Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 166


"Sayang, lama banget," protes Ray sudah menghadang di depan pintu dengan netra menyorot penuh kabut gairah.


"Maaf Mas, mastiin Juan nggak rewel lagi," jawab Rania jujur.


Pria itu langsung menarik istrinya lalu mengunci kamar. Tak perlu menunggu lama, Ray langsung menubruk tubuhnya dan menyatukan napas mereka. Berjalan perlahan menuju ranjang dengan posisi saling bertautan satu sama lain mengunci lidah mereka.


"Mas," tekan Rania kehabisan napas. Terengah sembari menyamankan posisinya.


Bagai musang lapar menemukan pisang, mengulitinya hingga sudut terdalam. Menjamah tanpa sisa, hingga keduanya terhanyut dalam buaian madu asmara yang begitu memabukkan.


Perempuan itu mengerang tertahan saat sesuatu yang sudah familiar dan biasa ia mainkan bertandang pada pusat tubuhnya. Rasa cemasnya seperti pertama kali suaminya menjamah. Takut, tapi bikin penasaran dan harus dihadapi. Ini adalah perdana setelah melahirkan, jadi Ray cukup hati-hati memainkan mono futsal dengan goal-goal andalanya.


"Mas ... pelan-pelan, sumpah ini terlalu sempit," keluh Rania bagai seorang gadis. Bedanya tidak mengeluarkan darah perawan.


"Sakit?" tanya Ray lembut. Mengubah permainan lebih halus dengan trik tendangan sudut.


Kembali menyentuh berbagai titik yang mampu membangkitkan hasratnya. Mengabsen dengan teliti tanpa sisa. Hingga istrinya melenguh panjang tak terelakan.


Rania semakin terpacu, terhanyut dalam permainan yang begitu syahdu. Malam yang dingin itu menjadi saksi, betapa hebatnya kedua insan itu membagi peluh dalam balutan selimut yang menutupi keduanya.


Napas keduanya memburu, setelah menyelesaikan satu misi yang sama. Menanam bibit unggul di tanah lahan yang tersedia, lagi halal baginya.


"Tambah gemoi, pengen lagi nanti ya?" kata pria itu membenahi rambut istrinya yang berantakan.


"Capek Mas, tubuhku berasa remuk," jawab Rania tepar.


Perih, panas, ngilu, rasanya seperti masih tertinggal di sana. Keduanya butuh istirahat setelah mencapai pelepasan bersama.


Rania sendiri sudah setengah terbang ke mimpi saat suaminya masih iseng mengusak lembut dirinya. Mencium-cium gemas pipinya. Rasanya lelah dan mengantuk, jadi Rania benar-benar tertidur setelah beberapa saat.


"Kasihan banget sampai tepar gini, besok aja deh lanjutnya," gumam Ray merasa iba. Apalagi siangnya sudah sibuk mengatur ini itu, menyiapkan surprise untuknya, wajar saja kalau istrinya kelelahan.


Pria itu pun menciumnya lalu membenahi selimutnya. Setelah itu ikut terlelap dengan tangan memeluk manja.


Rania merasa tidurnya terlalu pules, biasanya perempuan itu akan terjaga saat Juan terbangun meminta ASI, tetapi karena Juan masih dititip, tentu saja Rania tidak dengar. Rupanya alarm alami membangunkannya dengan cepat, insting seorang ibu memanglah sangat kuat.


"Aww ... duh ... kok masih terasa sih," keluh Rania mendesis saat hendak ke kamar mandi.


Memungut pakaiannya yang teronggok di lantai berserakan.


"Sayang, udah bangun? Kok mukanya aneh gitu."


"Ngilu Mas, ini lumayan banget kerasanya. Ya ampun ... gini amad ternyata pasca jahitan."


Ray Tersenyum sembari mendekat. Tak perlu berbasa-basi langsung menggendong pasangannya ke kamar mandi.


"Pengen ngulang yang semalam boleh? Biar nyaman, sesuai gaya Adek saja."


Rania langsung menyorot horor suaminya. Sisa semalam saja masih begitu terasa, bagaimana jadinya kalau diulang? Sungguh bukan solusi.


"ASIku penuh, bias tolong ambilkan Juan, atau Mas telepon suster saja buat bawain ke kamar."


"Oke, aku telepon saja ya," ujar Ray bergegas ke luar. Rania sendiri masih bersih-bersih.


Suasana masih dini hari tapi pasangan dokter itu sudah terbangun sedari tadi. Setelah menelpon tak berselang lama suster mengetuk pintu mengantar Juan ke kamarnya. Rania langsung nenyusui putranya dengan perasaan lega.


"Kenapa tadi nggak bangunin aku, Mas?"


"Nggak tega, kamu kelihatannya capek banget, maaf sudah membuatmu kelelahan," sesal Ray sembari mengelus mahkotanya.


Perempuan itu duduk di tepian ranjang, memberikan ASI dengan tenang. Setelah kiri merasa kosong, pindah ke kanan, lalu menyendawakan si kecil. Baru bayi itu tertidur lagi. Kalaupun Juan tertidur, kalau sudah waktunya minum ASI, Rania pasti akan membangunkannya.


Setelah itu, menidurkan di tempat bayi. Baru Rania kembali ke ranjang. Keduanya masih terjaga, saling berhadapan menatap lembut.


"Istirahat lagi sayang," ucap Ray sambil mengelus pipinya.


"Belum ngantuk, kamu juga istirahat."


"Sama, ngantukku ilang, atau—mau nambah ronde kedua, boleh?"