Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 111


"Hooh, sekarang aja masih ngilu bestie," jawab Rania mendrama.


"Ngilu? Apanya? Sakit apaan?" Jeje tak berhenti nyerocos.


"Sakit—hehe. Lo serius amad keponya, belajar Je, belajar persiapan ujian!" tegur Rania mengingatkan.


"Udah kali, kerajinan amad belajar wae," jawab Jeje percaya diri.


Sambil nunggu teman-teman nugas hari ini, anak-anak sibuk bercerita. Asa malah menyempatkan ngevlog juga, sepertinya gadis itu tidak bisa absen barang sejenak pun jika ada kesempatan. Narsis di depan kamera sudah menjadi salah satu menu wajib baginya.


"Woe ... sapa penonton gue dong, say hello!" ucap Asa menginterupsi sembari memvidio teman-temannya.


Nampak Jeje antusias mengikuti, mereka terus membuat vidio untuk dibagi pada pengikutnya di sosial media.


"Eh, Bu Dokter Rania, serius banget Bu belajarnya, madep kamera dong!" seru Asa mengaba-aba.


Rania hanya tersenyum simpul sembari melambaikan tangannya. Kemudian kembali sibuk membuka buku catatan. Rupanya perempuan itu tengah serius mempersiapkan ujian akhir di stase ini yang tinggal beberapa hari say good bye.


Sementara di sisi lain, Rayyan nampak sibuk untuk hari ini. Pria itu bahkan tak sempat makan siang bareng bersama istrinya yang sudah ia lakoni beberapa hari ini. Hanya berkabar lewat udara, dan berjanji segera pulang.


Rania sendiri siang ini nampaknya mempunyai kesempatan banyak berkumpul dengan teman-temannya. Sebelum akhirnya mereka pindah stase yang sebentar lagi akan berakhir. Sebelum memutuskan jalan bareng sama dua sohibnya, perempuan itu sudah lebih dulu mengabari suaminya dan berjanji akan menjemputnya setelah pekerjaannya usai.


"Nah ... gitu dong, akhirnya setelah sekian purnama, lo bisa juga gabung bareng kita. Heran gue sibuk mulu," ucap Jeje nampak semangat. Mobilnya diisi formasi tiga sekawan.


"Jadinya kita ke mana nih, nongkrong kafetaria langganan asyik kali yah, ngadem otak ini gegara habis presentasi."


"Punya ide nggak para bestie?"


"Ke mana aja Je, yang penting jalan healing."


"Sesungguhnya gue rada cemas, dan semoga saja stase selanjutnya masih di Jakarta."


"Kayaknya bakal terus stay deh, kecuali kalau di induk rumah sakit nggak ada, baru mlipir entah ke mana. Tapi kayaknya bakalan lebih seru, ketemu sama orang yang baru kenalan baru, siapa tahu ketemu dokter ganteng kaya dokter Ray, terus jodoh. Iya nggak sih."


'Eh, kenapa musti banget laki gue dibawa-bawa,' kata Rania yang tentu saja hanya diutarakan dalam hati.


Teman-temannya itu akan menjadi sangat rempong dan jujur sekali.


"Huum sih bener, walaupun harus beradaptasi lagi, tapi banyak pengalamannya dan pastinya susah-susah seru. Kaya kemarin kita-kita nggak sih. Paling parah ya di stase obgyn, pernah gue nggak tidur," timpal Jeje.


"Setiap anak koas kayaknya punya pengalaman tersendiri yang unik sih, hampir ngerasain kayaknya kalau nggak tidur. Beh ... jaga malam, aduhai. Eh tapi lucu juga sih, menarik dijadiin cerita walaupun cukup dikenang jangan sampai terulang. Gila capeknya minta ampun!"


Mobil menepi di sebuah Kafe yang cukup sering mereka kunjungi masa kuliah. Sengaja nongkrong sembari bersantap ria menemani sore itu.


"Gaes ... kayaknya bestie kita yang dua mau nyusul deh, kayaknya si Kenzo nggak bisa banget tanpa Asa," selidik Jeje.


"Iya kah? Kayaknya kelar koas ada yang bakalan ijab sah," ucap Rania tersenyum. Dirinya bahkan juga mau mengadakan syukuran besar mengenai resepsi pernikahannya.


Yang disindir cuma mesem-mesem nggak jelas. Asa dan Kenzo memang terlihat akrab satu sama lain sejak menjadi kelompok.


"Yah yah kok bareng sih, berarti Rania udah move on dong, gue kapan!" kata perempuan itu mulai mendrama.


Sepintas ingatan Rania langsung tertuju pada seseorang yang tak lain dan tak bukan, sahabat rekan sejawatnya suaminya. Ia teringat Dokter Raka yang kabarnya tengah mencari istri juga.


"Lo mau nggak, Je, gue kenalin sama duda ganteng, dia dokter juga loh," tawar Rania serius.


"Siapa? Emang ada dokter duda ganteng di Medika? Perasaan udah pada punya istri deh, kecuali dokter Ray, itu aja kabarnya lagi pedekate sama dokter Amel, nggak ada kesempatan."


"Bukan, kok dokter Amel sih!" sewot Rania lagi-lagi menoyor kepala sahabatnya. Saking gemasnya dengan mulutnya yang selalu nyerocos tanpa filter.


"Astaga! Sakit bego, biasakan deh, duh ... otak gue bisa lengser lama-lama berteman sama lo," kesal Jeje mengomel.


"Habisnya mikirnya tuh kok nggak pinter-pinter, menyebalkan!"


"Apanya yang salah, sensi deh, mulai ... heran gue sama lo ada dendam kesumat apa sama gue. Teman rasa musuh!" omel Jeje menatap sengit.


"Oh astaga! Itu bener nggak sih cowok lihatin sini terus," interupsi Jeje merasa risih. Saat ini mereka sudah berada di kafe dan tengah menunggu pesanan.


Arah pandang Rania dan juga Asa mengikuti Jeje. Benar saja pria itu seakan mengintai meja mereka. Membuat suasana tidak nyaman saja.


"Eh, iya sih bener, itu orang lihatin sini mulu, serem amat apa kalian ada yang kenal?" Rania mulai tak nyaman. Bukan hanya menatap tapi kadang tatapan itu seperti tidak biasa.


"Ada yang nggak beres nih, bikin ilfeel aja, apa perlu gue labrak tuh orang!" geram Jeje sengit. Nampaknya memang benar, pria yang tengah duduk sendiri itu mengamati mejanya begitu detail.


"Omo ... lihat yang datang, mantan lo Ra? Mau ngapain? Kok mencurigakan!" cerocos Jeje balik mengamati.


Tepat sekali, kenapa Jo bisa kebetulan ada di kafe yang sama. Sesungguhnya apa yang sedang mereka obrolin, sungguh sangat mencurigakan.


Saat mereka mulai asyik mengobrol, tanpa diduga sama sekali Jo datang mendekati meja.


"Hai Ra, hallo Je, Asa! Kebetulan sekali lagi ngumpul di sini? Boleh gabung?" sapa Jo mengabsen teman-temannya. Teman Rania sebenarnya teman Jo juga, mereka sudah mengenal kakak tingkatnya itu sejak masa aktif ngampus.


"Hai, ya kebetulan sekali bertemu di sini. Ngomong-ngomong dia siapa ya Jo?" kepo Jeje mengarah pada orang yang tadi, dan sialnya orang itu entah ke mana.


"Siapa Je?" balas Jo ikut celingukan.


"Orang yang tadi lo samperin lah, sebelum ke sini, itu teman lo?"


"Owh itu ... bukan lah, malah musuh gue, pingin banget gue beri karena udah pernah mau macem-macemin kamu, Ra?" kata Jo sedikit tersulut emosi.


"Maksudnya?" Rania jelas shock, menatap Jo penuh tanda tanya. Bayangan sekelebat dulu pernah ada yang mau melecehkan di kamarnya terngiang-ngiang kembali. Entah itu atau bukan, tetapi Rania menjadi takut sendiri apalagi orang tadi terus melihat ke arahnya.


"Lo ngomong apa Jo, emangnya ada yang pernah mau jahatin Rania?" tanya Jeje mewakili Asa yang juga kepo maksimal.


"Tanyakan saja pada orang yang sudah menghancurkan hubungan kita. Biar kamu paham, dan tidak memilih orang yang salah!" tekan Jo menatap seseorang yang baru saja datang menghampiri ke meja.