Terjerat Pesona Dokter Tampan

Terjerat Pesona Dokter Tampan
Part 121


"Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku tadi nggak membiarkan kamu naik ojol. Nggak bakalan kaya gini ceritanya kalau pulang bareng sama aku," sesal Ray merasa bersalah.


"Kok nyalahin diri sendiri? ini tuh namanya musibah, Mas, kita nggak pernah tahu. Lain kali aku akan lebih mendengar nasihat kamu. Maafin aku juga ya?" ujar perempuan itu sendu.


"Eh ya, tidak begitu parah, tolong jangan kasih tahu Mama Inggit dan juga Mama Wira."


"Kalau Mama Inggit mungkin bisa, tapi kalau Mama Wira nggak deh kayaknya. Tanpa aku kasih tahu juga tadi papa udah ke sini pas kamu masih belum sadar. "


"Duh ... jadi nggak enak, takutnya malah bikin heboh padahal nggak pa-pa, 'kan?"


"Nggak pa-pa gimana? Orang dagu sama jidat perban gitu. Itu jahitan kamu lumayan lho, masih bilang nggak pa-pa."


"Ya sudah istirahat dulu aja, aku mandi dulu, gerah!" ujar Ray membuka jas kebanggaannya. Lalu membuka satu kancing kemeja bagian atas.


Rania menarik diri agar terduduk, masih lumayan sakit tapi sepertinya tidak boleh manja dan harus tahan banting.


"Mas, sini deh deketan," ujar perempuan itu berseru.


"Kenapa sayang, aku mandi dulu."


Ray mendekat dengan muka penuh tanda tanya. "Sini, aku bukain kancingnya," ujar Rania perhatian.


"Kamu lagi sakit lho ini, kenapa jadi perhatian begini?"


"Yang sakit kan, kening, dagu, sama kaki, alhamdulillah tangannya nggak, jadi mau cari pahala bantuin lepasin ini," ujar Rania santai.


"Ah ... kamu so sweet banget sih, terharu Dek, makin sayang dan makin cinta. Sini cium dulu!" Ray mengecup puncak kepalanya dengan sayang.


"Udah Mas, buka! Sana kalau mau mandi," titah perempuan itu tersenyum.


"Makasih sayang!"


"Assalam—astaghfirullah ... Ray? Kamu nakal sekali!" tegur Mama Wira salah arti.


"Sudah tahu Rania sakit sampai dijahit-jahit kamu malah nempelin kaya gini!" omel Bu Wira galak. Menjewer putranya yang terlihat tengah tersenyum menatap lembut istrinya. Posisinya yang tidak begitu berjarak membuat ibu dari satu anak itu gagal paham.


"Aduh Ma, ampun ... Ma, sakit!" Ray mengaduh seperti anak kecil.


"Pakai bajunya, jadi orang kok nggak pengertian banget!" keluh Mama Wira sewot.


"Mama ini yang nggak ngerti, Ray mau mandi salahnya di mana?" bela pria itu menggebu.


"Kamu tuh mau nyosor terus kaya soang, awas aja mantu kesayangan Mama lagi sakit digangguin, biar pulih dulu."


"Mama sayang kuh ... anakmu yang tampan dan rupawan ini mau mandi, Ma, dan Adek Rania istriku tercinta ini tadi bantuin buka kemejanya. Sambil nungguin Axel bawain baju ganti aku ke sini, tahu tuh anak ngambil di ruangan aku aja setahun."


"Siap dokbos ini pakaiannya!" Axel muncul dari balik pintu yang sedari tadi terbuka.


"Lama banget sih Cel, buat ibu negara salah paham nih! Temenin Mama!"


"Kamu ngawur saja, habisnya takut aja nggak ngerti tempat. Rania sayang, kalau Ray nakal jangan mau nurutin ya, kamu lagi sakit," pesan Mama Wira serius.


"Iya Ma, nggak kok, dia pengertian dan sayang banget sama aku," jawab Rania yang membuat suaminya geer maksimal.


"Aduh mengsalting, dan jingkrakan dapat pujian dari istri kesayangan," ujar pria itu nyengir. Pamit ke kamar mandi dengan meninggalkan senyuman.


Sementara Rania terlibat mengobrol dengan mertuanya. Menceritakan kronologi kejadian yang menimpa dirinya.


"Untungnya mbah-mbahnya nggak pa-pa, Ma. Kalau ojolnya juga luka tapi nggak sampai dirawat. Tadi udah minta maaf sama Mas Ray juga."


"Syukur lah ... Mama sedikit tenang, tadi sempat khawatir banget waktu papa ngasih kabar itu. Makanya Mama langsung ke sini."


"Maaf ya Ma, bikin Mama khawatir," ucap Rania sendu.


"Besok pakai jasa super aja, jadi kamu sama Ray bisa tenang, kalau salah satu masih sibuk bisa pulang bareng supir."


"Iya Ma, aku mau."


"Yang pasti nggak ngobrolin kamu, nggak usah kegeeran."


"Dih ... Mama sensi! Cuma nanya kali Ma?"


"Ngomong-ngomong, Mama kapan pulang? Ini udah malam loh Ma, tuh jam sembilan lewat!"


"Astaga! Kamu mengusir Mama? Dasar anak sholeh, awas aja usilin istrimu tak bawa pulang Rania-nya kerumah Mama!"


"Bukan mengusir, tapi noh ditungguin papa. Dalam hitungan sepuluh detik orangnya pasti muncul nemuin Mama."


Benar saja Pak Wirawan beberapa saat kemudian masuk sambil memantau perkembangan menantunya.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak? Masih ada yang terasa ngilu atau terasa sakit?"


"Nggak Pah, udah mendingan kok. Kan yang ngerawat dokter Ray," jawab Rania jujur.


"Syukur lah, cepet sehat Nak, nggak usah mikirin lain-lainnya dulu. Koasnya bisa izin nanti sama dokter pembimbing yang bersangkutan."


"Iya Pah, terima kasih!"


"Ya sudah kami pulang dulu," pamit kedua orang tua Ray setelah berbasa basi sejenak.


Sepulang mertuanya, Rania turun dari ranjang. Perempuan itu kelihatan lebih baik dari sebelumnya.


"Kakinya sakit nggak buat jalan, aku gendong aja sini."


"Jangan Mas, nggak pa-pa, sakit dikit bisa jalan kok. Biar nanti nggak kaku!" cegah Rania menggeleng tanpa ragu. Ke kamar mandi sendiri bisa walau jalannya pelan.


Ray sudah standby di depan pintu dan membantunya.


"Mas, aku lapar, makan apa ya?"


"Sama sih sebenarnya, bentar aku delivery dulu, kamu mau makan apa sayang?"


"Nasi lauk biasa aja Mas, aku cuma makan siang doang tadi."


"Bentar ya sayang, aku lagi milih menu."


Ray nampak sibuk menggeser layar ponselnya. Setelah hampir setengah jam pesanannya datang dengan Axel yang mendadak repot dengan insiden itu.


"Mas, besok pulang aja ya? Semewah perawatan di sini, aku tetap nyaman di rumah."


"Sehari dua hari dulu biar aku pantau lukanya. Dagu kok dijahit-jahit gini, kerajinan amad," seloroh Ray guyonan sambil menyiapkan makan malam. Axel sendiri diperbolehkan pulang oleh Ray dan akan kembali besok.


"Sini sayang, makan dulu aku suapin ya?"


"Tangan aku nggak sakit, Mass!" ujar Rania gemas.


"Nggak pa-pa pengen manjIn kamu dengan limpahan kasih sayang dan full perhatian."


"Makasih Mas, nggak jadi makan udah kenyang kena gombalan kamu."


"Bersyukur aja Dek, karena musibah ini kita makin dekat dan perhatian. Eh, ya ngomong-ngomong habis kamu sembuh nanti, kita harus jumpa pers biar semua orang nggak salah paham!"


"Iya Mas, setuju. Nggak ada yang harus ditutupi lagi, aku kan emang istri kamu," ujar Rania terharu. Berada dipelukan orang yang tepat diperlakukan dengan lembut seperti ratu.


.


TBC


Sambil nunggu novel ini up mampir di karya temanku yuk