Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 158


"Sayang, darahnya yang keluar udah nggak banyak kan?" tanya Ray saat kunjungan berkedok perawat. Perawat eksklusif yang hanya spesial untuk istrinya. Bahkan dengan telaten Ray memantau perkembangan pemulihan beberapa jam berlalu.


"Aman, udah banyak keluar, tapi aku merasa tubuhku lelah, aku butuh tukang pijet yang paling nyaman setelah pulang."


"Oke baiklah, nanti kita tanya rekomendasi dari mama kalau soal itu. Kamu memang perlu istirahat lebih banyak lagi."


"Mas, sebenarnya aku pengen pulang," ujar Rania merasa sudah sehat.


"Tunggu dong Sayang, kenapa harus buru-buru. Biar pulih dulu."


"Aku merasa sudah lebih baik Mas," ujar perempuan itu setelah sehari semalam dirawat di rumah sakit.


"Kalau di sini aku bisa sambil kerja, sambil momong istri. Hehe."


"Ish ... senyaman nyamannya di rumah sakit, tetep kamar aku lebih nyaman," jawab Rania benar adanya.


"Iya nanti sore deh, aku lagi bikin penyambutan di rumah, belum jadi nggak boleh pulang, nanti surprisenya gagal," ujar pria itu heboh sendiri.


"Gegayaan pakai bikin sambutan segala, bikin apaan?" Rania tersenyum menatap suaminya yang penuh kejutan.


"Iya lah, kan istri tercinta aku yang cantik ini mau pulang bersama anak kita, jadi ... aku harus buat sambutan untuk orang yang sudah berjuang banyak buat aku."


"Manis banget sih, Mas, makin sayang deh," ujar Rania merasa begitu disayangi dan dicintai.


"Aku mah selalu manis, gulali aja kalah saingan sama aku. Lagian ya, berdasarkan informasi artikel yang pernah aku baca, setelah melahirkan perempuan akan lebih sensitif jadi perlu tingkat kepekaan yang tinggi untuk para suami dalam membantu dan melayani. Termasuk ikut andil dalam urusan si bayi," papar pria itu benar adanya.


"Super sekali suamiku, emang limited edition," ucap Rania yang seketika membuat Ray melayang. Pria itu tersenyum renyah.


Hari kedua di rumah sakit ibu muda itu mendapat kunjungan dari saudaranya. Alan dan Bintang hadir menjenguk anak mereka yang baru lahir. Kedua sejoli itu sempat tidak bisa hadir di acara resepsinya lantaran tengah di luar negeri untuk keperluan bisnis.


Kali ini mereka datang lebih awal memberikan selamat untuk pasangan yang tingkat keserasiannya lebih dari sembilan puluh sembilan persen.


"Terima kasih Mbak Bintang sudah hadir, aamiin ya Allah ....!" jawabnya takzim.


Nampak Tante Gea ibu mertuanya Bintang juga hadir di sana menjenguk ponakannya. Kalau dulu mungkin pernah ada perasaan tidak enak lantaran masa lalu, semua telah melebur. Keluarga tetap terjalin silaturahminya hingga mengakar ke anak cucu mereka.


Bu Wira siang itu juga kembali menjenguk. Kehadiran Juan benar-benar anugerah terindah untuk keluarga Wirawan. Betapa kakek dan nenek itu begitu senang dan terasa semakin semangat menjalani hari-harinya.


Semua masih berbincang hangat satu sama lain. Bahkan dalam sekejap saja bayi mungil itu telah menjadi idola Kakek Wirawan dan juga Kakek Al.


"Wah ... sayang, lagak-lagaknya Juan menyisihkan aku di sisi mama deh, noh begitu masuk bukan aku yang ditanya, langsung Juan yang dicari. Ish ish ish!" Pria itu merasa cemburu dengan candaannya.


"Kamu kan udah besar Ray, bisa urus dirimu sendiri. Mama lagi bahagia banget ini, cucu kesayangan," ujar Bu Wira sembari menimang bayi mungil itu dengan sayang.


"Mah, coba deh aku mau gendong, sini mah mau bisikin anak aku yang ganteng seperti papanya."


"Bentar lah, kamu mah semalaman juga nungguin, Mama baru datang main serobot saja." Ibu dan anak itu malah terlibat sengketa mulut yang terdengar lucu.


Bu Wira menepi sembari duduk di sofa dengan Pak Wira beserta Inggit dan Albiru yang baru datang. Sementara tamu lainnya sudah pamit pulang. Mereka tengah mengerubungi Juan sambil mengobrol.


"Dek, kita perlu bikin yang banyak deh, supaya itu para nenek dan kakek tidak berebut juga," seloroh pria itu sembari mengambil duduk di bibir ranjang. Menatap senyum dengan kerlingan nakal.


"Puasa Mas, tahan tahan, tahan sampai nanti tiga bulan," ujar Rania tersenyum melihat Ray yang tercenung dengan paparan Rania.


"Dih ... ngarang banget, mana ada tiga bulan, maksudnya sembilan puluh hari dipotong lima puluh biasanya. Sudah mulai aku hitung mundur, biar aku tidak ketinggalan jam berkunjung."


"Astaghfirullah ... pengen nimpuk nih muka mesumnya," ucap Rania gemas.


"Sini timpuk pakai bibir ya, absen dua hari, eh iya bener dua hari nggak bertemu. Sini Dek, kangen!"


"Mas, jangan resek, itu ada orang tua kita di sana. Ya ampun pengen ngungsi dulu di Mars biar masa nifasnya tenang," gumam Rania menggeleng resah.