
Setelah melakukan koas selama beberapa minggu di stase-stase koas, diakhir minggu akan ada ujian. Ujian ini berupa ujian lisan bersama dokter spesialis pembimbing koas. Bagi sebagian orang yang tahu mungkin menganggap Rania itu sangat santai karena dokter pembimbingnya calon suami sendiri.
Nyatanya, itu malah menjadi beban sendiri, kentara banget 'kan kalau tidak bisa. Atau lebih tepatnya kurang pinter, udah belajar maksimal juga pasti tambah grogi apalagi doi, beh ... mode serius alias lempeng. Nggak ada manis-manisnya sama sekali. Beban mental juga, karena mendadak harus pintar bahkan mempunyai keahlian atau setidaknya lebih menonjol dari sesama koas lainnya.
"Sudah siap, Dek Rania sayang!" tegasnya yang membuat gadis itu sedikit menarik sudut bibirnya. Bisa-bisanya dikasih embel-embel sayang dibelakangnya saat jam serius begini.
"Insya Allah, siap!"
"Rileks aja, anggap saja kita lagi seperti diskusi kasus seperti biasanya, dan kamu hanya perlu menjawab semua apa yang aku tanyakan tentang sepuluh minggu ini selama kamu belajar di stase bedah, kasus pasien yang sedang kamu tangani. Paham Dek?"
"Paham, Mas! Eh, Dok!"
Duh ... please jangan grogi. Gue pasti bisa, benar, anggap saja seperti tengah diskusi menyampaikan laporan.
Batin pria itu bersorak girang mendapati calon istrinya yang salah dan segera meralatnya. Sesungguhnya itu adalah panggilan keramat yang paling indah, mungkin setelahnya ia akan memberi hadiah untuk kesalahan kecil tadi yang ia lontarkan.
Rania menghembus napas dalam, berusaha tenang walaupun sebenarnya tidak tenang-tenang amat. Beberapa pertanyaan telah Rayyan lontarkan. Dengan mantap dan berdasarkan keyakinan yang telah ia pelajari, Rania mulai berperang dengan waktu. Mengemukakan jawaban yang paling benar yang ia tahu dan semestinya.
Kurang lebih dua jam Rania duduk di kursi panas, dicerca, dan dibantai dengan berbagai pertanyaan. Tanya jawab seputar ilmu bedah, terutama mengenai kasus pasien yang Rania temukan. Pastinya membuatnya kadang tegang, sedikit deg degan dan alhamdulillah lancar saja.
"Pertanyaan terakhir!" kata Rayyan serius.
Rania bersiap menyimak lebih dari serius.
"Kata orang, cinta itu sebuah penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan suatu obat, dan kebanyakan orang berkata bahwa obat jatuh cinta adalah menikah. Dan sekarang aku sedang jatuh cinta. Maukah kamu menjadi obat jatuh cinta ku ini? Will you marry me?"
Rania membelalakan matanya lebar, tak percaya ia akan mendapat pertanyaan macam melamar dengan cukup percaya diri. Pria itu yang tadinya duduk berjarak meja kerja, sedikit mendekat dan berjongkok tepat di depan kursi Rania singgahi.
Sebuah cincin pertunangan yang sempat ia pesan waktu itu, tersaji penuh di depan mata. Sungguh seperti mimpi namun nyata, dan speechless karena waktunya tepat setelah sesi ujian.
Bukannya lekas menjawab, gadis itu malah menempelkan punggung tangannya di kening pria itu. Sontak Dokter Rayyan menurunkan tangan kekasihnya yang menurutnya merusak momen yang unyu itu.
"Aku waras sayang, dengan keadaan sadar dan sesadar-sadarnya," ucapnya dengan wajah mengiba.
Rania tersenyum tipis, manis sekali.
Oh ... tidak! Ini seperti alarm peringatan tanpa bantahan.
Rania kembali tersenyum mendapati wajah kekasihnya yang masih dengan mode mrengut.
"Yes, I do," jawabnya begitu saja.
"Alhamdulillah ... lamaran aku diterima," pekiknya girang.
"Sepertinya ini tidak sah, nggak ada saksinya," ucap Rania menatap datar.
"Siapa bilang, tuh lihat kamera sana!" tunjuk Rayyan yang tidak tahu aturan.
Rania mengikuti arah tunjuk pria itu. Di sana terlihat sebuah kamera menyorotnya live ada kedua orang tuanya dan juga orang tua Rayyan sendiri. Rania menatap tak percaya, Dokter Rayyan ternyata bertindak senyeleh itu. Perempuan itu sampai menutup mulutnya haru. Menyodorkan tangannya untuk pria itu selipkan sebuah cincin putih yang begitu cantik.
Bergantian Rania memakaikan di jari kekasihnya. Disaksikan oleh orang-orang tersayang dalam vidio live mereka.
"Cie ... kita udah resmi tunangan," celetuknya berbangga diri.
Kedua pasangan yang baru saja melangsungkan pertunangan yang sangat absurd itu memperlihatkan jari manisnya yang bersanding di depan kamera. Kemudian melambai kepada kedua orang tua mereka yang tertangkap di layar. Menyisakan senyum penuh harus nan bahagia. Sebelum akhirnya menutup vidionya.
"Bentar Dek, ada yang kurang," kata pria itu menahan Rania yang hendak beranjak.
"Apa lagi, Mas, aku mau keluar, teman-teman pasti sudah menunggu dengan waswas apakah ujianku lancar. Menurutnya kamu terlalu killer," ucap Rania mengemukakan keluhan teman-temannya.
Pria itu mengikis jarak, "Tadi belum ada adegan romantisnya, kurang afdol sayang. Aku takut papamu menyorot seram," ucapnya membuat Rania terkekeh pelan.
"Nggak boleh sayang, tahan sampai halal," tolak Rania menahan mulut Rayyan yang hendak merusuh mengecupnya.
"Dikit aja, oke deh, kecup kening doang!"
Rania tersenyum menggeleng pelan, pria itu tetap megkredit rusuh mendarat ilegal di keningnya.