
Ray dan Rania memasuki ruangan Pak Wirawan setelah mengetuk pintu. Pasangan romantis itu langsung disambut ibu suri mereka yang terlihat begitu kompak.
"Nah ... ini dia orangnya, disamperin ke rumah nggak ada malah udah duluan ke rumah sakit," ujar Mama Inggit bersuara.
"Mama ke rumah? Kenapa nggak telepon Ma?" tanya Rania sembari menyalim keduanya.
"Sengaja sayang, udah kencan sama bu besan mau jemput kamu. Kita bakalan kawal dan menemani chek up ke dokter sekalian tahu kondisi bayinya. Setelah itu mengajakmu belanja perlengkapan si kecil. Ray sibuk, jadi kami yang akan menemani."
"Benar begitu kan jenk?" Mama Inggit menginterupsi.
"Iya Sayang, kita boleh kan ikut kamu chek kehamilan."
"Dengan senang hati Ma, bener Mas Ray terlalu sibuk, jadi lebih baik aku ditemani mama-mama hebat."
"Wah ... aku juga mau ikut sayang kalau itu, sibuk juga pasti aku sempatkan," ujar Ray keberatan.
"Bukannya hari ini ada meeting dewan dokter ya Ray, sekalian Papa mau umumin kinerja kamu. Peresmiannya besok, sekalian resepsi pernikahan kamu plus umumin jabatan baru kamu," ujar Pak Wirawan.
"Siap Pah, bentaran deh, aku undur satu jam, aku temani Rania dulu. Biar Axel yang atur jadwalnya."
Suasana ruangan begitu ramai di poly obgyn khususnya ruangan Dokter Dara. Rupanya hari ini kedatangan tamu spesial ditemani orang-orang spesial pula.
"Wah ... rombongan nih, kompak sekali," seloroh Dokter Dara takjub. Tiba-tiba Ray meminta waktunya untuk melayani secara khusus istrinya.
"Apa kabar Dokter Rania? Selamat ya atas kelulusannya, dan selamat juga calon ibu yang hebat," ucap dr. Dara tulus.
"Terima kasih, Dok," jawab Rania dengan sumringah.
Bu Wira dan Mama Inggit menyimak obrolan mereka. Ray sesekali menimpali dengan guyonan dan Rania menjawab dengan malu-malu.
Setelah melakukan pemeriksaan awalan seperti mengukur tekanan darah dan menimbang berat badan. Rania langsung disuruh rebahan guna melakukan USG yang sudah dinanti-nantikan.
Ray menemani istrinya di sampingnya. Suasana cukup nyaman dan santai. Mungkin karena ditemani orang-orang tersayang plus di kandang sendiri. Jadi Rania selain antusias cukup menikmati serangkaian pemeriksaan dengan begitu minat dan tenang.
Sebuah gel dingin Dokter Dara tuangkan pada perut Rania. Bersiap di posisinya dengan alat transduser di tangannya.
"Lihat anakmu, Ray, juniornya kira-kira udah sebesar apa ya? Mari kita lihat sama-sama."
"Dar, 4 bulan udah jelas kan biasanya jenis kelaminnya."
"Kalau beruntung udah bisa dilihat."
"Dek Rania bisa lihat di layar, ini calon generasi kalian nih. Luar biasa, alhamdulillah diberikan kesempatan untuk memeriksa Dokter Rania hari ini," gumam Dokter Dara merasa senang. Suatu kebanggaan tersendiri bisa sedekat ini dengan keluarga Wirawan.
"Kondisinya bagus, beratnya juga seimbang, udah 250 gram dengan panjang 15 cm. Organ reproduksinya telah berkembang sepenuhnya."
"Jenis kelaminnya, apa Dar?"
"Masih ngumpet ini posisinya, sepertinya adeknya mau bikin surprise buat ibu dan bapaknya."
"Nggak pa-pa, bulan depan chek lagi," ujar Ray santai. Cewek cowok tak jadi masalah yang penting sehat.
"Semoga sehat selalu ya ibu dan bayinya, bapaknya juga," seloroh Dokter Dara.
"Udah?"
"Sementara udah dulu, mau nemeni di poli juga boleh? Hehehe."
"Berasa koas lagi, Dok, tapi seru sih. Sekarang beneran ngerasain jadi pasien."
"Masa-masa udah berakhir, tapi seru sih, tak terlupakan," jawab Rania benar adanya.
Rania teringat betul beratnya koas di stase obgyn, sedikit banyak mendapatkan ilmu di sana, dan pastinya sudah biasa menemani orang lahiran.
"Oke Dok, cukup sekian dan terima kasih, kami segenap rombongan undur diri. Hasil printnya nanti biar Axel yang ambil aja, udah ditungguin duo calon nenek. Aku juga mau balik kerja."
"Siap Dok, semoga sehat selalu ya calon ibu."
Usai dari pemeriksaan, rasanya Ray begitu lega melihat langsung dan bisa menemani istrinya, dengan hasil keduanya sehat. Rasanya sudah tidak sabar dipanggil ayah, pasti keren sekali.
"Mas, aku langsung jalan ya? Mau mampir butik dulu, takutnya bajunya malah nggak muat, perut aku kan tambah besar."
"Iya sayang, maaf tidak bisa menemani, tugas aku serahkan pada ibu suri. Ma, titip ya, nanti balikin ke rumah sebelum Ray pulang," ujar pria itu blak-blakan.
"Ish ... bisa jadi kamu dulu yang sampai rumah, gampang lah nanti jemput."
"Nggak cocok, pengennya buka pintu terus disambut dengan sumringah."
"Lihat nanti deh, agendanya banyak ya Mah, sana kerja!" usir Rania tersenyum.
"Salim dulu," tegur Ray menahan tangannya.
Ray kembali bekerja sementara duo mama dan Rania menghabiskan waktu bersama. Mereka sengaja menyempatkan waktu kebersamaan itu sembari memburu perlengkapan bayi.