Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 82


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah kota Bandung. Pria itu sengaja menginap di sekitar Villa Asri yang tak lain adalah milik Pak Wirawan. Lumayan berjarak dengan rumah sakit dan juga rumah kediaman orang tua Rania tinggal. Pria itu sudah membuat janji dengan orang tuanya menunggunya di sana.


"Mas, apa ini tidak terlalu jauh? Nanti kalau mau ketemu capek bolak balik."


"Nggak ada yang capek buat kamu, Dek Rania sayang. Semua terasa ringan saat bersamamu," jawabnya bikin hati Rania mleyot.


Villa mewah dengan private pool room yang tersedia longue dengan hamparan hijau dan view pegunungan yang begitu cantik. Kolam renang dengan air suhu sedang yang menambah eksotis hunian itu terlihat begitu nyaman dan sangat cocok untuk honeymoon pasangan.


"Den Rayyan, selamat datang Den, kumaha damang?" sapa Teh Icha yang bertugas merawat villa tersebut. Tinggal tak jauh dari sana.


"Sae Teh," jawab Rayyan ramah dengan penjaga villa miliknya.


"Kamarnya sudah ready, Den, selamat menempati," ujarnya dengan senyuman ramah.


"Siap, terima kasih Teh."


Ada dua kamar di sana. Atas dan lantai satu, semuanya didesain dengan pintu kaca yang tebal. Kamar mandi yang luas dan nyaman. Dari kamar bawah langsung tembus kolam renang di sampingnya yang berhubungan dengan ruang tengah dan juga dapur. Sangat nyaman untuk hunian sementara.


Pria itu menuju kamar kedua di lantai atas yang terlihat rapih dan bersih. Tak kalah nyaman, disertai kaca besar yang menyertai pemandangan luar nan begitu indah.


"Di sini adem dan sejuk banget, keren banget Mas pemandangan hijaunya." Rania keluar dari balkon kamar dan berdiri di pinggir pagar pembatas. Kedua tangannya menumpu pagar begitu santai. Menikmati udara yang begitu sejuk di sore hari.


"Harusnya aku ajak kamu ke sini saat udah nikah, jadi berasa banget dobel nikmatnya, bisa sayang-sayangan terus tanpa batasan," ucap pria itu sembari berdiri tepat di belakang tubuh Rania.


Kedua tangannya mengunci, memeluknya posesif. Menyandarkan dagunya pada pundak gadis itu yang kini begitu menikmati hamparan hijau sekitar. Seakan netranya dimanjakan oleh keindahan yang terlihat manis.


"Bisa kita ulang besok kalau udah nikah. Tempatnya nyaman banget lagi!" jawab Rania spontan. Tangannya terulur mengusak lembut kepala si pria yang kini masih manja di tempat yang sama.


"Berenang yuk yank! Enak banget mumpung sore masih terik," ujarnya sembari memutar tubuh perempuan itu menghadapnya.


"Jangan, aku nggak bawa baju ganti," ujarnya menahan cardigan yang hendak dilepas pria itu.


"Nggak usah pakai baju juga nggak pa-pa, nanti kalau udah nyemplung dalam air 'kan nggak kelihatan!" ujar pria itu jail. Terus bergerak rusuh dan nakal.


"Jangan Mas, tunggu-tunggu! Aku bisa sendiri, sayang ... oke, tapi baju aku masih di bagasi mobil," ujarnya.


"Panggil sekali lagi, aku suka dengernya," ujarnya penuh harap.


"Mas Ray sa—yang," ulangnya cukup lancar.


"Love you!" kata pria itu mengecup keningnya penuh perasaan.


"Buka baju aku, yank!" titahnya gemas.


"Hah! Jangan nakal Mas ....!" tegurnya menggeleng pelan.


"Nakal aja nggak pa-pa, aku kan mau berenang sayang, pikiran kamu udah travelling aja. Pengen ya?" selorohnya dengan nada guyonan. Menjawil gemas pipinya yang sedikit chubby dengan cubitan sayang.


"Apaan sih, jangan membuat huru-hara! Kamu sungguh meresahkan!" ucap Rania membuang muka. Pipinya benar-benar terasa panas.


Keduanya turun ke lantai satu, langsung menuju ke pinggir kolam yang indah. Terlihat pria itu mulai melucuti pakaiannya, menyisakan celana pendeknya saja. Mulai pemanasan sebelum nyemplung ke air.


"Sayang, ayo! Sini dong, jangan jauh-jauh!" kata pria itu menarik tangannya. Gadis itu tidak lekas menurut, diam menjauhkan tubuhnya. Karena gemas, Rayyan bergerak mengikis jarak lalu mengangkatnya begitu saja.


"Mas! Jangan, aa ... nggak mau dingin!" pekik Rania rusuh dalam gendongan.


"Sayang, diem, oke, tapi jangan jauh-jauh dari kolam. Aku nyemplung dulu ya?" Pria itu menceburkan dirinya ke kolam. Bergerak aktif memainkan gerakan tubuhnya.


Selain berenang, Rayyan aktif berolah raga gym, dan pecinta sepakbola bola atau futsal. Sehingga mempunyai tubuh yang atletis. Pria itu sering menyempatkan waktunya dikala senggang dan libur.


Rania mengamati saja sembari duduk di pinggir kolam. Kedua kakinya nyemplung memainkan air. Pria itu berdiri, bergelayut di antara kakinya setelah puas berenang.


"Beneran, nggak mau turun? Aku basahin ya?" ujar pria itu jail. Sengaja menyiram atasan kekasihnya menjadi setengah basah.


"Mas! Aku nggak minat," tolaknya manyun.


"Ya udah maaf, jadi basah lagi. Buka aja," ujarnya tersenyum.


P'tak!


Perempuan itu menyentil bahu kekasihnya dengan gemas.


"Aww ... mau lagi!" selorohnya tersenyum sembari mendrama menahan bahunya.


"Nakal ih, nggak mau!" sanggahnya hendak berdiri, namun pria itu menahannya, mendekap posesif.


"Mas, baju aku basah! Ya ampun ....!"


"Cari kehangatan di tengah kesempitan!" canda pria itu terkekeh manja.


"Ya ampun ... dasar domes!"