Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 55


"Dokter! Tolong Ra!" ucap Jo panik.


"Jo, kamu tenang ya, silahkan tunggu biarkan kami periksa!" jawab Rania cepat.


Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang bersarang di kepala Rania kenapa Jo bisa mengantar seorang perempuan dengan muka bersimbah darah dan terlihat begitu panik. Namun, tentu saja bertanya masalah di luar kerjanya menyalahi aturan dan tidak etis, apalagi dalam keadaan darurat.


Rania dan Kenzo langsung bergegas memeriksa pasien kisaran umur dua puluh tiga tahun itu dengan cepat.


"Ken, kamu tensi, biar gue cek yang lainnya!"


"Siap!" jawab pria itu dengan sigap mengukur tekanan darah pasien.


"Cewek ini niat banget mengakhiri hidupnya, ayo bergerak cepat, Ken, semoga bisa kita gagalin," ucap Rania serius.


"Oke, Ra, kita bilas lambungnya!" jawab Kenzo tak kalah serius.


Kenzo mengambil selang NGT, memasukan ke hidung pasien hingga ke lambungnya. Sengaja dihubungkan ke corong yang Kenzo gantung ke tiang infusan. Pria itu mengisi corong tersebut dengan banyak air agar masuk ke dalam lambung pasien dan memaksa perempuan itu memuntahkan semua isi lambungnya.


"Suntikin sulfas atropin, Ra?"


"Siap, lo cek penyebab luka di wajahnya!"


Kenzo dan Rania saling bekerja sama siang itu. Keduanya nampak kompak dan tenang menangani pasien yang bahkan mungkin sudah hampir sekarat kalau terlambat beberapa menit saja.


"Pelipisnya robek akibat terkena benturan, kemungkinan saat ia jatuh mentok sesuatu yang keras. Jahit lukanya, Ra!" titahnya cepat.


"Beres!" jawab Rania mulai membersihkan luka di wajahnya dan sekitar dahi. Dengan cekatan sesuai yang telah ia pelajari, Dokter Muda Rania menjahit pasien cukup terampil.


Sementara Kenzo memasang infus, dilanjutkan membuat resep dan status medis.


"Alhamdulillah, kasus berhasil ditangani. Done, Ken!"


"Done, Ra, alhamdulillah!" Keduanya ber-fish fight ria dengan senyum lega. Pasien pun akan dipindahkan ke ruang rawat bangsal setelah keadaannya dinyatakan membaik.


"Dokter!" pekik pasien cukup nyaring saat Kenzo dan Rania yang tengah berjaga baru saja mengambil napas lega. Sontak keduanya langsung bergegas menuju pasien perempuan yang tadi ditangani.


"Iya Kak," jawab Rania dengan nada khawatir.


"Kenapa saya di sini! Kenapa Dokter mengobati saya! Saya mau mati! Saya mau mati!" pekik pasien itu dengan marah.


Kenzo dan Rania saling melempar lirikan, sedetik kemudian berusaha menenangkan pasien yang nampak tak terima aksi bunuh dirinya berhasil diselamatkan Tuhan lewat tangan yang membawa ke rumah sakit, dan tangan ajaib dokter yang bekerja cukup cekatan.


"Tenang ya, Kak!" Sepertinya bagian menenangkan pasien ini bukan ranah Rania lagi, tapi untungnya perempuan itu berangsur menerima kenyataan dirinya terselamatkan setelah keluarganya juga datang untuk mensupport pasien.


"Jo?" sapa Rania menilik wajah kekasihnya yang sudah tidak sepanik tadi saat mengantar.


"Ra, aku mau bicara!" ucap Jo cukup jelas menatap sayu kekasihnya. Rania mengangguk mengiyakan.


"Aku masih kerja, nanti sore temui aku di rooftop rumah sakit pukul tiga setelah aku selesai tugas."


"Oke, sayang. Makasih ya, kamu keren!" ucapnya melempar senyum bangga. Rania balas tersenyum, tak ingin menduga apapun yang menjadi prasangka keduanya.


Kabar itu pun sampai pada Rayyan yang up date di ruanganya. Pria itu pun menjadi sedikit kepo tentang pasien bernama Yumna yang tertangani akibat kasus percobaan bunuh diri dengan meminum cairan insektisida.


Sore hari yang cukup padat untuk Rayyan karena baru saja menangani operasi pasien. Berharap menemukan semangatnya kembali dengan memanggil Rania ke ruangannya. Hanya untuk sekedar menemani makan, namun sayangnya Rania tidak pernah datang. Tentu saja itu membuat dokter tampan rupawan itu kesal.


Beberapa kali Rayyan menghubungi ponselnya, namun tidak ada jawaban. Pria itu tahu jadwal sore ini Rania seharusnya pulang dan ekspektasi dirinya mereka akan pulang bersama sore ini dengan indah. Namun, realitanya ia dibuat kesal menemukan dua pasangan sejoli itu tengah melakukan pertemuan indah di puncak rumah sakit. Rayyan yang hanya bisa mengamati dari kejauhan dengan muka masam, dan hati yang kesal. Menyorot tajam keduanya dengan rasa yang entah.


"Ra!" panggil Jo mendekat.


"Iya, Jo, dia siapa?" tanya Rania penuh selidik.