
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Ray setelah selesai sesi pemeriksaan.
"Bu Rania kaget saja sama kondisinya yang lemas akibat banyaknya cairan yang keluar. Saya bantu dengan infus dulu ya?"
"Dok, apa ada penawar untuk masa ngidam yang begitu aneh?" tanya Ray dengan penasaran yang besar.
Dokter Dara tersenyum kalem, sepertinya fase ngidam yang dialami istri dokter Ray cukup membuatnya pusing. Hingga kentara sekali ia mencari solusi. Kedua teman sejawat yang terlihat akrab itu saling berbincang dengan sesi konsultasi.
"Untuk acara ngidam sendiri itu, bawaan dari keinginan si janin itu sendiri. Jadi kondisi ibu satu dan yang lainnya berbeda. Tak ada pengobatan medis untuk mencegah itu karena sifatnya alamiah. Namun, untuk meningkatkan kiat-kiat khusus mengatasi ngidam ada beberapa tips," jelas Dokter Dara tersenyum. Merasa lucu dengan keterangan yang dialami pria itu.
"Apa kiat-kiat khusus itu Dok? Istri saya semakin hari semakin aneh dan kadang membuat saya gemas," curhat calon bapak tersebut.
"Kembali kepada pasangan itu menyikapi kehamilannya ya Pak. Kesiapan dari keduanya baik calon ayah dan calon ibu. Karena ibu yang bahagia dengan dukungan penuh dari suami dan keluarga sangat perlu untuk ibu hamil mengingat moodnya yang berubah-ubah."
"Yang pertama panjangin sabarnya, Ray ... sesungguhnya ujian hidup itu bermacam-macam. Mengalami mood swing dan morning sickness untuk ibu hamil itu sesuatu yang menyiksa, tetapi kalau iklhas dengan rasa tidak nyaman dan tidak enak itu insya Allah akan melewati dengan mudah."
"Dokter Ray pasti lebih paham menyikapi istrinya mau bagaimana. Biasanya ngidam yang cukup unik bin aneh tapi fakta itu hanya terjadi di trisemester pertama. Jadi anggap saja sebulan ini sedang panen pahala, Dokter Ray," pesan Dokter Dara bijak.
"Iya Dok, saya akan coba menanamkan sugesti-sugesti positif untuk menghindari ngidam yang terlalu berlebihan," jawab Rania ikut menyimak obrolan mereka.
"Komunikasi keduanya sangat penting, saling terbuka antar pasangan. Semoga Ibu Rania cepat sehat kembali. Saya permisi," pamit Dokter Dara lalu.
"Terima kasih Dok, malam-malam sampai nyasar ke sini. Hati-hati di jalan!" ucapnya sungkan.
"Iya ini di luar jam kerja demi keluarga Dokter Ray, tapi tenang kebetulan saya sedang tidak ada acara lainnya. Hanya saja dinas malam saya dengan suami jadi tertunda. Hehe," seloroh Dokter Dara terkikik resah.
"Semoga suaminya tidak ngamuk sampai rumah dan belum tidur. Semoga berhasil, sekali lagi terima kasih!" ucapnya dengan menunduk hormat.
Selepas kepulangan Dokter Dara, Ray langsung kembali ke kamarnya menemui istrinya.
"Gimana? Apa masih kurang nyaman atau sakit?" tanya Ray dengan jarak aman.
"Nggak pa-pa kok, istirahat Mas!"
"Iya tapi jangan dekat-dekat, maksud aku jangan menempel," ujar Rania.
Ray setuju, pria itu merebah pelan di kasur bagian dirinya. Mengamati istrinya yang perlahan menutup mata. Pria itu masih terjaga, perlahan mendekat saat istrinya benar-benar sudah tertidur. Sesungguhnya Ray begitu kangen, namun sepertinya memang ia harus bersabar untuk beberapa minggu ke depan. Demi si buah hati yang sangat pria itu impikan. Ray harus menambah stok sabar seperti yang dokter Dara katakan.
Ray mencium lirih istrinya saat perempuan itu sudah terlelap.
"Jangan rewel ya sayang, izinkan papamu menuangkan rasa kasih sayang ini sebatas menciumnya. Aku kangen Dek," lirih Ray dengan gerakan selembut mungkin. Setelahnya pria itu bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi harinya saat Rania terjaga, tidak menemukan Ray di kamar. Rupanya pria itu sudah bangun lebih awal tengah menyiapkan sarapan sehat untuk ibu hamil.
Rania bergegas bangun, melirik sekitar ranjang. Sepertinya suaminya baru saja selesai sholat dengan sajadah dan pakaian muslim masih belum dibereskan. Perempuan itu segera bangun menunaikan dua rakaat subuh yang sedikit tertinggal.
Cukup lama berdiam diri di kamar, rupanya pria itu muncul dengan membawa sarapan sehat untuknya. Roti gandum panggang isi telur dan alpukat serta susu pasteurisasi tersaji di depan mata.
"Pagi sayang, sarapan dulu," ujar Ray sumringah.
"Pagi Mas, terima kasih. Kamu mau ke mana?" tanya Rania demi melihat suaminya sudah menggunakan pakaian olahraga.
"Olahraga di sekitaran ya, pengen lari keliling kompleks. Lagi puasa ehem ehem Dek, jadi aku butuh kegiatan positif lainnya untuk meminimalisir otakku agar tetap waras," curhat pria itu jujur dan terlihat santai.
"Nanti kita coba deh, barang kali kalau aku kangen bisa."
"Emangnya kamu kangen?" tanya Ray dengan antusias.
"Iya lah, walaupun kamu ngeselin tapi kan suami aku. Normal dong kangen."
"Bagaimana kalau dicoba sekarang, mungkin boleh?" pintanya takut-takut.
"Nanti malam aja, sekarang suapin dulu, olahraganya nanti. Aku lagi pengen dimanja," rengek Rania yang seketika membuat Ray mengiyakan.