Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 159


"Lagi sibuk Dek, nggak ngeh sama urusan kita," ujar Rayyan santai.


Pria itu tersenyum devil sembari menatapnya. Mengikis jarak lalu menyambar pipinya dengan kecupan mesra. Rania pun terkekeh geli dengan perlakuan suaminya yang terdeteksi mesum nggak ketulungan.


"Mas, please ... tuh mamah lihatin sini mana serem pisan." Rania mendapati mertuanya yang menggeleng pelan terhadap putranya.


"Waduh ... cuma nempel doang udah diultimatum!" gumam Ray nyengir tanpa dosa. Menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal.


"Ini Juan sepertinya cari ASI sayang, kamu kasih dulu."


"Ray, jangan gangguin istrimu terus, kamu Rania mama ungsikan ke rumah loh, kalau dinakalin mulu."


Bu Wira mendekati ranjang, lalu memberikan bayinya pada ibunya. Terlihat bayi mungil itu berkedip lembut sambil menatapnya.


"Mau Mah, emang papahnya Juan meresahkan," adu Rania pada mertuanya merasa lebih dekat.


"Astaghfirullah ... aku terzolimi," jawabnya mendrama. Sontak membuat Rania dan ibu mertuanya terkekeh pelan melihat Ray yang masih suka manja-manjaan.


"Ra, itu cuap-cuap dedeknya lucu banget, nyariin tuh haus."


"Iya Mah, ini punya aku juga sudah penuh," jawab Rania merasa kurang nyaman.


Alhamdulillah ASI untuk Juan berlimpah ruah. Baru dia hari sudah keluar bahkan lancar. Padahal ini yang pertama untuk Rania menyusui, namun tak ada kendala yang berarti. Hanya saja bagian bakal buahnya sedikit lecet akibat lidah sikecil yang masih tahap penyesuaian diri.


Rania mendesis sesaat kala mulut mungil bayi itu berhasil meraih sumber kehidupan untuk dirinya. Rasanya luar biasa sakit untuk sesaat, namun seiring kuatnya hisapan bayi itu menghilang dan berangsur pulih.


"Sakit?" tanya Ray ikut meneliti. Merasa iba menatapnya, begitulah perjuangan seorang ibu. Luar biasa sekali dari mulai melahirkan, sampai menyusui, merawat dan mendidiknya.


"Sedikit, awalannya saja, kalau udah nen kaya gini, udah nggak," ujar Rania sedikit menahan napas menyesuaikan lidah kasar bayi itu pada tubuhnya.


"Dia pinter banget Mas, lihat nih banyak nen pipinya langsung berisi."


Rania menyingkap apron yang menutupi kulitnya. Memperlihatkan bayi mungil itu dengan wajah comelnya.


"Air minum dari sumbernya memang tidak bisa diragukan lagi, Dek. Jangankan bayi mungil, bapak-bapak aja gagal move on," seloroh Ray yang membuat Rania mendelik tak percaya. Ngomong apa jawabnya apa? Suaminya sungguh membanggongkan.


"Gimana rasanya? Enak kan? Sedot yang kenceng anak Papa, kamu merdeka!" seloroh pria itu sembari membuainya. Membuat Rania gemas saja dengan celotehan pria itu seakan menimpuk kepalanya.


"Mas, munduran dong kamu membuat aku resah. Susah gerak nih!" protes Rania demi melihat kelakuan suaminya yang semakin menjadi. Pria itu memang becandanya suka kelewatan, yakali mau lebih deket-deket lagi.


"Ya ampun ... galak banget, berasa kucing ketilang nyuri salmon. Padahal cuma mau ngendus doang," balas Ray sungguh menjengkelkan.


"Eh, ngambek nih ye. Aku aduin ke mama Wira."


"Mah, ini anak mamah pundungan Mah!" pekik Rania menginterupsi mertuanya.


"Biarin aja Ra, fokus aja kasih ASInya, nanti kalau Ray nakalin terus pulang ke rumah Mama aja," sahut Bu Wira tersenyum pelan.


"Yang anaknya siapa, belain siapa. Dasar ibu suri istrinya Pak Wira, love you mom." Pria dewasa itu berhambur memeluk ibunya dengan pura-pura merajuk.


Keduanya terlihat sangat lucu dan mengharukan. Suaminya memang penuh kejutan. Apa yang ia lakukan kadang tidak terduga sama sekali. Membuat Rania kadang dibuat melongo, senyum hari, dan terkikik lucu.


"Kamu tidak nugas? Sok balik ruangan sana! Biar Rania Ibu yang jaga," ujar Bu Wira begitu perhatian.


"Cuti menemani ibu negara hingga tiga hari ke depan Mah, lusa mulai masuk. Jadi walaupun sekarang berkeliaran di Medika, aku free. Dua hari ini spesial untuk istri dan anak aku mah. Harap maklum, suami siaga (sayang amanah gagah dan ah sungguh meresahkan kata Rania)," jawab Ray khas dengan guyonannya.