
Suara vibrasi handphone yang memekik di saku jas Rania, menghentikan aksi mereka berdua. Keduanya saling memberi jarak. Masih dengan napas memburu.
"Siapa?" tanya Rayyan seakan tak rela melepas pagutan mereka.
"Jeje, jam istirahat aku sudah habis, aku harus kembali ke stase."
"Ra, kamu belum makan siang?"
"Nanti saja," jawab Rania sembari beranjak.
"Ra!" cegah Rayyan menahan gadis itu lalu mencium keningnya, "Love you Rania," ucapnya sembari melepas kepergian kekasih orang itu dari ruangannya.
Rania hanya menanggapi dengan senyuman, lalu meninggalkan pria itu dengan suasana hati yang entah.
Ngomong-ngomong kok sebutannya nggak enak banget, kekasih orang! Ya begitulah, Rania masih betah mempertahankan hubungan mereka yang katanya sering cekcok itu. Rayyan pun menjadi penasaran, siapakah sosok Jovan sebenarnya. Kenapa Rania seakan sulit untuk melepas pria itu. Sebenarnya apa sih kelebihan dari pria itu.
Rayyan pun mulai mencari tahu tentang pemuda yang menjadi pacar Rania kekasih ilegalnya. Ia yang telah jatuh cinta, tentu saja tidak akan membiarkan hubungan mereka tetap awet hingga nanti. Walaupun datang menjadi orang kedua, Rayyan beriktikad menjadi orang yang terakhir dalam diri Rania.
Apakah pria itu lebih tampan? Oh, tentu saja tidak, Rayyan yang paling tampan seantero bumi versi dirinya.
Apa lebih kaya? Tentu saja Rayyan tak kalah kaya, ia bahkan mempunyai banyak rumah sakit, eh ralat, beberapa rumah sakit milik orang tuanya yang pasti akan menjadi miliknya karena pria itu adalah anak tunggal.
Apakah lebih mencintai atau menyayangi? Hmm, tentu saja Rayyan orang yang paling menyayangi perempuan itu, bahkan separuh napasnya selalu kembang kempis menggumamkan namanya.
Penasaran, Jovan Fahreza Nicholas itu siapa sih? Anak kedua dari pasangan Ibu Sarah Annara dan Bapak Zidan Nicholas itu adalah seorang wakil direktur di perusahaan ayahnya di bidang penerbitan. Laki-laki berumur dua puluh empat tahun itu masih mengenyam pendidikan S2nya di kota ini sembari menjalani berbagai bisnis.
Rayyan kepo dan searching biodata seorang Jovan Nicholas karena saking penasarannya. Profilnya cukup menarik, tetapi tentu saja pria itu merasa paling menarik menurut versinya. Walaupun pengalaman pertama bersiasat merebut kekasih orang, sepertinya pria itu tidak akan menyerah dan akan terus berjuang mendapatkan hatinya.
"Ra, woe ... lo kesambet ya?" tegur Asa merasa gemas mendapati rekannya seperti orang aneh. Melamun, dan kadang senyum-senyum kurang waras.
"Nggak lah, kantin yok, laper banget mogok makan dari kemarin." Rania menyeret Asa yang sore ini baru saja selesai bertugas.
"Lapar juga sih, tapi malas banget di kantin. Kafe aja lah, biar bisa ngobrol apa gitu."
"Dih ... gue ngantuk, pengen banget tidur tapi lapar."
"Emang, kalau ada waktu luang yang tersisa, mending buat tidor, dan tidoooor. Berasa dendam tahu nggak sih, pengen tidur tenang, terus bangun suka-suka."
"Gue menanti hari itu, oh kapan liburnya ya?"
"Tahun depan lah, baru juga jalan satu stase, semangat Wie masih ada 14 stase lagi menanti."
"Semoga kuat sampai finish."
"Besok ujian, gue deg degan."
"Jeje ngulang kemarin, diundur lebih tepatnya, tapi emang pernah sih dan itu bikin deg degan."
"Konsulennya siapa?"
"Mati gue, dapat Bu Hanum, mana galak banget."
"So, makan terus pulang, tidur, habis itu belajar-belajar gaes ....!"
Rania tengah sibuk menyantap mie ayam pedes sedang yang menemani sore itu kala vibrasi teleponnya memekik. Gadis itu segera meneliti, dan melihat nama my Jo tertera memenuhi layar ponselnya. Dengan ragu gadis itu mengangkat telepon yang, rupanya Jovan sore ini datang ke rumah sakit niat khusus menjemput kekasihnya. Entahlah angin segar apa yang membuat laki-laki itu tumben-tumbenan menghampiri, Rania justru takut bila Rayyan memergokinya. Apalagi pria itu banyak pasang mata di rumah sakit ini.
"Siapa Ra, kok nggak diangkat?" tanya Asa demi mendapati sahabatnya hanya menatap dengan ragu.
"Jo, Sa, dia mau jemput," jawab Rania sembari beralih menatap deretan pesan yang terkirim dari kekasihnya.
"Cie ... mau ketemuan nih, roman-tomannya kencan," goda Asa mengerling.
"Astaga! Jo udah di depan," pekik Rania gusar.
"Beneran? Ya udah samperin gih, atau suruh masuk aja nemuin di kantin, makanan lo kan belum datang."
"Ish ... lama amad mikirnya, itu angkat dong telepon tuh."
Lama tidak ada balasan membuat Jovan kembali meneleponya. Rania pun mengatakan jujur dan benar saja, pria itu langsung menghampiri dengan semangat. Entahlah, perasaan Rania sekarang malah yang waswas karena takut arayyan melihat Jovan di sana dan berimbas pada kelangsungan hidupnya.
"Hallo sayang!" sapa Jovan menghampiri Rania. Tersenyum dengan manis dan duduk di samping Rania.
"Hai, Sa, lama tidak bertemu," ucapnya sembari mengangguk sopan.
"Apa kabar Jo, lo jarang nongol sih, lama juga ya tidak saling sapa," jawabnya kalem.
"Gue gabung nggak pa-pa kan ya?"
"Nggak pa-pa lah, aman. Rania juga baru pesen, iya kan beb."
"Iya, kamu mau pesen apa?" tanya Rania berusaha tenang. Entah mengapa ia kepikiran dengan Dokter Rayyan yang tadi sempat menyuruhnya menunggu dirinya pulang.
"Nggak kok, nanti aja. Nungguin kamu aja, kamu pasti capek banget 'kan hari ini. Tenang sayang, aku nggak akan ngajak jalan, aku main aja ke kostnya temenin kamu."
Rania mengangguk dengan senyuman, saat Jovan mengelus rambut kekasihnya dengan sayang, seseorang dari sudut arah lainnya menyorot tajam ke arah keduanya.