
"Iya, Jo, dia siapa?" tanya Rania penuh selidik.
"Bukan siapa-siapa sayang, maaf, sudah membuat kamu tidak nyaman," jawab Jo cukup tenang.
"Kalau bukan siapa-siapa kenapa kamu terlihat begitu mencemaskannya?" tekan Rania tak percaya.
Walaupun Rania dengan jelas membagi perasaanya, tetap saja merasa sakit jika mengetahui fakta kekasih kita mempunyai hubungan khusus dengan perempuan lain. Seegois itu kah? Bukan, tapi lebih ke sifat naluriah alami perasaan seseorang yang pada dasarnya masih menyimpan perasaan.
Rania juga tidak mau terjebak dalam dua cinta, sayangnya bahkan gadis itu sudah terjerat ke dalam permainan dunia nyata yang kadang membuat ia sendiri bahagia, terlihat kacau, atau bahkan stress karena tidak bisa mengambil keputusan dengan benar.
Jo mendekat, menatap wajah kekasihnya yang tampak lelah. Pria itu meraih tangan Rania, menggenggamnya penuh perasaan.
"Dia Yumna, teman aku. Sudah lama kita memang dekat, aku sudah menganggap dia seperti sahabat saja, bahkan saudara. Tetapi Yumna menanggapi berbeda, dia bilang—sayang dan cinta sama aku, aku nggak mungkin khianati kamu sayang, jelas aku tolak dia," jelasnya hati-hati.
Seketika hati kecil Rania seperti tertampar kenyataan, Jo yang juga sama dicintai orang lain saja begitu bisa setia, sedang dirinya malah mendua di belakangnya. Entah statmen itu membahagiakan atau tambah membuatnya galau, yang jelas Rania berusaha menyikapi dengan perasaan yang saat ini terlihat abu-abu.
"Aku pikir perkataan Yumna untuk mengakhiri hidupnya hanya sebuah ancaman saja agar aku mau menerimanya, bahkan aku tidak peduli sama sekali karena aku terus memikirkan nasib hubungan kita, nyatanya Yumna serius, benar-benar melaksanakan aksi frontalnya, tentu saja aku jadi merasa bersalah dan panik, aku harus gimana, Ra? Aku cuma mencintaimu," papar Jo menatap wajah Rania dengan sendu.
"Terima kasih sudah mencintai aku sedalam ini, maafkan aku, Jo, kamu tidak harus melakukan apapun atau merasa bersalah, semua akan baik-baik saja, Yumna akan segera sembuh," ucap Rania antara bingung dan haru.
Jo menatap haru kekasihnya yang nampak iba, pria itu menarik Rania dalam pelukan seakan-akan mendapat berjuta kedamaian dan ketenangan di sana.
"Apa aku boleh menjenguknya?" pintanya hati-hati. Rania mengangguk pasti, walaupun sebenarnya dalam hatinya ia sedikit ragu, mengingat seberapa cemasnya pria itu beberapa jam lalu.
"Terima kasih sayang, aku akan menjenguknya sekarang, kalau sudah jam pulang, tunggu aku ya, aku hanya menemui sebentar," ujar Jo lekas bergegas.
"Iya, aku tunggu Jo, kabari saja jika sudah selesai," jawab Rania melepas Jo dengan senyuman.
Jo lebih dulu meninggalkan rooftop, sementara Rania berdiam mencerna semua yang telah terjadi. Bahkan sekarang ia tidak tahu langkah pasti apa yang ingin ia ambil. Kenapa percintaannya menjadi rumit? Membuat kepalanya seketika pening.
Sepasang netra yang sedari tadi mengamati dari kejauhan pun, menahan rasa amarah yang melesak di dada. Sesungguhnya ia lelah dengan yang namanya sakit hati, dicampakan, tidak dianggap sama sekali, bahkan merasa diberi harapan palsu. Rayyan marah? Seharusnya ia memang ingin marah, tetapi kali ini ia bahkan tak berhak untuk marah karena dirinya hanyalah orang kedua, atau lebih tepatnya kekasih cadangan yang mencoba menjadi juaranya.
Pria itu memutuskan untuk pergi, pergi dari kehidupan yang tidak seharusnya, memaksakan cinta orang lain untuk mencintainya. Walaupun hatinya serasa ingin marah, namun ia sadar cinta mungkin belum bernaung padanya, dan sekali lagi, pria itu mengalami patah hati untuk yang kesekian kalinya.
***
"Jo, kamu ada di sini?" Yumna berusaha untuk duduk walaupun kondisinya masih lemas.
"Cepat sembuh ya, Yum. Kamu wanita yang kuat," hibur Jo mendekat.
"Percuma juga sembuh kalau kamu nggak mau sama aku, lebih baik aku mati saja," ucap Yumna menggebu.
Jo nampak sedikit bingung menyikapi hal itu, apalagi keluarga Yumna menaruh harapan besar pada Jo yang memang selama ini sudah terlihat akrab. Rania sendiri terlihat mendung mengamati interaksi kekasihnya di dalam sana melalui celah kaca yang terpasang dalam badan pintu.
Ada sedikit rasa kesal ketika Jo dengan perhatian dan telatennya menyuapi gadis itu. Sesuatu yang bahkan hampir tidak pernah mereka lalui bersama semasa mereka menjalin hubungan setahun terakhir ini. Keduanya sama-sama sibuk membuatnya jarang ketemu.
Dari kejadian itu, ia pun mulai bisa mengambil kesimpulan untuk dirinya. Bahwa yang selalu ada akan selalu mendapatkan tempat walaupun statusnya tanpa ikatan.
"Melamun Beb, lo nggk pulang? Atau mau nginap saja?" seloroh Asa dan Kenzo nyengir.
"Turut berduka cita, ternyata pasien tadi sesuatu buat Jo," ucap Kenzo sembari menepuk punggungnya prihatin.
Rania menatap kesal dan malas pada sahabatnya yang terlihat setengah meledek setengah menguatkan itu. Dengan langkah gontai, gadis itu mengikuti dua sahabatnya yang telah melangkah jauh. Terpaksa tidak menunggu Jo, dan memutuskan untuk pulang saja.
"Astaga! Ini mobil siapa sih, malang di sini!" Rania menggerutu mendapati motornya tidak bisa keluar dari area parkir karena sebuah mobil yang sepertinya tidak asing menghalangi akses jalannya yang jelas-jelas hanya satu arah.
Rania pun mengambil ponselnya, ia cukup menganga mendapati banyaknya panggilan dan pesan dari Rayyan. Perempuan itu memutar tubuhnya, berjalan cepat memasuki ruangan pria itu.
"Eh, maaf, saya tidak tahu kalau ada tamu!" sesal Rania yang masuk begitu saja ke ruangan pria itu tanpa permisi.
Bu Wira dan Rayyan menyorotnya secara bersamaan.