
Rania bergeming saat Rayyan mencoba mengusirnya. Sungguh ia tidak tahu mengapa pria itu bersikap sangat aneh padanya. Jujur, Rania tidak ingin pergi, ia malah semakin penasaran mengapa Rayyan bersikap seolah-olah semuanya baik dalam kendalinya.
"Keluar Ra!" usirnya gemas. Rania tak beranjak sama sekali, ia masih berdiri menatap dengan wajah takut namun juga penasaran.
"Apa ini termasuk jam kerja? Boleh aku tahu kenapa kamu selalu bersikap aneh begini?" tanya Rania mulai tidak tahan dengan tingkah Rayyan.
"Jangan memancingku di pagi hari, kamu tahu 'kan resiko yang bakal kamu hadapi?" tekannya menahan gejolak diri.
"Ya, aku siap menerima hukuman apapun itu," jawab Rania datar dan menantang.
Rayyan menatapnya dalam, pria itu mengikis jarak. Netra keduanya saling bersirobok mengunci dalam diam. Sungguh Rania takut, namun juga merasa sangat penasaran dengan tingkah pria itu.
"Aku tidak akan memulai, jangan memancingku!" bisik Rayyan tepat di samping telinganya. Jarak mereka sangat dekat, Rania sampai menelan ludah gugup untuk menetralisir hati yang lancang berprasangka lain. Baru gadis itu keluar dengan rasa yang entah.
Sepertinya otaknya mulai tidak singkron, antara hati dan tubuhnya mulai bertolak menyangkal namun juga menyisakan rasa penasaran. Tak ingin terlalu banyak berpikir yang bahkan belum terjadi, perempuan itu pun melanjutkan kegiatan paginya. Bersiap-siap nugas hari ini dengan separo semangat tentunya.
"Lama amat Ra, deadline beb!" tegur Jeje begitu Rania menghampiri.
"Sorry, ada sedikit kendala. Udah sana mandi, gue mau siapin ini dulu. Lo udah sampai mana nulisnya."
"Berdasarkan pengamatan gue tentang kasus yang ada semalam," jawabnya sambil lalu.
"Oke, gue terusin." Rania sibuk merampungkan power point yang semalam dan memfotokopinya. Ia harus mempresentasikan ke dokter spesialis yang sudah ditunjuk.
Siang itu Rania kembali menemui Dokter Rayyan di ruangannya. Pria itu terlihat sudah lebih baik, rapi dan sepertinya baru saja menyelesaikan sarapan untuk hari ini.
Rania mengetuk pintu terlebih dahulu dengan hati tak menentu. Subuh tadi bahkan mereka sudah berseteru dan itu sedikit banyak mempengaruhi booster Rania pagi ini.
"Ini lapkas saya Dok, saya juga minta waktunya untuk presentasi makalah saya."
"Hmm," jawab Rayyan datar. Hari ini memang pria itu punya cukup banyak waktu. Biasanya ia hanya menunggu dan on call di setiap tugas malam. Namun, semalam Rayyan turun langsung bahkan di situ ada Rania yang bertugas. Entah itu kebetulan atau tidak, tetapi pertemuan mereka memang cukup intens dan akan terus berkesinambungan sampai stase ini berakhir.
Hampir dua jam mereka bimbingan, diskusi dan tanya jawab. Rania mulai terbiasa dengan sikap dingin dan serius Rayyan ketika memang dalam proses diskusi materi.
"Ra, kamu cari pasien lain ya? Saya kurang greget dengan diagnosa kasus pasien yang kamu rekomendasikan," ujar pria itu setelah sekian lama diskusi mereka.
"Maksudnya Dok?" tanya Rania mulai merasa tak enak.
"Ganti!" jawab Rayyan cukup jelas.
Oke fine, jadi maksudnya saya ditolak gitu?
Anak koas bisa apa sih, walaupun kesal sudah pasti harus patuh dan mengiyakan.
"Permisi Dok, nanti saya cari pasien lain," ucap Rania sambil bergegas.
"Ya," jawab Rayyan datar.
Perempuan itu keluar dengan muka setengah stress. Merasa Dokter Rayyan membuang-buang waktunya saja. Kendati demikian ia harus bisa mengolah emosinya biar tetap tenang.
"Sabar bre, gue juga kemarin ditolak," timpal Asa merasa biasa saja.
"Iya kan Tam?" Asa menabok punggung Tama, spontan membuat pria itu mengaduh.
"Kenapa? Sakit kah? Perasaan cuma nempel, lebay!" cibir Asa singkat.
"Kenapa Tam?" Rania ikut kepo.
"Nggak pa-pa, insiden kecil saja."
"Owh ....!" Entah mengapa Rania menjadi teringat kejadian minggu lalu yang menimpa dirinya.
Sore hari waktu yang ditunggu-tunggu Rania untuk pulang. Setelah jaga malam dan kembali nugas siangnya, tentu saja mengakhiri sore ini sesuatu yang dinanti. Perempuan itu sudah mengagendakan kepulangannya dengan impian istirahat yang nyenyak.
"Ra, naik ke ruang OK!"
Tiba-tiba Rayyan memanggil perempuan itu untuk mengikuti operasi nefrektomi (pengangkatan ginjal) siang itu. Tentu saja binar asa istirahat nan manja yang sudah digadang-gadang lenyap sudah tersisa rasa kesal dan harus ikhlas demi tugas dan kemanusiaan.
Anggap saja Dokter Rayyan terlalu sayang, dan ingin Rania banyak belajar dalam kesempatan sehingga selalu memberikan peluang gadis itu untuk terlibat dalam segala hal.
"Cepet Ra, siap-siap!" titah Rayyan bergegas.
Perempuan itu hanya bisa menghela napas panjang, mengiyakan setiap perintahnya.
"Kenapa lihatin saya kaya gitu, mau protes? Tidak mau, atau—"
"Mau Dok, suatu kehormatan bagi saya untuk bisa diikut sertakan dalam setiap kesempatan." Rania menyela dengan cepat.
"Good girl," jawab Rayyan tersenyum begitu manis.
Owh ... ayolah Rania fokus, itu kenapa senyumnya bikin gagal move on!