Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 132


Rania menyiapkan hidangan makan malam yang telah ia pesan. Dua porsi nasi goreng babat enduls cukup yumi untuk menemani malam ini. Ia sengaja memesannya karena memang malas keluar. Hari ini begitu capek ditambah efek cemburu jadi hawanya malas.


"Makasih," ujar Ray saat perempuan itu menyiapkan untuk suaminya.


Rania hanya membalas dengan senyuman. Lalu fokus menyantap makanannya.


"Dek, malam ini nggak mau ke luar. Ke mana gitu, kali aja mau mumpung aku masih di sini?" tawar Ray di sela mengunyah.


"Nggak Mas, capek, aku mau di rumah aja. Kalau Mas mau jalan-jalan ya nggak pa-pa barang kali mau ketemu sama dokter Alma."


Uhuks! Uhuks!


Ray sampai tersedak mendengar sindiran dari istrinya.


"Astaghfirullah ... kok masih dibahas, kamu kenapa Sayang? Tadi kan aku udah minta maaf."


"Udah dimaafin kok, ini kan tadi cuma nyaranin barang kali gitu, ya siapa tahu mau bernostalgiaan gitu," ujarnya sedikit menyebalkan.


Ray tidak menanggapi sepertinya istrinya itu tengah sensi jadi ia harus pintar membawa diri dan mengalah. Apalagi mereka tidak punya waktu banyak bersama karena besok sudah harus kembali.


"Mobilnya aku tinggal di sini ya? Biar Adek mudah buat trasportasi, kalau pulang malam juga nyaman."


"Kamu pulangnya gimana?" tanya Rania mendadak khawatir. Suaminya aslinya seperhatian itu.


"Aku naik travel aja nggak pa-pa bisa kok, santai," ujarnya menenangkan.


"Nggak usah juga nggak pa-pa aku bisa pesan ojol, taksi, kemarin tuh beneran cuma kebetulan doang. Lagian dokter Daniel juga udah tahu kalau aku udah nikah jadi nggak mungkin banget berpikir buat suka sama aku. Nggak semua orang suka sama aku?"


"Feeling cowok itu kuat, dia bakalan bisa tahu dari ia natap, bersikap, dan bahasa tubuhnya saja sudah kelihatan kalau ada rasa. Mau udah nikah, ataupun belum posisi kita yang jauh sangat rawan godaan. Tolong jaga cinta kita, Dek, aku juga bisa tenang ninggalin kamu di sini."


"Kayaknya malah aku deh yang ngerasa nggak tenang mikirin kamu di Jakarta, secara banyak banget kan dokter muda yang suka sama Mas, apalagi tahunya belum married. Jadi kesel!" sahut Rania sedikit sewot.


"Resiko punya suami ganteng ya gitu Dek, tapi tenang hatiku sudah dibooking sepenuhnya oleh Dek Rania tersayang. Please ... jangan mikir macam-macam. Karena curiga itu membuat pikiran tidak sehat. Kamu seharusnya ngerti lah susahnya aku dapatin kamu masak aku berpaling. Impossible!"


"Dih ... narsisnya keluar, untung udah cinta, jadi mau ngomong apa juga nggak goyah."


"Nyicip punya kamu dong Dek?"


"Sama kali Mas, bilang aja minta disuapin," tebak Rania tepat pikiran.


"Iya, kamu bener, aku pingin bermanja-manjaan termasuk urusan perut. Kangen banget kalau pagi ada yang bangunin, ada yang kiss penyemangat, ada yang buatin sarapan dan suhangat. Masih tiga minggu tantangan banget. Semoga kuat, LDR sungguh menyiksa batin dan ragaku."


"Bentar kok, dua puluh satu hari lagi kurang lebih. Begitu kelar aku langsung balik. Nggak sabar pingin selesai masa koas. Berasa capek banget."


"Aku tertarik jadi dosen Fakultas Kedokteran Mas, jadi ilmu yang sudah aku peroleh nanti dibagi sama mereka-mereka di dunia pendidikan. Baru rencana sih, nanti kalau udah lulus ujian sepertinya aku bakalan daftar," ujar Rania penuh rancangan.


"Boleh kok, aku bakal dukung kamu sepenuhnya. Asal nggak jauh-jauh juga, tetep dalam wilayah yang sama. Setelah lulus kita promil ya, Dek?"


"Insya Allah, Mas, semoga dimudahkan."


Sembari ngobrol sambil makan, tak terasa isi piring Rania habis buat nyuapin suaminya. Pria itu begitu bersemangat makan dalam suapan manjanya.


"Mau lagi? Ini punya Mas habisin," ujar Rania melongo sendirian. Ia baru beberapa suap sudah ludes tak terasa tangannya tergerak menyuap suaminya tefleks saja."


"Gantian sini aku yang suapin," ujar Ray perhatian.


"Tadi persentasinya lancar?"


"Alhamdulillah lancar, walaupun masih ada yang sedikit bingung. Ilmu kejiwaan itu kaya ilmu ngawang-awang tapi nyata banget. Sumpah kasusnya juga beragam, aku suka terenyuh melihat mereka-mereka yang sebenarnya punya kepribadian yang baik, cantik dan ganteng tapi dirusak oleh orang-orang tidak bermoral. Aku miris dan juga kasihan banget nemuin kasus itu Mas, nggak bisa ngebayangin jadi orang tuanya sedihnya kaya apa."


"Kadang ada orang-orang yang hidupnya kurang beruntung, pentingnya kita tetap waspada di mana pun kita berada. Semoga Allah selalu melindungi Adek dalam bertugas di mana pun berada. Kita sama-sama sehat, para dokter di mana pun dengan profesinya, semoga selalu sehat dan lewat tangannya atas izin-Nya pasien-pasien itu bisa sembuh."


"Ternyata pekerjaan kita itu begitu mulia ya Mas, mana aku masih sering banyak ngeluhnya lagi."


"Ya kalau itu sih wajar, sekarang ada tugas nggak, aku bantu," ujar Ray perhatian dan pengertian.


"Ya ada biasa, mana tadi yang belum ngerti mau buat PR terus nanti diskusi bareng-bareng. Bisa ditanyakan di forum. Eh ya kemarin nggak jadi kaya seminar gitu, katanya ada dapat undangan?"


"Jadinya di Jakarta, pas rumah sakit kita jadi tuan rumah."


"Bukan yang itu, apa itu lah lupa?"


"ATLS? Ya rencananya minggu ini ke Bandung tiga hari. Ngisi seminar di sana. Kita jauhan lagi, tapi tak mengapa aku malah bisa galau berat kalau acara pas kamu udah pulang."


"Sampai tiga hari? Duh ... jadi pengen ikut."


"Kapan-kapan ya ke Bandung, yang pure jalan-jalan. Adek sibuk aku juga jadi kita bentrok, nanti mungkin setelah koas selesai, habis syukuran pernikahan kita perlu banget honeymoon."


"Iya Mas, mau. Nggak perlu jauh asal sama kamu. Kalau lagi kaya gini tuh berasa banget kangennya."


"Adek kangen juga sama aku, kirain cuma aku doang yang kangen. Sini deh sini sini." Ray menarik tangan Rania hingga istrinya terduduk di pangkuannya.


Ray membelai dengan sayang, "Malam ini kita habiskan dengan salam perpisahan yang paling manis. Mau berapa ronde?"