
Rania berdiri kikuk di depan pintu. Mau berbelok tetapi sudah kadung masuk, dan parahnya ada orang tuanya Rayyan di ruang itu. Sungguh gadis itu merasa malu sendiri karena merasa tidak sopan sama sekali.
"Rania!" sapa Bu Wira berdiri dari kursi.
Perempuan itu tersenyum kikuk, "Sore Tante, apa kabar?" sapa Rania bergerak mendekat, menyalim punggung tangan perempuan itu dengan takzim.
"Alhamdulillah baik, kamu apa kabar, sayang? Kapan mau main ke rumah Tante?" ujarnya penuh harap.
"Rania masih sibuk Ma, mungkin lain waktu bila memungkinkan," jawab Rayyan menyela. Cukup mewakili jawaban Rania yang ia sendiri bingung menjawabnya.
"Owh ... gitu ya sayang, padahal Tante pengen banget kenal lebih dekat sama kamu, Ra."
"Iya, Tante, boleh."
"Ra, kamu nggak pulang?" usir Rayyan tersirat.
"Mmm ... ini mau pulang, kebetulan mobil kamu—menghalangi motorku jadi nggak bisa keluar," ujar Rania kalem.
"Masa' sih, ya udah nanti biar aku suruh orang buat benerin. Maaf ya Ra, bikin repot orang," ucap Rayyan yang tidak seperti biasanya.
"Oke, terima kasih. Tante, Rania pulang dulu ya, nugas hari ini selesai," pamitnya sopan.
"Eh, tunggu-tunggu sayang. Bagaimana kalau malam ini Rania makan malam di rumah Tante, mau pulang 'kan?"
Rania nampak bingung menjawab, namun juga ia tak sampai hati menolak.
"Ma, Rania capek, lain kali saja ya, Ma. Nanti Rayyan pulang ke rumah Mama," sela Rayyan cepat. Tak ingin membuat mamanya berharap terlalu banyak dengan perempuan di depannya, lantaran takut kecewa seperti dirinya. Biarlah Rayyan saja yang merasa kecewa, orang tuanya jangan!
"Iya, Tante, Rania mau," jawab Rania cepat.
"Wah ... Tante seneng banget, kalau gitu Tante tunggu ya, di rumah. Jangan terlambat sayang, Mama pulang dulu, papa sudah menunggu," ujar Bu Wira sumringah.
Dua perempuan beda generasi itu saling memeluk, lantas Rania meraih tangan Bu Wira dengan hormat sebelum akhirnya keluar dari ruangan putranya.
"Seharusnya kamu alasan saja, nanti mama bisa tanya macam-macam dan berharap lebih padamu," ucap Rayyan dingin.
"Aku sudah terperangkap dalam permainan ini, seharusnya kamu yang mengakhiri dan mengatakan itu pada orang tuamu, aku tidak mau membuatnya terluka."
"Kamu nggak sadar, kelakuan kamu barusan itu sama saja melukai perasaan orang!" tekan Rayyan sedikit kesal.
"Kamu kenapa sih, marah-marah nggak jelas, seharusnya aku memang sudah pulang, tolong singkirkan mobilmu!" balas Rania sebal. Rayyan terlihat semakin kesal.
Rayyan terdiam di tempatnya, ia baru menyadari hubungannya menjadi serumit ini. Orang tuanya pasti akan menyuruhnya cepat menikah, dan Rania masih belum jelas menerima.
"Kalau kamu tidak ada niatan untuk serius sama hubungan kita, lebih baik tidak usah datang malam ini. Lupakan saja semua yang pernah terjadi diantara kita, aku minta maaf sudah membuat hidupmu usah," ucap Rayyan pada akhirnya. Mungkin saatnya ia melepaskan semua yang memang seharusnya tidak dalam genggaman.
Rania bergeming, kenapa hatinya sakit diperlakukan seperti itu. Ia tak banyak bicara, hanya menatap dalam netra hitam yang kini juga tengah menatapnya lekat. Kakinya terasa berat untuk melangkah maju, namun juga tak ingin berbelok, dilema, itulah yang ia rasakan saat ini.
Saat hendak keluar, vibrasi handphone Rania memekik, Jovan meneleponnya. Pria itu berkabar sudah selesai menjenguk dan mencari Rania untuk pulang bersama. Dengan langkah lesu, Rania keluar dari ruangan Rayyan. Melihat sekilas ke belakang, menemukan Rayyan yang memunggunginya.
"Jo, udah?" tanya Rania menghampiri Jo di lobi depan.
"Udah, ayo pulang!"
"Aku sebenarnya bawa motor, bagaimana ceritanya kalau kita bareng."
"Biar nanti aku suruh orang untuk mengambil motor kamu, gampang 'kan?"
"Oke," jawab Rania setuju.
Mereka pulang bersama, sore itu Rania dan Jovan menghabiskan waktu berdua terlebih dahulu, tapi entah mengapa pikiran Rania terbagi dan malah memikirkan yang lainnya. Ia mulai terusik, dan benar-benar tidak nyaman.
"Kita jalan dulu ya?" ujar Jo ingin menghabiskan waktu berdua.
"Iya, terserah kamu saja," jawab Rania mengiyakan.
Selepas dari rumah sakit, Rania yang sudah melepas jasnya dan terlihat santai itu menikmati harinya bersama Jo. Walaupun hatinya ada sedikit keraguan, namun ia mencoba untuk menyelami keadaan dan berharap semua akan baik-baik saja.
Malam itu Rania akhirnya memilih jalan bersama Jo, mengulang masa-masa indah yang pernah mereka lewati. Berusaha menepis bayangan Rayyan yang kadang muncul dalam dirinya.
"Ra, maaf ya jarang banget bikin kamu seneng," sesal Jo meraih tangannya.
"Aku juga minta maaf, banyak banget waktu yang kita lewati tanpa cerita. Aku sibuk, dan kamu juga, aku merasa—kita stuck!"
"Kita harus lebih saring meluangkan waktu seperti ini, biar nggak bosen," usulnya tersenyum.
Mereka tengah makan malam romantis bareng, senyum bahagia tercipta diantara mereka berdua. Saat keduanya sedang asyik bersama, tiba-tiba handphone Jovan memekik, ternyata orang tua Yumna yang menghubunginya lantaran Yumna terus-terusan menanyainya dan tidak mau makan dan minum obat.
"Ra, sepertinya aku harus balik ke rumah sakit," sesal Jo menatap Rania.
"Bukannya baru aja ketemu, lagian di sana 'kan ada orang tuanya, kenapa kamu jadi repot gini sih, atau emang jangan-jangan kamu yang minat."
"Ra, kita sudah sepakat untuk tidak saling curiga, dia lagi butuh aku," tekan Jo mengabaikan Rania yang mulai terlihat kesal.
"Aku juga butuh kamu, Jo, ngerti nggak sih!"
"Dia lagi sakit, seharusnya kamu paham," ucap Jo membela.
"Tapi Jo, kita lagi dinner, dan kamu milih ninggalin gitu aja, oke fine, susul Yumna sekarang!" murka Rania kesal.
"Kamu ngertiin aku dong, sayang, Yumna lagi sakit, ayo aku antar pulang!"
"Nggak pa-pa Jo, aku pulang sendiri saja," jawab Rania terlihat begitu kecewa.