
"Ra! Buka Ra!" Rayyan menggedor-gedor pintu kost cukup lantang.
Rania bergeming, membiarkan pria itu berteriak-teriak seperti orang tidak waras di luar. Sebenarnya Rania sedikit takut, tetapi lebih takut lagi bila dibuka dan pria itu ngamuk.
"Rania, buka!!" pekik pria itu menggema.
"Woe! Mas! Berisik banget sih, gangguin orang aja!" semprot kost tetangga yang merasa terusik.
Kost Rania itu susun, berderet dan kebanyakan dihuni orang-orang yang sudah bekerja. Di tempat itu tidak ada penjaga pacarnya dan termasuk bebas keluar masuk. Rania memang memilih kost yang santai mengingat jam tugas di rumah sakit tidak mengenal waktu. Bisa saja berangkat awal waktu, atau pulang malam tak menentu.
"Ceweknya lagi marah mungkin nggak mau ketemu, jangan dipaksa dulu Mas, ditelepon aja!" tegur yang lainnya urun bicara karena merasa gemas melihat pria yang masih memakai style kerja tanpa jas itu uring-uringan di pelataran kost orang.
Rania sendiri baru saja menjadi penghuni kost ini, ditambah dirinya jarang bersosialisasi dengan tetangga, jadi kebanyakan dari tetangga kost belum saling mengenal.
"Iya, makasih sarannya Mbak," jawab Rayyan menahan sabar. Pria itu rasanya gemas sendiri menanti pintu itu terbuka
Bukan hanya menggedor pintu, Rayyan juga menelepon dan juga mengirim spam pesan ke ponselnya.
"Rania sayang buka! Aku janji nggak bakalan marah-marah, ayo buka sayang!" bujuk Rayyan mencoba dengan cara sehalus mungkin.
"Dok, aku tuh capek, pingin istirahat, tugas aku banyak, kalau dokter pingin tetap lihat aku besok masuk tolong beri aku ruang untuk beristirahat dan tenang," sahut Rania dari balik pintu.
"Oke, Ra, oke, aku bisa ngerti kalau kamu capek, aku cuma pingin masuk nggak mau gangguin kamu, janji, tolong Ra, buka!" mohon Rayyan dengan nada memelas.
Rania menghela napas sepenuh dada, rasanya begitu kesal dengan sikap pemaksanya. Namun, tekad dia yang bulat selalu mampu menggoyahkan naluri dalam kalbunya.
"Dokter pulang aja ya, aku mau istirahat," kekeh Rania mengabaikan pria yang kini masih setia di depan pintu.
Rayyan pun memutar otaknya sejenak, biar bagaimana pun ia tidak akan tenang pulang begitu saja ke rumah tanpa bertemu dulu dengan kekasih ilegalnya.
Beberapa menit berlalu, nampak seorang bapak-bapak datang menghampiri kamar kost Rania. Pria itu mengetuk pintu cukup keras.
"Permisi, paket!" seru seseorang diambang pintu.
Rania yang memang dua hari lalu sempat memesan barang dari online shop merasa barangnya datang. Terlebih siang tadi ada konfirmasi dari kurir menghubunginya.
Gadis itu pun tanpa ragu membuka pintunya, ia terlihat kesal masih mendapati Rayyan di sana. Pria itu tersenyum melihat gadis itu menyembul dari balik pintu.
"Permisi Mbak paketan COD," ujar abang kurir menginterupsi.
"Biar aku aja yang bayar Mas, dia calon istri saya," sahut Rayyan yang berdiri tak jauh dari sana.
Kurir pun mengiyakan, barang tersebut sudah di tangan Rayyan saat Rania kembali keluar untuk membayar.
"Sudah aku bayar sayang, uangnya simpan saja," ujar Rayyan sembari melenggang masuk ke dalam.
"Nih, aku nggak mau dihitung utang lagi!" Rania menyodorkan beberapa uang lembaran merah sesuai harga barang yang Rania pesan.
"Aku nggak butuh uang, aku butuh kamu."
"Pulang Dok, aku sedang tidak mood becanda, aku lelah mau istirahat."
"Kamu tidur aja sayang, aku nggak akan ganggu, janji," ujarnya sembari rebahan di ranjang mungilnya.
"Sini!" titahnya menepuk-nepuk kasur dengan percaya diri.
Rania mendengus kesal, ia mengambil duduk di kursi sembari menyorot gemas pria yang saat ini memejamkan matanya di atas ranjang miliknya. Tak mau ambil pusing, akhirnya perempuan itu membiarkan saja pria itu terlelap di kasurnya.
Rania sendiri sibuk sendiri, mulai dari mandi, menyiapkan makan malam untuk dirinya dan mengerjakan tugas yang tertunda. Perempuan itu mengalihkan rasa kesalnya pada layar laptop di depannya. Hingga malam menyapa, Rania baru saja beranjak. Rasanya begitu lelah dan ingin sekali merebah, namun kasurnya terisi pria itu yang bahkan terlelap dengan begitu nyaman.
"Hish ... ini orang bukannya pulang malah tidur di sini, mana nggak bangun-bangun juga, ngeselin banget sih!" Rania jelas menggerutu.
Perempuan itu akhirnya menempati karpet di bawah ranjang sebagai alas untuk mengistirahatkan tubuhnya. Membiarkan saja tubuhnya terlelap dari pada harus membangunkan Rayyan yang bahkan sudah berjalan-jalan ke dunia mimpi.
Sementara Rayyan sendiri merasa terusik dengan hawa gerah yang mulai mengusik. Ia masih tertidur dengan pakaian lengkap. Pria itu terjaga saat hari larut malam, setengah sebelas lebih tepatnya. Mendapati dirinya di kamar orang, namun ia segera sadar. Matanya menyapu ke seluruh ruangan, mendapati gadis itu tertidur di bawah sana, seketika hatinya berselimut iba dan haru. Begitu antinya gadis itu pada dirinya yang malah ingin selalu menempel itu.
Rayyan tanpa ragu mengangkat tubuh Rania berpindah ke ranjang. Membenahi posisi tidurnya agar nyaman. Pria itu sendiri melepas kemejanya, dan bawahannya. Menyisakan celana pendek sebagai pengantar tidur yang nyaman lalu ikut berbaring di ranjang yang sama. Lagi, mereka berbagi tempat tidur tanpa batasan apapaun. Saling melengkapi layaknya pasangan halal.
Suara ketukan pintu dari luar yang nyaring terdengar sayup-sayup menembus cakrawala mimpinya. Rania tergerap begitu mendapati dirinya dan Rayyan pagi ini dalam ranjang yang sama. Namun, ia mulai terbiasa dan cuek saja dengan apa yang sudah terjadi, toh dirinya tidak melakukan apapun di luar batas.
Suasana masih terlalu pagi, lebih tepatnya pukul lima pagi hari. Siapa yang datang bertamu sepagi ini.
"Siapa?" seru Rania dari balik pintu.
"Jo, sayang!" seru pria itu cukup jelas.
Rania baru sadar kalau Jo sebelum pulang mengatakan akan menjemputnya besok pagi mumpung hari libur. Seketika Rania panik sendiri.