya tersenyum tanpa dosa.
"Basah ya?" ledek pria itu berbisik.
"Ya ampun ... pengen gue hih, kalau lagi model gini. Ngeselin banget, untung sayang," dumel Rania dengan stok sabar tiada batas.
"Makan sayang, laper!" ajak pria itu santai.
Mereka berhenti di kedai bakso pinggir jalan. Sepertinya makan pentol siang hari gini enak. Setelah memesan menempati kursi di meja yang lengang.
"Makan sayang, kok malah bengong," tegur Ray mendapati istrinya begitu santai.
"Panas lah bentar."
Ray menukar miliknya yang sudah diberi tambahan kecap dan sedikit sambal. Yang sudah berubah menjadi hangat.
"Makasih," jawab perempuan itu nyengir.
"Kenapa nggak dihabisin? Kamu kan belum makan, tadi pagi sarapan roti doang."
"Tadi udah banyak ngemil, eneg." Rania yang biasanya pecinta bakso mendadak tidak bersemangat. Hanya makan sedikit saja itu pun setelah sedikit paksaan dari Ray.
"Ayo Mas, pengen cepet sampai," rengek perempuan itu tak sabaran.
"Udah hampir dhuhur, sekalian sholat ya? Dari pada nanti turun lagi, kamu juga kayaknya terlihat capek bisa ngaso dulu."
Ray mampir ke mini market yang tak jauh dari tempat istirahat sementara. Membeli air mineral dan beberapa biskuit berbalut coklat kesukaannya.
"Minum dulu, muka kamu pucet! Kenapa? Pusing? Coba deh sini aku tengsi?" ujar Ray sedikit cemas.
"Nggak usah Mas, cuma sedikit nggak nyaman sama pusing aja. Ayo buruan, terus pulang!"
Usai makan, sholat, dan merasa Vit kembali Ray melajukan kendaraannya. Mereka sampai di Jakarta sore hari disambut oleh mbok Ijah asisten rumah tangga Ray.
Rania langsung berlari masuk begitu turun dari mobil. Buru-buru perempuan itu menuju dapur dan memuntahkan isinya. Rania merasa perutnya bergejolak, dan seperti diremas-remas. Membuatnya lemas.
"Mbok tolong barang-barangnya di mobil turunin ya!"
Ray sedikit berlari menyusul istrinya. Ia terkesiap mendapati istrinya tengah muntah-muntah di depan wastafel.
"Dek! Kamu nggak pa-pa?" tanya Ray cemas.