
Di belakangnya pasangan paling fenomenal di jamannya, ada pasangan sahabat lainnya. Gerald dan Kania, disusul Flora dan Bara. Lengkap sudah keempat sahabat itu saling berkumpul dalam suasana istimewa sahabat mereka. Si jomblo karatan akhirnya menikah juga.
"Ini bukan halu 'kan ya? Gue beneran datang dinikahannya Rayyan," seloroh Gerald terkekeh girang.
"Real, men. Nyata dan fakta. Ini istri gue," jawab Rayyan dengan percaya diri.
"Cie ... pamer bojo Bro ....!" Semuanya tertawa.
Bahagia keduanya tentu nular pada sahabat-sahabatnya yang datang. Rayyan adalah sahabat mereka yang terakhir menuju pelaminan. Semuanya sudah sold out semua bahkan beranak pinang. Sebut saja Disky, pertama nikah hasil tikungan tajam sudah menghasilkan dua anak kembar yang comelnya nggak ketulungan.
Pasangan Flo dan Bara juga sama sudah mempunyai anak. Untuk Geral dan Kania malah otw launching anak kedua. Rayyan dan Rania yang pastinya baru akan menyusul mereka menggendong momongan. Semoga disegerakan, salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan.
Jadi cukup sahabat dekat saja yang diundang, lainnya menyusul nanti saat resepsi akbar yang sudah digadang-gadang kedua pihak keluarga. Apalagi untuk keluarga Pak Wirawan yang jelas hanya punya anak tunggal, sudah barang tentu menginginkan perhelatan syukuran yang besar.
"Selamat ya Bro, ditunggu undangan resepsinya semoga bisa ngumpul lagi kaya gini," ucap Sky merasa senang. Persahabatan yang pernah berseteru itu redam ditutup dengan hari bahagia pernikahan.
"Terima kasih sudah datang, siap! Undangan pasti menyusul, tungguin gaes ... istri gua masih sekolah. Hahaha."
"Ehem-ehem yang dapat daun muda, hati-hati Dek, Om-nya ganas. Wkwkwk!"
Lagi-lagi semua tertawa mendengar banyolan Gerald. Benar-benar definisi dari sahabat sejati yang penuh dengan kerempongan. Setelah acara ngobrol heboh, tak lupa mengabadikan kebersamaan dengan berfoto ria. Semuanya terlihat serasi dengan pasangannya masing-masing.
Menjelang sore kehebohan berkurang, satu-persatu pamit pulang setelah menyematkan doa kebaikan untuk mempelai berdua. Hanya tinggal beberapa tamu yang tersisa, Rania juga nampaknya sudah mulai lelah dan memutuskan untuk meninggalkan panggung pengantin. Keduanya sama-sama turun dengan rona bahagia yang membalut wajah lelahnya.
"Aku lapar, makan yuk!" ajak Rania pada suaminya.
"Iya, samaan, tadi nggak sempat makan siang, langsung ada tamu aja. Ayo sayang, saatnya memanjakan perut sebelum memanjakan kamu di ranjang. Hehe." Rayyan mengerling.
Tepat saat Rayyan tengah mengambil makanan, seseorang yang masih terhitung kerabat datang hampir petang. Dia adalah Bintang dan Alan, untuk Tante Gea dan suaminya sendiri sudah hadir tadi pagi, namun Alan baru saja pulang dari luar kota dan langsung menyempatkan datang di acara saudaranya itu.
"Assalamu'alaikum ....!" Salam menggema memasuki ruangan.
"Waalaikumsalam ... eh, Kak Bintang," seru Rania merasa kenal.
"Aduh ... maaf baru datang, selamat ya atas pernikahan kalian." Kedua perempuan itu saling memeluk.
"Nggak pa-pa kak, terima kasih sudah datang," jawabnya kalem.
"Sayang, siapa yang datang?" Rayyan keluar dengan menenteng seporsi makanan.
"Hallo Kak, selamat berbahagia!"
"Bang, selamat ya Bang, semoga bahagia samawa till jannah."
"Aamiin ... kalian juga, langgeng dunia akhirat. Ngomong-ngomong aku mau makan, istriku kelaparan sekalian ambil aja Al, Bin."
"Sayang, langsung mau makan? Ada rujak tuh, kamu 'kan lagi seneng," tawar Alan pada Bintang yang baru mengambil duduk.
"Iya Mas, boleh yang seger-seger ya, es krim juga."
"Datang langsung eksekusi nih ceritanya? Enaknya datang paling akhir ya gini ya, langsung dapat jatah. Wkwkwk."
Alan mengambilkan beberapa menu untuk istrinya. Perempuan itu nampak antusias melahap hidangan yang tersaji. Mereka makan bersama dalam keceriaan. Bahkan Rayyan tak sungkan menyuapi istri barunya, mereka tak mengenal tempat, benar-benar definisi move on yang sesungguhnya. Walaupun dulu pernah ada rasa yang tertinggal, namun kehadiran Rania mampu menyembuhkan hatinya yang rapuh dan kecewa.
"Mas, aku udah kenyang, gantian kamu yang makan," sela Rania menggeleng kecil. Rayyan mengelap lembut sudut bibir istrinya dengan tissu.
"Lan, ambil lagi, noh masih banyak di dalam, Bin sikat aja yang disukai."
"Siapp kak, kebetulan emang lagi seneng yang aseman."
"Kakak lagi hamil ya?" tanya Rania terlihat akrab.
"Alhamdulillah iya, Dek, do'ain ya sehat-sehat. Semoga kamu cepet nyusul." Doa Bintang tulus.
"Aamiin," jawab Rayyan dan Rania kompak. Pria itu merangkum bahu istrinya, duduk saling berdekatan.
Menjelang maghrib Alan dan Bintang pamit pulang. Karena sudah tidak ada tamu yang datang, ada tapi tinggal sisanya yang dekat dengan mama ataupun papa, Rayyan dan Rania memutuskan untuk ke kamar. Membersihkan diri dan tentunya melepas semua pakaian dan asesoris pengantin.
"Dek, kamu mandi dulu sana, entar kesorean. Aku setelahnya nggak pa-pa," ujar Rayyan memberi waktu istrinya.
"Kamu duluan aja Mas, aku setelahnya," jawab perempuan itu seraya melepas paes di kepalanya. Terlihat dari pantulan kaca rias, Rayyan mendekat, merangkul dari belakang. Mencium kepalanya dengan sayang.
"Mau mandi bareng?" bisiknya seraya merusuh di ceruk lehernya.
"Besok-besok aja Mas, eh ya aku lagi nggak sholat Mas, jangan gini, nanti kamu gimana?"
"Eh, beneran? Aku nggak bisa berkunjung dong malam ini?" tanya Rayyan tak percaya.
"Bener, mandi sana, terus sholat, nitip doa ya, moga cepet kelar, suaminya udah nggak kuat nahan sayang."
"Dih ... aku puasa lagi, ini sampai kapan." Rayyan berjongkok menjatuhkan kepalanya di pangkuan istrinya. Kedua tangannya memeluk posesif.
"Baru tiga hari, Mas, sabar nggak lama lagi kok, paling sekitar empat sampai lima, kamu merdeka!"
Oke, aku sabar nungguin," jawabnya lalu beranjak membersihkan diri.
Rania juga sama, terlihat sibuk membersihkan make up. Usai bebersih keduanya tidak langsung tidur. Bergabung bersama keluarga besar dari Pak Rasdan. Untuk kedua orang tua Rayyan sendiri sudah pulang tadi sehabis maghrib.
"Pengantin baru istirahat sana, nggak capek apa?" usir Pak Al seakan memberi ruang untuk anaknya.
"Iya Pah, selamat istirahat!" jawab Rayyan menuntun istrinya.
"Sayang, DP dulu boleh? Aku kangen banget," pinta Rayyan saat mereka sudah di kamar.
"Hah, nanti apa nggak repot sendiri?" Rania memastikan.
"Kamu tanggungjawab dong, banyak solusi."
"Jangan aneh-aneh Mas, aku pemula."
"Sama kali, minimal tahulah pernah nonton gituan 'kan?"
Seperti biasa, Rayyan melepas bajunya dan hanya menyisakan tubuh bugil bila tidur. Sudah menjadi kebiasaan jadi Rania tidak kaget.
"Buka dikit Dek, janji nggak ngelampui batas, cuma mau kenalan versi halal."
"Ih ... kamu mesum!"
"Sini deh, deketan, aku nggak akan melampaui batas, cuma mau cium sama pegang-pegang doang," ucapnya yang terdengar menggelikan.