
Keduanya sama-sama terlena dalam rasa yang menggelora. Mengabaikan perasaan resah yang mendera. Rintikan hujan yang menyapa tubuh mereka seakan menjadi saksi betapa keduanya saling merindu dan merasakan hal lebih dari sudut dan sisi yang berbeda.
Keduanya saling memberi jarak saat Rania merasakan getaran ponsel pada saku jasnya. Rayyan melepasnya dengan tidak rela. Gadis itu segera beranjak lebih merapat ke tepian dari yang semula, melihat siapa gerangan yang menghubunginya dan membuyarkan reuni lidah mereka.
"Siapa sayang?" tanya Rayyan melongok.
"Jeje, aku angkat bentar ya?" ujar gadis itu seraya mengusap tombol hijau pada layar ponselnya.
Rayyan hanya menatap dalam diam, sembari merapikan pakaian Rania yang teramat berantakan karena ulah dirinya yang merusuh di sana.
"Hallo, Je, lo lagi di mana? Maksud gue, stay di IGD 'kan?"
"Iya lah shift malam, baru mulai juga, kenapa Beb?" tanya Jeje di sebrang sana yang terdengar riweh.
"Tolongin gue dong, kekunci di rooftop rumah sakit, pintu keluarnya mendadak macet, atau minta tolong sama siapa gitu tolong suruh bukain," pintanya sembari menahan geli. Tangan Rayyan terus membelai pipinya.
"Owh oke, beb, gue usahain ya, nanti tak minta tolong security rumah sakit," jawab Jeje yang seketika membuat Rania merasa lega.
Perempuan itu menutup panggilan teleponnya, beruntung handphonenya tidak mati karena pakaian mereka sudah setengah basah. Rania memasukkan alat komunikasi itu ke dalam tas, yang juga berisi laptopnya di sana. Mengamankan dari rintikan air hujan ke tepian.
Rayyan masih betah menatapnya, posisi mereka saat ini sudah sama-sama berdiri di tepian pintu masuk menunggu pertolongan.
"Kenapa sih, lihatin aku gitu banget," tegur Rania menjadi salah tingkah.
"Suka aja, emangnya kenapa? Muka kamu merah!" ucap Rayyan tersenyum lembut.
Rania langsung menangkup pipinya sendiri malu, gadis itu berbalik memunggungi pria itu. Rasanya tak nyaman menampakkan wajahnya yang bersemu di depannya.
"Hai, kenapa malu, bikin gemes aja," bisik pria itu sembari memeluk tubuhnya dari belakang. Menjadikan bahu Rania sebagai sandaran dagunya.
"Dok, jangan gini, ada orang yang mau ke sini, nanti salah paham."
"Cuma gini kok, sayang, aku—" Tiba-tiba suara berisik di luar pintu terdengar. Membuat Rania lekas beranjak membuat jarak aman.
Sekitar lima menit mereka menunggu, akhirnya pintu itu terbuka tanpa hambatan yang berarti. Pak Security yang mengenal betul anak pemilik rumah sakit itu hanya termangu memergoki keduanya keluar tanpa berani mengucap kata apapun.
"Bengong aja Pak Saad, mingkem! Makasih ya, besok benerin tuh pintu biar nggak bikin orang terkurung!" ujarnya seraya menepuk pundak pria yang sudah bekerja belasan tahun itu.
Rania dan Rayyan menuruni tangga dengan pelan. Setelahnya menuju lift yang akan mengantarkan mereka turun. Rania langsung memencet ke lantai dasar, sementara Rayyan memencet tombol yang berbeda di ruangannya. Keduanya sama-sama terdiam saat suasana di lift yang beruntungnya malam itu hanya berdua.
Lift terbuka, Rania masih stay di dalam karena memang tujuannya langsung pulang. Tanpa dinyana pria itu menariknya, membuat seketika Rania ikut keluar.
"Nanti aku antar, aku ambil kunci mobil dulu sama ponsel aku ketinggalan di ruangan aku."
"Aku tunggu di bawah aja ya, lagian aku bawa motor," sela Rania ngeyel.
"Kalau nggak nurut, terpaksa aku gendong, nggak peduli ada orang," ancam pria itu sedikit memaksa.
Rania menurut saja ketika dibimbing ke ruangan pribadinya.
"Tunggu bentar ya, aku ganti baju dulu," ujar pria itu santai. Rania membuang muka saat Rayyan melepaskan kemejanya begitu saja tanpa beranjak.
"Aku keluar dulu deh," ujar Rania hendak beranjak.
"Tunggu sayang, aku cuma ganti sebentar," cegah pria itu memblokir jalannya.
Astaga! Ini orang bukannya minggir, malah pamer body gini! Ngeselin banget sih!
"Ya udah cepetan sana!" cebik Rania manyun.
Rayyan tersenyum, berganti pakaianya dengan cepat. Pria itu menyodorkan kemeja miliknya yang sudah pasti kebesaran itu.
"Ganti dulu, nanti masuk angin!" titahnya yang jelas ditolak Rania.
"Nggak mau, mau ganti di rumah aja, udah belum sih cepetan!" rengeknya tak sabaran.
"Udah kok, nggak sabaran banget sih sayang, nggak nyaman ya?"
"Hmm," jawab Rania kesal.
Untung jarak kostnya Rania tidak terlalu jauh, jadi hanya dengan waktu kurang lebih tujuh menit saja berkendara mobil Rayyan sudah memasuki halaman kost perempuan itu.
"Makasih ya udah nganter, see you!" ucap Rania turun dari mobil.
"Ra, aku belum mau pulang," ujar pria itu lagi-lagi nglunjak.
"Dih ... pulang lah, nanti kita digrebek warga berduaan di kamar kost."
"Baru jam berapa, aku main bentar ya? Nanti tugasnya aku bantuin, sekalian janji deh nggak aneh-aneh!"