Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 97


"Papa sama mama dulu menikah muda karena perjodohan orang tua. Kami saling membenci dan rasanya itu sangat tidak nyaman. Walaupun akhirnya kami saling mencintai, Papa harap kamu bisa membawa diri dengan pilihan kamu saat ini, Papa tidak ingin melihat anak Papa nantinya merasa salah memilih, jadi Papa memberikan kebebasan untukmu menentukan calon untuk kamu sendiri."


"Menikah itu bukan perkara satu dua hari, bahkan kalau bisa sekali seumur hidup. Perempuan memang tidak wajib memilih, namun kamu bisa menolak dan menentukan yang menurut kamu paling tepat, baiknya, peringainya, agamanya, attitudenya, selama masih ada kesempatan untuk menemukan dari yang paling baik, mengapa tidak?"


"Papa dulu bukan orang yang baik, Nak, Papa pun menyesal kenapa Papa tidak menjadi orang baik dulu, tetapi Papa sangat beruntung dan bersyukur karena Papa dipertemukan dengan mama, orang yang nyaris sempurna menurut Papa. Ya, sekalipun banyak juga rintangannya," papar Papa Al panjang kali lebar.


Rania pun mencerna semua wejangan dari keluarga yang masuk ke otaknya. Bukan menggurui, tetapi mencoba untuk memberi masukan. Karena sejatinya yang bisa membolak balikan hati manusia hanyalah pemilik-Nya.


Gadis itu memasang alarm lebih awal dari biasanya. Niat hati memang ingin mencurahkan semua kegalauan ini pada sang pemilik alam semesta. Rania terjaga, melangkah gontai ke kamar mandi. Mengalirkan air pada kedua telapak tangannya lalu mengambil wudhu. Rasanya sudah lama sekali gadis itu meninggalkan dua rakaat sunah itu.


Malam itu, Rania menyerahkan atas segala keresahan yang menyambangi hatinya. Usai sholat dengan khusuk, menengadahkan kedua telapak tangannya. Mengadukan pada-Nya. Memasrahkan apa pun yang menjadi ketentuan-Nya. Berharap dengan ridho orang tua, Allah memberikan petunjuk yang baik, jodoh yang baik dunia dan akhirat kelak. Gadis itu menutup dengan menelungkupkan kedua tangannya. Ada perasaan yang tenang setelah mengadukan pada Ilahi Rabbi.


Pagi itu, Rania masih ke rumah sakit seperti biasa. Memang rencananya hari ini dua keluarga akan bertemu di sebuah restoran kenamaan di kotanya. Namun, karena jadwal Rania dan juga Rayyan cukup padat, pertemuan itu sepakat di adakan sore hari setelah Rania pulang dari rumah sakit.


Emang lagi beruntung ada acara atau apa, hari ini Rania pulang lebih cepat dari biasanya. Alhamdulillah sedang tidak ada pasien baru masuk, semua sehat dan hari itu bisa pulang cepat. Masih sekitar pukul dua, anak koas sudah pulang dan itu sesuatu banget.


"Ra, lo nggak ikut lagi? Yah ... nggak asyik banget sih ....!" keluh Jeje lagi-lagi mendapati Rania belum bisa gabung hang out bareng sekedar refreshing.


"Kapan hari ya Je, nyokap bokap gue lagi di sini, gue nggak mungkin dong malah main sendiri. Sedangkan quality time bersama keluarga tuh limit banget waktunya, hampir jarang dan susah ketemunya. Sorry lain waktu ya gaes ...." sesal Rania mangkir dari acara ngumpul bersama teman-temannya.


Hari ini sudah mempunyai acara sendiri, jadi tidak memungkinkan sekali Rania bergabung dengan acara sohibnya. Walaupun sebenarnya ingin, semoga lain waktu masih diberi kesempatan Tuhan.


Dua hari ini Rania dan Rayyan juga tidak ketemu, Rania pulang ke rumah eyang dan terlihat sibuk bersama keluarganya. Begitu pun dengan Rayyan, sibuk dengan urusan yang membelit dirinya, kendati demikian keduanya tetap berkomunikasi lewat udara, walaupun tak sefokus kemarin, namun tetap intens mengirim kata-kata vitamin yang membuat harinya semakin semangat.


Sore itu, kedua keluarga besar Rania dan juga Rayyan dipertemukan, kedua keluarga itu memang sudah siap membahas acara penting anak-anaknya. Dua hari tanpa tatap muka secara langsung itu rasanya begitu berbeda dilalui saat bertemu. Keduanya duduk kalem saling memberi jarak bergerombol dengan keluarga masing-masing. Membaur dalam musyawarah bersama. Walaupun tak jarang keduanya bertemu pandang dan saling melempar senyum.


[Dek, cantik banget hari ini, kita duduknya jauh-jauhan gini, tapi aku merasa selangkah lebih dekat. Love U]~ dr.Ray


Rania yang tengah khusuk menyimak obrolan keluarga, merasakan ponselnya bergetar. Sebelumnya menatap calon suaminya yang nampak memberi kode dengan berkata tanpa suara. Keduanya duduk berhadapan tersekat meja besar. Andai saja di sampingnya, sudah pasti habis tangan Rania digenggam.


Gadis itu diam-diam mengikuti perintah calon suaminya, ia tersenyum sendiri kala membaca serentetan kata pesan yang dikirim untuk dirinya. Ada-ada saja, saat tengah serius juga, masih aja cari kesempatan untuk mencurahkan perasaannya.


Usai musyawarah dan telah mencapai mufakat. Kedua keluarga menikmati acara jamuan yang telah disediakan. Mereka nampak menikmati hidangan yang ada dengan khusuk. Baru setelahnya, pasangan yang belum halal itu akhirnya bisa berbincang berdua. Agak lumayan santai sembari makan bersama.


"Apa kabar calon istri?" tanya Rayyan melempar senyum. Sengaja mlipir duduk agak berjarak dengan para orang tua.


"Baik, alhamdulillah, kamu sendiri gimana? Calon suami?"


Keduanya saling melempar senyum dan candaan, padahal juga biasa berkirim pesan kata romantis lewat ponselnya. Tetapi pertemuan dengan bertatap muka jelas berbeda.


"Bagaimana dengan masalah kamu?" tanya Rania harap-harap cemas.


"Ditangani pengacara, tetapi nggak usah khawatir, insya Allah semua aman. Kami sudah minta maaf sama Jo dan keluarganya, walaupun tidak yakin juga sih Jo berlapang dada, tetapi dengan bukti yang ada, aku yakin dia mempertimbangkan untuk menuntutku. Jangan khawatir, takut ya kita nggak jadi nikah?" seloroh pria itu tersenyum.


"Maybe, tapi lebih takut lagi kamu dilaporin, nggak hanya gagal nikah tapi kita juga terpisah. Itu menyakitkan," jawab Rania sendu.


"Kamu kelihatan lebih kalem, ditangani papa ya?"


"Masa di depan mertua harus jingkrakan, rusuh, sosor-sosoran, ya kali aku langsung kena damprat. Udah nggak sabar banget ya? Bentar lagi ya sayang, sabar tiga hari lagi," ucap Rayyan yang membuat Rania geli sendiri.


"Astaghfirullah ... kayaknya pertanyaannya itu cocoknya buat kamu deh, aku santai aja kali."


"Masak, nggak yakin sih, sini kalau kangen bilang aja, aku peluk! Pah, Papa Al, Mama Inggit, Rania kangen nih, minta peluk boleh nggak?" seru Rayyan jelas menggoda.


Gadis itu langsung beranjak membekap mulutnya dengan gemas, bisa-bisanya Rayyan berkata sedemikian bocor. Membuat atensi kedua keluarga menyoroti keduanya dengan tatapan memperingatkan!


"Eh, apaan sih, enggak Ma, Pah, Mas Rayyan modus!" sanggah Rania cepat.


Pria itu hanya terkekeh kecil, menggoda calon istrinya menjadi semangat sendiri hati yang sebenarnya begitu merindu.