Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 74


"Mati aku, gimana nyingkirin tuh orang!" gumam Rania cemas.


"Siapa Ra? Angkat dong, berisik!" sahut Rayyan masih pada posisi yang sama.


"Mas bangun, Mas!" Rania menggoyang tubuh Rayyan. Gadis itu sedikit menarik lengan pria itu agar bangkit dari sana.


"Apa sih sayang, aku mau tidur," ujar Rayyan santai.


"Ish, mama aku telepon, kamu ngumpet dulu di mana lah nggak mau tahu ayo cepet bangun."


"Mama Inggit telepon? Bagus dong aku mau kenalan," jawab Rayyan santai.


"His, mama tuh suka sidak ruangan, please kamu ngumpet bentar, ayo dong aku mau angkat telepon."


"Ngumpet di mana Ra, lagian nggak pa-pa sayang aku mau kenalan." Rayyan malah menego ngeyel sekali.


"Please Mas, cepetan dong, nggak ngerti banget mama tuh galak, nanti kena semprot aku nggak boleh pacaran, kita malah nggak direstui mau?"


"Apa imbalannya kalau aku ngumpet?"


"Terserah, kamu mau apa, please ngumpet sekarang!" rengek Rania sebal.


"Beneran ya terserah aku, awas kalau bohong!" ancam Rayyan seraya bangkit dari pembaringan.


"Aku ngumpet di mana, Ra?" tanya pria itu bingung.


"Duh ... di mana ya? Sini Mas, cepetan masuk!" Rania menarik Rayyan agar masuk ke dalam lemari pakaiannya.


"Diem, selama aku telepon jangan berani-beraninya buka, atau aku bakalan marah!" ancam Rania serius.


Rania pun kembali ke ranjang, menutup sebagian tubuhnya dengan selimut. Lalu menggeser tombol hijau dengan tenang.


"Hallo Ma, assalamu'alaikum ....!" sapa Rania di ujung telepon.


"Sayang, kamu udah tidur? Kok lama. Kamu kalau besok pulang dulu bisa nggak? Opa sakit, Ra, kamu kalau sempat pulang dulu ya, sebentar saja nggak pa-pa," ujarnya dengan nada sendu.


"Opa sakit? Iya Mah, nanti Rania izin, Rania usahain pulang," jawab perempuan itu langsung tak bersemangat.


"Ya sudah, kata Eyang pindah kost lagi, betah di tempat yang baru, Mama pengen lihat, tempatnya nyaman nggak?"


"Iya Ma, nyaman kok, ruangannya juga nggak terlalu sempit." Rania memperlihatkan bagian-bagian kamarnya.


"Ya udah sayang, Mama tutup teleponnya, selamat beristirahat, kalau pulang hati-hati di jalan!" pesan Mama Inggit yang saat ini tinggal di Bandung.


Rania menutup teleponnya lega, setidaknya aman untuk kali ini. Rayyan nepatin janjinya nggak tiba-tiba muncul. Rania pun bisa bernapas lega, berharap sekarang pria itu sudah tertidur di sana.


"Hehe, sorry Mas, lama," ujar perempuan itu nyengir tak enak.


Rania beranjak, namun Rayyan segera bangkit dan menariknya.


"Eh, kenapa?" tanyanya penuh selidik.


"Nagih imbalannya, katanya terserah aku, aku mau kamu, Ra!" ujar pria itu menatap penuh hasrat.


Rania membelalakan matanya saat pria itu bergerak mengikis jarak. Perempuan itu siaga satu, bersiap pasang ancang-ancang.


"Jangan sambil berdiri nggak enak, di ranjang lebih nyaman," ujar pria itu sembari mengangkat tubuh Rania begitu saja.


"Mas, kamu udah janji loh sama aku, nggak bakalan nakal!" Sungguh ini posisi yang paling krusial dalam dirinya, di mana Rania menghindar namun tidak bisa menolak pesonanya sedikit pun. Jelas Rania takut sesuatu yang tidak boleh terjadi, bakal ia langgar.


Pria itu membaringkan tubuh Rania di atas ranjang, lalu tersenyum seraya membuka pakaiannya. Rania langsung panas dingin, dua matanya membola tak percaya dengan pandangan di depannya.


Rania segera bangkit mengambil sikap duduk, perempuan itu masih menjaga kewarasannya penuh jadi tidak mungkin mengkhianati kepercayaan yang orang tua berikan.


"Mau ke mana, sayang, ayo tidur, aku nggak akan ngapa-ngapain kamu, aku cuma pengen peluk kamu doang, aku 'kan udah nurut, masa nggak percaya!" Rayyan menyakinkan perempuan itu. Merebah lebih dulu dengan santainya.


"Nanti kamu nakal, aku nggak mau," tolaknya cepat.


"Nggak Ra, sini sayang, tidur, udah malam." Rayyan menepuk-nepuk ranjang bagian gadis itu.


Dengan perasaan campur aduk, Rania memberanikan diri merebah. Mereka saling berhadapan, posisi yang sangat menggelikan di mana pria itu hanya bertelanjang dada. Tentu saja itu membuat hati dan organ tubuh Rania lainnya merespon berbeda.


"Ra, jangan jauhan dong, tenang sayang, aku jinak kok sama pacar sendiri. Lagian aku nggak mungkin nglakuin itu kalau kamu nggak mau," ujar pria itu seraya mengelus kepalanya dengan sayang.


Rania hanya menatapnya saja, awalnya Rania benar-benar takut, namun perlahan rasa nyaman itu ia temukan pada dirinya sesaat pria itu benar-benar bisa mengontrol dalam dirinya saat berhadapan dengan perempuan yang jelas-jelas mengundang sahwat. Rania mulai merasa Rayyan benar-benar tidak akan merusuh, pria itu bahkan sudah terlihat memejamkan matanya.


"Mas, besok aku mau izin ya? Aku mau pulang, kakek aku sakit," curhat gadis itu begitu saja.


"Hmm, besok Mas anter ya? Tidur sayang, aku dengerin obrolan kamu kok," gumam pria itu seraya menarik Rania dalam pelukan.


.


TBC


Hai readers yang budiman, sedikit pengumuman ya buat kalian yang kepingin tahu serunya pria kalem bertemu si jelita yang bar-barnya nggak ketulungan, udah launching loh cerita Azmi dan juga Nashwa.


Ada di judul "Imamku Tutorku"


Cuss~> di F*I**Z**O