Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 102


Rayyan mengambil tangan istrinya, mengarahkan pada aset pribadinya. Sontak tindakan itu membuat Rania melebarkan netranya dengan tanda tanya.


"Mas!" pekiknya bingung sendiri. Saat Rania ingin menarik tangannya, pria itu menahannya agar tetap tinggal dengan wajah memohon.


"Please sayang ... dielus-elus biar jinak, pelan-pelan aja biar makin sayang. Anggap saja hari ini kenalan lebih dekat supaya besok udah nggak kaget."


"Tapi Mas, aku gel—" Pria itu langsung menyumpal mulutnya yang cerewet dengan bibirnya. Tak membiarkan istrinya terlalu banyak protes, ataupun menyela. Malam ini, itu benar-benar sesuatu yang baru buat Rania. Menggenggam sesuatu yang bisa menciptakan adrenalin keduanya terpacu syahdu.


"Lebih lembut lagi sayang, pinter! Duh ... aku mau yang lebih!"


"Ngapain? Mas, nggak mau!" Rania menggeleng resah.


"Di sini boleh?" pintanya ragu.


Rania kembali menggeleng, ia jelas masih awam. Apa-apaan suaminya itu nakal sekali.


Pria itu tidak kehabisan akal, namun juga tidak memaksa kehendaknya bila pasangannya merasa tidak nyaman. Ia kembali merusuh, menciptakan suasana panas di antara keduanya, hingga membuat perempuan itu merasa melayang nan jauh.


"Kamu suka?"


"Mas, please ... ! Oke, kamu pemenangnya."


Rania belajar bagaimana caranya menyenangkan suaminya saat dirinya tak bisa dijamah terlalu jauh. Ya, walau pemula, nyatanya ia sukses membuat pria itu merem melek tak terbantahkan. Menikahi pria dewasa itu memang harus pintar mengimbangi, karena ia banyak maunya. Hahaha.


"Udah ya, aku mau tidur, kamu nakal!"


"Terima kasih sayang, kamu pinter," ucapnya ambigu sekali.


"Hmm, nite!" ucapnya sembari menarik selimut. Setelah memanjakan suaminya akhirnya gadis itu bisa menyambangi ke alam mimpi dengan tenang. Jelas pria itu anteng, dan bisa tidur pula dengan begitu nyaman.


Pagi harinya, keduanya terbangun saat masih gelap. Mereka sudah terbiasa bangun di awal waktu, semenjak menjadi koas teladan Rania sudah hapal betul karena harus follow up pasien pagi-pagi, bahkan hingga dini hari tidak tidur. Namun, karena sekarang masih di stase radiologi, sudah barang tentu lebih santai dan fleksibel. Jam terbangnya slowly, dan pastinya bisa pulang lebih awal. Sungguh idaman para koas di stase ini.


Setelah selesai bersiap-siap, keduanya menyempatkan sarapan dulu bersama keluarga.


"Ray, kamu bisa kosongkan jadwal kalau mau ambil cuti liburmu," ucap Pak Wira sungguh pengertian.


"Belum Pah, Rania masih full jadwal, belum bisa untuk waktu sekarang."


"Sebenarnya Papa kasihan sama kalian, pinter-pinter bagi waktunya aja ya, karena pendidikan Rania juga penting, semangat Nak! Nanti setelah lulus bisa ambil internship di Medika aja, sepertinya Rayyan nggak mungkin ngijinin kamu jauh."


Rayyan mengangguk setuju, betul kata ayahnya dirinya tidak mungkin bisa tinggal berjauhan apalagi masih baru.


"Iya Pah, terima kasih tawarannya. Masih lama semoga diberikan kelancaran."


"Udah berapa stase yang berjalan?"


"Alhamdulillah lebih dari separonya Pah, masih banyak sih yang belum, sambil jalan banyak belajar juga. Mas Ray bantuin belajar juga kok," ucapnya jujur. Mereka tengah sarapan bersama.


Pria itu tersenyum, tangan kirinya terulur mengusap puncak kepalanya lembut. Istrinya itu pintar sekali memuji, padahal kemarin-kemarin walaupun banyak belajarnya tetap saja lebih banyak modus dan rusuhnya. Sungguh belajar berkedok bucin, untung saja Rania tidak begitu menyadarinya. Walau sebenarnya sadar, tetapi pasrah, karena Mas Rayyan suka membuat ancaman yang melesakkan.


Pagi ini pria itu terlihat lebih bahagia, sudut bibirnya banyak ketarik membuat lengkungan, bahkan sampai membuat orang sekitarnya gagal fokus.


"Mas, jalan, kok lihatin aku mulu!" tegur Rania saat keduanya sudah di dalam mobil.


"Bentar, lagi mandangin makhluk Tuhan yang paling cantik, aku gumush, Dek!" ucapnya sembari mendekat. Menyambar pipinya yang sedikit berisi.


"Dih ... pagi-pagi ngegombal mulu, kalau kaya gini aku malah yang gemes karena kamu nggak jalan malah senyum-senyum kaya orang kesambet."


"Oke sayang, kita jalan. Jadi nanti kita pulang ke rumah ya, jangan lupa rumah impian kita sayang."


"Nggak kok, kamu nyamannya di mana? Wes aku yang ngikutin aja."


"Di mana aja, bisa kok. Rumah nggak pa-pa, tapi aku nggak suka warna cat di kamarmu aku mau ganti," pinta gadis itu request.


"Oke, mau ganti warna apa, nanti biar aku telepon tukang buat ngurusin semua desain yang kamu inginkan."


"Aku mau yang sedikit cerah, tambahin aja grey atau putih Mas, kayanya kalem dan sejuk."


"Oke sayang, request diterima," jawab pria itu enteng. Lalu terlihat menilik layar ponselnya, menepikan mobilnya sebentar, sibuk menelepon seseorang di sebrang sana sambil melajukan kembali kendaraannya.


"Nanti pulangnya nungguin aku ya, langsung aja ke ruangan pribadiku. Hari ini ada beberapa jadwal operasi yang aku tangani."


"Iya Mas," jawab Rania tenang. Semua perintahnya mutlak bagai ketentuan yang berjalan. Selain karena ridho suami tetapi juga sudah mulai terbiasa dan nyaman.


Tepat pukul tujuh lewat empat puluh delapan menit, roda-roda kokoh miliknya berhenti di basement rumah sakit khusus untuk dokter, malah untuk wakil direkturnya sendiri sebenarnya mempunyai tempat parkir khusus yang pastinya diberi plakat agar tidak sembarang orang menempatinya.


"Aku turun dulu Mas, selamat bekerja!" ucap gadis itu sembari mengulurkan tangannya.


Rayyan menerima uluran tangan itu, membalas dengan kecupan sayang di pipi kiri dan kanan, serta puncak kepalanya. Bahagia jelas begitu terpancar di wajahnya.


"Dek, bentar!" Pria itu masih menahannya.


"Kenapa Mas?" Rania menoleh. Sontak pria itu menarik ikat rambut istrinya.


"Eh, kok dilepas!" protes perempuan itu tak setuju.


"Gini aja lebih cantik, leher kamu yang jenjang ketutup, nanti bikin salfok orang jadi pen gigit."


"Itu sih kamu kali Mas, dasar emang nakal sama otak mesum!"


"Iya, semoga aja cuma aku ya yang berimajinasi atas tubuhmu, nggak rela banget kalau ada yang berani berfantasi atas kamu."


Rania memaklumi kekhawatiran suaminya, ia mulai berpikir untuk menutup keseluruhan.


"Kamu mau aku berhijab?" tanya gadis itu spontan.


"Aku nggak akan nyuruh kalau itu buat kamu nggak nyaman. Lagian semua itu kan harus dengan hati, nggak boleh dipaksain."


"Iya Mas, makasih, insya Allah aku bisa jaga penampilan aku masih dalam kadar kesopanan kok."


Mereka berpisah di parkiran setelah meninggalkan ciuman panas sesaat sebagai pamungkas pagi ini.


Rania langsung menuju ruang radiologi, bersiap tugas membantu di ruang kerja. Terutama ruang foto rontgen untuk anak-anak koas.


Karena memang jam kerjanya nyantai, jadi mereka yang tidak kebagian atau bergilir menunggu saling bahu membahu. Lalu antri membacakan hasilnya di depan konsulennya.


Lepas berkutat dengan hasil foto, Rania dan teman-temannya memutuskan mengisi perutnya di kantin. Suasana sudah memasuki istirahat jadi kantin lumayan ramai.


Saat masih memesan makanan, tak sengaja netra itu menyorot sisi lainnya. Suaminya juga berada di tempat yang sama, sepertinya tengah menikmati makan siangnya bersama rekan sejawatnya Dokter Raka, namun ada yang mengganggu penglihatan Rania, ia terlihat sedikit kesal saat suaminya terlihat ngobrol santai dan asyik dengan hampir tidak berjarak dengan Dokter Amel yang jelas-jelas selalu salah tingkah bila di dekatnya.


"Ra, lihatin apaan sih?" tegur Jeje menginterupsi. Arah pandang Jeje tertuju pada Rania yang terus menatap ke sisi di mana Dokter Rayyan, Raka, dan juga Dokter Amel berbincang.


"Owh ... mereka mah biasa, kaya kita bestiean. Kabarnya nih ya, itu Dokter Amel lagi pedekate sama Dokter Rayyan, jadi wajar sih secara sama-sama dewasa dan single."


"Eh, siapa bilang dia single, dia itu pria beristri!" nyolot Rania sedikit kesal.