Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 143


Ray ingin kesal tapi tak sampai hati. Mereka pun akhirnya berjalan sendiri-sendiri agak berjarak dengan pria itu mengekor sembari mengawasi istrinya yang berjalan mendahului.


Duo pasangan itu disambut Gerald dan Kania dengan senyum sumringah.


"Hai Bro, tumben banget sempat. Sengaja jalan-jalan atau gimana nih," sapa Geral adu kepalan tangan dengan sohibnya.


"Jalan-jalan sekalian niat mau ke sini. Kita mau pesen banyak bahan buat acara resepsi pernikahan kita."


"Gaun pengantin? Wah ... sayang kita banyak orderan nih," seloroh Gerald menginterupsi istrinya.


"Alhamdulillah ... dengan senang hati," jawab Kania girang.


"Dek, kamu pilih sendiri mau yang kaya mana. Termasuk untuk semua bahan bridesmaid dan semua keluarga."


Rania pun mulai melihat-lihat bersama Kania. Sementara Ray dan Gerald terlibat banyak obrolan.


"Ini gimana Mas?"


Untuk beberapa bahan yang akan dibagikan Rania memilih warna pastel pink dengan bentuk gaun. Kalau untuk dirinya sendiri Rania lebih memilih warna lilac ungu muda yang lembut.


"Aku ngikutin selera Adek aja, bagus-bagus kok, kainnya juga bagus."


"Untuk kamu nanti pasti dipilihin bahan premium," ujar Gerald.


"Ada diskon nggak? Beli banyak nih," selorohnya tersenyum.


"Masa anak Sultan minta diskon. Pesen banyak juga nggak bakalan duit lo berkurang."


"Kali aja ada harga miring, iya kan sayang. Hehe."


Dua pasangan itu saling tertawa. Usai dari butiknya Kania. Ray dan Rania memutuskan untuk pulang. Hari sudah sore tanpa terasa mereka sambi dengan mengobrol sampai dengan bahan dan juga model.


"Atasnya jangan terlalu rendah Ka, biasa aja."


"Ish ... ini tuh pas Mas, masih aman kok, nggak kelihatan," ujar Rania saat diukur.


Ray mengamati dengan teliti, kalau hasilnya tidak sesuai saat fitting bisa didaur ulang lagi.


"Terima kasih sudah berlangganan di tempat kami, jangan lupa mampir lagi," ujar Kania seraya memberikan sebuah bingkisan.


"Jangan lupa nanti dipakai ya?" bisik Kania berkedip genit.


Rania balas tersenyum. Pasangan dokter itu pun pamit pulang.


"Itu apa, Dek?" tanya Ray penasaran.


"Bonus, kayaknya pakaian deh," jawab Rania santai.


Mereka sudah di dalam mobil hendak pulang.


"Wao ...." Seketika Ray membulat menemukan pakaian dinas wanita yang begitu seksi.


"Ish ... kenapa dibuka-buka segala sih," kesal Rania memasukan kembali. Sementara Ray senyum-senyum tidak jelas.


"Kenapa?"


"Nggak ada, kalau nanti malam pakai itu, pasti cantik banget," ujarnya mengerling.


"Kita lihat saja nanti," tantang Rania.


Ekspektasi tak sesuai realita, jangankan ***-*** bahkan malam ini perempuan itu terlihat sangat aneh dengan membuat sekat di antara tempat tidurnya.


"Dek, ini tidak lucu ya, masak kita harus tidur dengan pembantas," protes Ray terlihat kesal.


Ray mungkin masih sabar untuk urusan di luar, tapi tentu saja ia protes dan kesal setengah mati saat Rania terang-terangan menyatakan ingin pisah ranjang.


"Maaf, Mas, tapi aku sedang dalam kondisi di mana aku tidak suka berdekatan denganmu. Mohon maklum," ujar Rania antara bingung dan juga galau menyikapi tubuhnya yang aneh.


"Bagaimana ceritanya seorang istri tidak ingin berdekatan dengan suaminya. Kebanyakan dari mereka ingin bermanja dan disayang atas kehamilannya. Kamu sungguh aneh," protes Ray uring-uringan.


"Kamu maunya aku cepet hamil, giliran udah hamil diomelin mulu. Maumu apa sih, Mas? Nggak suka kalau aku hamil?" Rania ikut sewot.


Merasakan trisemester pertama yang membuatnya merasa tak nyaman untuk beraktivitas, cukup membuat moodnya berantakan ditambah suaminya yang super nyebelin.


"Tapi Dek, aku kangen. Gimana kalau aku pengen, ini namanya penyiksaan batin dan raga."


Ray mengacuhkan mood swing istrinya, bisa-bisa ia kering kerontang diacuhkan Rania setiap waktu. Pekerjaan di rumah sakit saja sudah membuatnya cukup capek. Sampai rumah berharap mendapat kehangatan yang mampu melebur rasa lelahnya, sayangnya itu hanya angan saja Rania benar-benar anti padanya bahkan ia beneran muntah saat Ray mendekap.


"Maaf Mas, aku nggak ada maksud buat pakaian kamu kotor, aku bener-bener mual," sesal Rania merasa begitu payah.


Perempuan itu kebingungan sendiri menyadari respon tubuhnya yang tak terduga. Ia segera berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan isi perutnya yang terus bergejolak.


Ray terbengong, ia tidak marah sama sekali terkena muntahan istrinya. Bahkan pria itu yang membersihkan sisanya di lantai kamar. Setelahnya membersihkan diri di kamar mandi.


"Dek, kamu nggak pa-pa?" tanya Ray ikut berjongkok dengan jarak aman.


Rania masih di kamar mandi sesaat setelah Ray menyusul.


"Maaf, aku nggak bakalan maksa lagi, apa perlu aku gendong? Kamu terlihat tidak baik-baik saja."


Rania menggeleng lemah, ia berusaha berdiri dengan tubuh lemas. Tiba-tiba perempuan itu ambruk di depan Ray hingga membuat pria itu terpekik syok.


"Rania! Astaghfirullah ... sayang, bangun sayang!" seketika Ray menjadi panik.


Pria itu membawa istrinya ke ranjang, segera melakukan pertolongan pertama pada orang pingsan. Melakukan pemeriksaan dini dan melakukan perawatan di rumah. Bahkan Ray menelpon langsung dokter kandungan untuk datang ke rumah.