
"Permisi Dok, panggil saya?" sapa Rania membuka pintu ruangan. Pintu terbuka menampakan wajah dingin pria itu yang tengah serius menatap layar laptop.
"Hmm," jawab Rayyan hanya dengan gumaman tanpa menoleh sedikitpun. Rania menatap bingung ketika Rayyan malah seolah sibuk dan mengacuhkan begitu saja.
Pegawai struktural rumah sakit itu menyorotnya dingin, lalu kembali menatap layar laptopnya serius. Rania masih menunggu pria itu membuka suara. Walaupun hati dan pikirannya tidak baik-baik saja, tetapi ia mencoba terlihat tenang.
"Huhf ... ini orang niat manggil nggak sih, ngeselin banget nggak tahu orang capek apa berdiri terus," batin Rania menggerutu. Perempuan itu menatap jengah sekaligus horor.
"Udah puas natapnya?" tanya Dokter Rayyan tiba-tiba.
"Hah!" Rania gelagapan sendiri terdeteksi tengah mencuri pandangan padanya.
"Maaf Dok, ada apa ya? Kalau nggak ada perlu, saya mau kembali ke poli," ujar Rania merasa tak tenang. Semenjak masuk ruangan gadis itu masih berdiri dengan kikuk.
Rayyan melempar sebuah buku ke meja, seketika Rania terkesiap mendapati perlakuannya yang selalu tak bisa ditebak.
"Astaga! Not that friendly!" batin Rania resah.
"Baca!" titahnya dingin.
Rania dengan kebingungan yang haqiqi mengambil buku catatan itu dan segera mengamati isinya. Ia pun melongo mendapati banyaknya tulisan berderet yang berisi point-point yang telah dibuat pria itu.
"Ini apa ya Dok?" tanya Rania dengan kening berkerut indah.
"Kamu bisa translate jurnal?" tanyanya to the point.
"Sedikit Dok," jawab Rania tak menentu.
"Kalau nggak bisa ya derita kamu dan saya nggak mau tahu. Tolong terjemahkan materi yang ada di buku itu!" titahnya dingin. Rania langsung meneguk saliva gugup. Walaupun tidak jago-jago amat ya setidaknya sedikit bisa. Rania dengan modal ayat kursi menghadap Dokter Rayyan.
Ngomong-ngomong kenapa harus baca ayat kursi? Karena seketika Rania merasa horor begitu duduk agak berdekatan dengan pria itu. Takut setan-setan yang kurang kerjaan pada nempel dan membuat keduanya khilaf alias terjadilah sesuatu yang tidak boleh terjadi.
Nah si kan kan kan, lihat gaes ... Dokter Rayyan tuh natapnya tajem bin serem. Mungkin kalau Rania makanan sudah dilahap abis. Mana nyereminnya itu orang suka berbuat seenak jidat, semoga kali ini sudah insaf. Kasihan amat yang mau jadi istrinya. Rania ketawa jahat, mungkin sedikit stress. Hahaha.
"Kenapa senyum-senyum, profesional kerja dong!" ujarnya memperingatkan.
"Karena tersenyum sebagian dari ibadah, Dok, meningkatkan hormon endorfin yang menciptakan suasana rileks."
"Owh ya? Sekalipun senyuman itu palsu?"
Rania bergeming, melirik sengit pria yang kini tengah bersikap seolah-olah orang asing dalam tawanan.
"Nggak boleh, diam dan kerjakan!"
"Otoriter!" gumam Rania sengit.
"Ngomong apa Ra? Yang jelas dong kalau ngata-ngatain?"
"Nggak ada," jawab Rania kembali fokus.
"Dok, ini semuanya?"
"Kamu nggak bisa baca, perlu saya jelasin satu-satu?" tanyanya datar. Seketika aura mencekam langsung menguar di sekitar ruangan.
"Lagi dibaca Dok," jawabnya serasa ingin nimpuk kepala dokter itu yang kini masih setia menatapnya begitu intens.
"Dokter ngapain lihatin saya kaya gitu?" tanya Rania memberanikan diri.
"Suka-suka saya, emang ada larangan dilarang melihat di sini!"
"Oke, koas selalu salah dan konsulen selalu benar. Suka tidak suka ya jalani aja," batin Rania menekan sabar.
Rania tengah sibuk berpikir sembari mengerjakan apa yang diperintahkan. Usut punya usut ternyata Dokter Rayyan diminta untuk jadi pembicara di Kongres Nasional dan tugas Rania adalah dimintai tolong untuk membantu menerjemahkan materinya.
"Dok? Ini lembar kedua apaan?" tanya Rania memicing. Menatap penuh selidik.
"Menurut kamu?"
"Perjanjian pra stase bedah." Rania membaca cukup jelas.
"Kenapa? Keberatan? Atau mau mundur?"
Astaga! What the ....
"Oke, fine, kamu boleh pelajari sambil berjalan, pastikan mulai hari ini dan seterusnya dan saya tidak mau tahu!" ucap Rayyan penuh penekanan.
Rania mengangguk samar. Membaca dengan seksama point demi point yang isinya semua menguntungkan dirinya dan untuk kepentingan pria itu sendiri.
"Kamu bisa baca di luar! Atau di mana pun terserah kamu," kata Dokter Rayyan cuek sembari meninggalkan ruangan. Meninggalkan Rania begitu saja tanpa sapaan ramah. Mendadak Rania kesal sendiri diperlakukan seperti itu, seolah-olah mereka tak saling kenal sebelumnya.